Puisi Terserak di Layar Maya

0
61

Free-Vasi

Sejepret foto mengawal Januari
foto itu berdoa menengadahkan tangan ke layar,
meminta agar dirinya
tidak lusuh di tahun ini,
tidak kusam hingga hitungan
angka kalender dinding berhenti

Dengan khidmat,
suara “Amin” bergema pada jempol
yang makin ditekan, makin bersinar.
Kolom-kolom di layar berkomentar saling mengisi.

Satu petak berbicara:
“Apakah manusia itu seperti foto?
setelah berpacu ‘klik’ dan jepret, ia diberi bingkai
Lalu dipandang dan dipajang takjub di sebuah dunia dan selesai?
Tanpa sadar, lewat waktu, mereka bingkai yang menjadi bangkai.”

Masing-masing petak saling pandang, tanpa memberi jawaban pasti.

***

Layar

Siang sudah keluar dari bayangnya
Setangkai komentar masuk ke dalam layar,
berdiri manis di depan layar,
bergaya lincah.
Kadang liat, sesekali liar

“Cukup jempol… dunia hanya butuh jempol, berapapun itu….”
telunjuk meranggas tangkai komentar.

“Jempol mengisi habis tatanan kolom-kolom manusia, bahkan kalam manusia.
Kalau begitu, mulut punya musuh dan diam bukan lagi sebuah keasingan.”
Layar menghabisi nyawanya sendiri dengan menekan tombol
“selesai”

Ka(p/f)an

Dini hari…

Mimpi bertemu di lopak mata
yang lapuk sebab tontonan manusia.

Bulu-bulu mata bersorak tentang
“Kapan kemenangan” itu.

Sementara,
Bola-bola mata berserak mencari
“Kafan kepulangan” itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here