Fitnah

1
116

Saleh tengah sibuk mengurusi barang dagangannya. Berbagai macam gorengan tersusun rapi di dalam keranjang plastiknya. Ia juga menyiapkan segepok kantong plastik transparan sebagai kemasannya nanti. Tak lupa ia menaruh sekantung cabai rawit untuk menambah cita rasa pedas bagi mereka yang suka.

Ia pamit, dengan seragam putih biru, rapi mengenakan topi dan dasi. Mencium tangan ibunya, Saleh meminta didoakan secara langsung.
“Tanpa kamu minta, Leh, Ibu akan selalu mendoakanmu.” Ciuman di tangannya dibalas oleh usap dan kecupan di kening.

Saleh kini bergegas menuju sekolah. Meski mentari belum genap menampakkan wujudnya, Saleh menolak bermalas-malasan.
Ada satu ungkapan yang selalu ia pegang. Seseorang yang menyibukkan dirinya di pagi hari dengan penuh keyakinan, maka dia akan sukses di kemudian hari. Ada banyak tokoh semacam itu yang ia kagumi. Dan, Saleh bertekad untuk menjadi satu di antara mereka.

Di sepanjang jalan menuju sekolah, Saleh menjajakan dagangannya. Beberapa warga sudah tahu kesibukan anak itu. Mereka membelinya dengan berbagai niat. Ada yang membelinya karena rasa gorengan itu tiada tanding, ada juga yang membelinya karena iba. Namun, setelah tahu rasa gorengannya berbeda dengan yang lain, mereka membelinya karena rasa juga.

“Ini siapa yang membuatnya, Leh?” Pak Undang, pendatang baru bertanya sambil melahap tahu isi.
“Saya sendiri, Pak. Dari resep yang dikasih Ibu.” Saleh menjawab dengan nada sopan.
“Kamu ini saya lihat-lihat calon orang sukses, Leh. Walaupun masih SMP, tapi tidak malu usaha sendiri.” Itu kalimat terakhir Pak Undang sebelum ia membayar sebesar dua puluh ribu rupiah untuk beberapa gorengan yang ia makan langsung dan dibungkus.
Saleh menerima uang itu sambil mengamini doa Pak Undang. Senyumannya lebih cerah dari matahari yang mulai memperlihatkan terangnya.

Di sekolah Saleh langsung diserbu teman-temannya. Memang bukan hanya di kampung gorengannya terkenal lezat. Para guru dan teman-temannya juga sudah tahu itu. Maka, tak menunggu lama dagangannya pun habis.
Uang terkumpul. Senyum tersimpul. Saleh tengah menghitung penghasilannya. Ada uang untuk membeli obat ibunya, juga untuk makan nanti malam.
***

Meski dia terkenal baik dan tak suka berkelahi, tak ada yang berani macam-macam dengan Saleh. Semua orang tahu kalau Saleh berteman baik dengan Dono, preman sekolah yang sangat disegani.
Dono pernah berkelahi dengan sepuluh orang kakak kelasnya. Namun satu pun tak ada yang berhasil menjatuhkan anak laki-laki itu. Sehingga tersiar kabar bahwa Dono sebenarnya ngaji elmu kadugalan yang diberikan orang tuanya. Namun yang sebenarnya terjadi Dono hanya sering latihan saja, ia tidak pernah mengenal ilmu-ilmu semacam itu.

Di balik Dono yang sangar itu, ia sangat menyegani Saleh. Ada yang bilang kalau mereka masih terikat saudara. Ada juga yang mengatakan kalau Dono pernah kalah tarung oleh Saleh. Namun yang jelas, Dono hanya segan dengan orang-orang semacam Saleh. Sebab menurutnya orang sebaik itu memang harus diperlakukan baik.

Perjalanan hidup Saleh nyaris sempurna. Kegiatan sekolahnya terjaga, hobi membacanya tersalurkan, begitu pula dengan dagangannya yang tak pernah bersisa. Namun, cobaan selalu saja ada.
Selain ibunya yang kini mulai sakit-sakitan dan ayahnya yang sudah lama pergi, embusan fitnah mulai disebarkan oleh mata yang tak rela dengan keberuntungannya. Rangkaian fitnah itu semakin lama semakin menjadi-jadi hingga membuat Saleh selalu membawa kembali keranjang dagangannya dalam keadaan masih penuh.

Fitnah itu mengatakan bahwa Saleh menggunakan guna-guna untuk membuat dagangannya laris. Itu jelas fitnah. Sebab Saleh tak pernah tahu hal-hal semacam itu, dan tidak pernah mau tahu.
“Rasa enak itu, kalau masih di sekolah. Kalau dibawa ke rumah, gorengannya tidak enak.”
“Yang saleh itu namanya saja, dia itu sebenarnya pake guna-guna buat dagangannya.”
“Sumpah! Kalau tahu dari dulu, aku gak akan pernah beli dagangannya.”
Hingga semua tuduhan itu sampai di telinga Saleh, membuatnya sedih.
***

Dono tak tinggal diam. Ia tak tega melihat Saleh selalu pulang dengan keranjang yang masih penuh dan uang tak seberapa. Jangankan untung, untuk balik modal saja uang itu tidak cukup.
Dono diam-diam mencari siapa orang yang sudah mewabahkan tuduhan keji itu. Setiap sisi sekolah ia sisir dengan amat saksama. Pendengarannya menajam mendengar desas-desus obrolan kecil semua orang. Namun, hingga tiga hari berlalu ia tak juga mendapatkan siapa di balik fitnah itu.

Seminggu berlalu ia bertemu dengan Saleh yang tampak lunglai. Tak ada keranjang dagangan di tangannya. Ia lusuh mengenakan baju tak serapi biasanya. Wajahnya pucat dan mengkhawatirkan.
“Kau kenapa, Leh? Mana keranjang daganganmu?” Dono bertanya duluan.
“Aku sudah tidak jualan, Don. Aku kerja.” Saleh benar-benar lelah. Namun senyumannya masih tampak.
“Kerja di mana?”
“Di gudang padi. Angkut-angkut karung beras. Lumayan penghasilannya, buat beli obat Ibu.”

Dono terenyak mendengar pengakuan Saleh. Muncul iba yang teramat dalam di relung hatinya. Tak sampai hatinya melihat orang sebaik Saleh harus menderita seperti ini.
“Kau sudah makan?”
Saleh menggeleng. Itu adalah jawaban yang cukup untuk jujur dan mempertahankan rasa malu. Dono tak banyak bicara lagi. Ia menarik lengan Saleh ke kantin. Lantas memesankannya sepiring nasi uduk. Beberapa anak buah Dono menawari makanan lainnya, tentu mereka yang membayar.

Saleh sangat berterima kasih. Ia ingin sekali menolak pemberian itu, malu, tapi perutnya tak butuh rasa malu. Dan baiknya, Dono tak pernah menerima penolakan.
Sejurus kemudian salah satu anak buah Dono menghampiri, memberikan beberapa bisik kalimat ke telinganya. Dono mengangguk. Ia tahu siapa yang telah menyebar fitnah itu.
***

Pagi itu suasana kantin memanas. Dono dan beberapa anak buahnya mendatangi warung Bi Inah. Ia mendobrak bangunan warung yang tak seberapa kokoh itu. Dono memaki dan membentak Bi Inah dan suaminya.
Berselang beberapa menit, Pak Halim datang untuk menenangkan. Hampir saja warung itu dibakar Dono dan anak buahnya yang membawa dua liter bensin.
“Dono! Kamu lagi … kamu lagi!”
“Tolong saya, Pak! Anak ini mau bakar warung saya!” teriak Bi Inah memelas.
“Coba cek hape Bapak. Lihat pesan sama video yang saya kirim.” Dono menyela.

Pak Halim lantas memeriksa pesan yang dikirim Dono. Ia memutar videonya pula. Betapa terkejutnya Pak Halim melihat Bi Inah yang sedang mempengaruhi anak-anak bahwa Saleh memakai guna-guna untuk dagangannya.
“Tega sekali, Bi Inah. Padahal Saleh itu terkenal anak baik dan berprestasi. Bi Inah tidak tahu, betapa susahnya hidup anak itu yang mengurusi ibunya seorang diri.” Pak Halim tampak kecewa.
“Ta- tapi, Pak, gara-gara anak itu dagangan saya jadi tidak laku!”
“Itu bukan alasan untuk memfitnah orang, Bi!”

“Saya sudah tahu sejak lama kalau pelakunya Bi Inah.” Saleh tiba-tiba muncul di antara kerumunan. “Saya melihat langsung bagaimana Bi Inah memfitnah saya di depan anak-anak lain.”
Semuanya terdiam, mendengarkan.
“Tidak apa-apa jika saya harus berhenti jualan. Kalau itu memang membuat Bi Inah tidak nyaman. Saya bisa mencari uang di tempat lain.”
Semuanya menatap Saleh, merasa bersalah.

“Urusan ini tidak perlu diperpanjang, Don, Pak Halim. Kita lupakan saja. Yang penting semuanya sudah tahu kalau fitnah itu tidak benar.”
Bi Inah menangis meminta maaf. Ia hendak mencium kaki Saleh, namun anak itu segera merangkul tubuh Bi Inah untuk berdiri. “Sudah Saleh maafkan, Bi.”
*****

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here