Jamur Beracun di Pesantren

1
136

Setelah menyampaikan sebagian materi di kelas, ustaz dengan wajah yang dibingkai janggut tipis nan berkumis rapi itu pergi ke parkiran motor. Ada yang tertinggal di dalam bagasi. Sekembalinya, ia membawa sejinjing keresek hitam yang entah apa isinya.
“Ustaz Aris!” seru seorang santri. “Assalamualaikum!” lanjutnya lupa.
“Waalaikumsalam, Fadil. Kenapa belum masuk kelas?”
“Eh, itu, anu. Fadil dihukum, Ustaz,” ujar Fadil dengan diiringi senyuman malu.
“Innalillahi, kenapa? Tidak biasanya kamu dihukum.” Kini keduanya berbincang sembari berjalan. Ustaz Aris, bagaimanapun tak bisa meninggalkan kewajibannya di kelas. Namun, ia pun tak bisa begitu saja meninggalkan Fadil yang tampak ingin sekali bercerita padanya.
“Anu … Fadil dituduh mencuri, Ustaz. Padahal Fadil berani sumpah demi Gusti Allah kalau…“
“Iya. Ustaz tahu siapa kamu,” potong Ustaz Aris sebelum Fadil bercerita terlalu banyak. “Ustaz tahu maksud kamu. Tunggu saja di luar, ya. Nanti setelah kelas selesai, kita bicara di masjid.”
“Alhamdulillah! Terima kasih Ustaz!” seru Fadil sembari mencium tangan Ustaz Aris.
***

Bel tanda pergantian pelajaran sudah berbunyi. Ustaz Aris tak ada kelas setelah ini. Kosong. Sekeluarnya ia dari kelas itu, Fadil sudah menunggu di bangku taman. Sontak Fadil berdiri memberi hormat pada gurunya.
Ustaz Aris melambaikan tangan, Fadil mengartikannya sebagai tanda untuk mengikutinya dari belakang. Namun Ustaz Aris menyanggahnya dengan menarik lengan Fadil, ia ingin santrinya itu untuk berjalan di sampingnya.

Sebagai seorang anak berusia 15 tahun, Fadil memiliki sopan santun yang sangat indah. Ustaz Aris saja sampai bingung, kenapa bisa ada tuduhan yang tak masuk akal pada anak didiknya itu. Ia tahu betul siapa Fadil sejak menjadi wali pondok.
Sesampainya mereka di beranda masjid, keduanya duduk bersila. Fadil masih menundukkan kepalanya. Ustaz Aris terlebih dahulu merapikan tas dan barang bawaannya. Keresek hitam tadi, masih ia bawa sampai saat ini.

Dengan sangat rinci, Ustaz Aris meminta Fadil menceritakan semuanya dari awal. Fadil begitu berapi-api menceritakan kejadian itu dan berusaha meyakinkan bahwa ia bukanlah pelakunya. Ustaz Aris tampak sedih dengan kejadian yang dialami murid kesayangannya.
“Kamu sudah coba jelaskan sama Ustaz Hanis kalau semua itu hanya fitnah?”
“Sudah, Ustaz. Tapi, Ustaz Hanis tidak mau mendengar penjelasan dari Fadil.” Air mata bergelimang di matanya, tepat setelah kalimat itu selesai.

Baik Ustaz Aris maupun Fadil, keduanya dibuat kebingungan. Bagaimana tidak, mereka berdua sama-sama tidak memiliki kuasa. Fadil hanyalah santri biasa tanpa privilege yang dititipkan kedua orang tuanya dengan harapan menimba ilmu agama sedalam mungkin. Sedangkan, Ustaz Aris hanyalah pengajar baru yang masuk setengah tahun lalu.

Ustaz Hanis memang dikenal dengan wataknya yang keras. Terkadang sifat itulah yang membuatnya banyak berbuat kesalahan dalam mengambil keputusan. Namun begitulah ia, tak pernah kapok dengan pengalamannya.
“Kita coba bicara lagi sama Ustaz Hanis,” tandas Ustaz Aris seraya melirik ke dalam masjid, matanya mendapati sesosok tubuh tinggi besar yang tengah berjalan ke arahnya.
“Assalamualaikum!” ucap orang itu keras.
“Waalaikumsalam.”

Ia ikut duduk sila menghadap Ustaz Aris dan Fadil. Fadil terdiam ketakutan. Tampak jelas di wajahnya bahwa ia sangat gugup setelah kedatangan orang berperawakan gagah itu.
“Jadi, kapan kamu mau telepon orang tua kamu kemari, Fadil?” tanya sosok tinggi besar itu yang walaupun duduk tetaplah yang paling tinggi di antara ketiganya.
“Maaf kalau saya ikut campur, Ustaz Hanis. Tapi Fadil ini….“
“Iya! Ustaz memang ikut campur!” potong sosok tinggi besar itu yang ternyata adalah Ustaz Hanis.
“Boleh saya menjelaskan dulu?” Ustaz Aris tetap mencoba tenang.
“Tidak perlu. Saya sudah punya banyak bukti bahwa Fadil ini pencuri. Satu jamur harus segera dibasmi sebelum menjalar ke daging yang lain. Bukan begitu, Ustaz Aris?”
“Bukan, Ustaz.” Ustaz Aris memberanikan diri melawan sosok satu ini yang sudah sangat senior di pesantren.
“Lalu?” Suara Ustaz Hanis meninggi.
“Tidak semua jamur harus dibasmi. Bahkan ketika menemukan satu buah jamur tiram liar saja kita akan mengambilnya dengan perasaan bahagia seakan menemukan harta karun. Lalu, berandai-andai mendapatkan lebih banyak dari itu. Bukan begitu, Ustaz?”
Kalah bicara, Ustaz Hanis menggeram. Ia kemudian berdiri sembari menatap keduanya dengan tatapan paling tajam. “Saya tunggu di ruang konseling. Kita selesaikan di sana!”
***

Di ruang konseling sudah hadir semuanya. Tak lupa juga dihadirkan Gus Jalal sebagai penengah di antara kedua pihak.
“Kamu yakin tidak mencuri?” tanya Gus Jalal lembut.
“Yakin, Gus,” jawab Fadil tegas.
“Dia bohong! Saya jelas-jelas punya….“
“Hanis!” sambar Gus Jalal tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ustaz Hanis. “Kamu akan dapat giliran bicara juga.”
Semuanya terdiam. Ustaz Hanis tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya dapat mendengus kesal, seakan semuanya hanya membela Fadil.

“Kalau kamu tidak mencuri, coba ceritakan kejadian detailnya.”
“Bismillah. Jadi Gus, waktu itu Fadil lagi jalan di koridor pondok, sendirian. Sebelum masuk ke kamar, di dalam sudah ada Rangga sama Jujun. Padahal mereka gak sekamar sama Fadil. Pun, wajahnya terlihat kaget waktu Fadil masuk ke sana. Entah mereka sedang apa tapi setelah itu keduanya pergi.
“Gak lama dari situ, Hamas sama Gilang masuk. Dua-duanya teman sekamar Fadil. Terus mereka cek tas masing-masing. Hamas hilang uang dua ratus ribu, Gilang hilang uang lima ratus ribu sama jam tangannya. Nah jam tangan itu ketemu di tas Fadil. Padahal Fadil sendiri gak tahu kenapa jam tangan itu bisa ada di sana, Gus.”

Gus Jalal mengangguk seraya mengusap janggut putihnya.
“Boleh saya bicara, Gus?” tanya Ustaz Aris.
“Silakan.”
“Apa tidak sebaiknya Rangga dan Jujun itu kita panggil ke sini saja? Siapa tahu kita bisa menanyainya terlebih dulu.”
“Gus?” Ustaz Hanis mengangkat tangannya. Gus Jalal mengangguk.
“Bukannya sudah jelas kalau Fadil ada sendirian di kamar itu? Untuk apa kita panggil Rangga dan Jujun kalau sudah jelas Fadil punya waktu sendirian di kamar itu?”

Mendengar alasan tak masuk akal itu, Ustaz Aris memicingkan matanya. Perbincangan ini malah mirip sekali dengan debat kusir yang menghalalkan segala cara demi keluar menjadi sang pemenang.
“Tidak. Usulan Aris lebih bagus.” Gus Jalal menolak mentah-mentah pendapat Ustaz Hanis.
Segera Ustaz Aris membawa kedua anak tersebut. Gus Jalal meminta kejujurannya saat itu juga. Namun kedua anak itu tak mau mengaku bahwa merekalah pelakunya.

“Kalian berani sumpah?” tanya Gus Jalal.
Rangga dan Jujun saling tatap. Mereka masih tak mau bicara. Kecurigaan bahwa merekalah pelakunya semakin kuat. Ustaz Hanis yang pada awalnya menyalahkan Fadil kini geram pada tingkah Rangga dan Jujun yang mengundang tanya.
Jujun menelan ludah. Ia tak sanggup untuk bersumpah dalam kebohongan. Memberanikan diri, akhirnya Jujun mengatakan yang sebenarnya setelah menatap mata Rangga dalam-dalam.
“Sebenarnya bukan kami pencurinya, tapi….“
“Sudah kuduga, pasti Fadil, kan?” sambar Ustaz Hanis.

“Bukan, Ustaz. Bukan Fadil. Dia tidak tahu apa-apa. Yang menjadi pencurinya adalah Hamas dan Gilang sendiri. Mereka menitipkan uang sama kami sejumlah 700 ribu. Lalu kami menerima masing-masing 50 ribu untuk menaruh jam tangan itu ke dalam tas Fadil.”
Jujun terdiam ketakutan. Ia sudah membayangkan bagaimana kemarahan Hamas dan Gilang jika tahu bahwa Jujun telah membeberkan semua rahasia keduanya.

“Keamanan kalian, saya yang jamin. Tapi saya minta sama Gus Jalal untuk merekomendasikan dikeluarkannya Hamas dan Gilang kepada pengasuh pondok, Kiai Fattah. Jamur beracun harus segera dibasmi!” ujar Ustaz Hanis berapi-api.
Kalimat panjang itu disambut dengan senyuman dari Fadil, Gus Jalal, dan tentunya Ustaz Aris.
“Alhamdulillah,” ucap Ustaz Aris lega.
*****


1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here