Istriku dan Tetes-Tetes Air

6
235

Istriku bisa terlihat begitu bahagia hanya dengan melihat air. Ketika itu, mata teduhnya akan berbinar dan pipi gembilnya semakin membulat karena sudut-sudut bibirnya tertarik ke samping, tersenyum. Ia juga terlihat mengambil napas lega. Ekspresi ini kuyakin sulit kalian temui pada wanita-wanita zaman sekarang. Hei, jangan katakan istriku sakit! Bahkan, ia sehat-sehat saja.

Kalian tahu air apa yang kumaksud? Mungkin ini akan terdengar aneh di telinga kalian. Namun, tidak bagiku, belahan jiwanya yang hampir dua puluh empat jam bersamanya setiap hari. Aku paham betul apa yang dirasakan oleh istriku kalau sedang begitu. Baiklah, kuberitahukan saja bahwa air yang kumaksud tadi adalah air yang menetes-netes dari baju yang baru saja dicuci dan dijemur olehnya. Aroma wangi sabun cuci seakan semakin melambungkan rasa bahagianya. Berkali-kali ia akan menghirup aroma itu pelan-pelan seakan ingin memenuhi rongga paru-parunya.

“Satu pekerjaan telah selesai,” begitu aku menerjemahkan pikiran dan perasaannya saat melihat tetes-tetes air cucian.
Aku tidak pernah sekalipun punya keinginan mengusiknya kalau sedang begitu. Itu adalah momen kesukaannya. Tidak perlu pula aku mengingatkannya untuk tidak berlama-lama di situ. Istriku pasti sudah tahu kapan ia harus beranjak dari tempat favorit di dekat jemuran itu. Beberapa saat kemudian, ia akan segera berpindah ke pekerjaan lain. Kadang ia ke dapur untuk memotong sayuran atau mengupas bawang. Kadang pula ia memindahkan piring-piring bersih ke meja makan, lalu di sana ia mencomot satu dua bakwan sebagai pengganti energinya yang baru saja ia keluarkan.

Aku hafal betul kebiasaan istriku itu sebab memang aku selalu bersamanya. Jangan dipikir aku pengangguran yang cuma bisa makan tidur sambil menonton istri mengurus rumah. Usaha bengkel dan tambal ban, itulah mata pencaharianku sehari-hari. Ruang tamu rumah warisan orang tua seluas tiga kali tiga meter persegi kurombak menjadi bengkel sepeda dan sepeda motor, kecil-kecilan memang. Sebagai ganti ruang tamu itu, kusediakan lincak bambu di bawah pohon rambutan. Kalau mau sedikit lebih formal, kami tinggal mempersilakan tamu masuk ke ruang keluarga.

Istriku memang mencuci dengan tangan dan menjemurnya. Mengapa kami tidak memanfaatkan jasa laundry yang sekarang menjamur sampai ke pelosok kampung. Bagi kami, menggunakan jasa laundry sepertinya akan terasa sangat boros karena aku pernah menghitung kasar ongkosnya. Jika cuci dan setrika satu kilo baju saja bayarnya sekitar enam ribu, dalam sepekan kami setidaknya mengeluarkan uang sekitar lima puluh ribu rupiah. Jumlah itu kami anggap lebih cocok jika dialihkan untuk biaya makan–termasuk pengganti energi yang dikeluarkan istriku untuk mencuci baju, bayar sekolah anak, atau untuk membeli oleh-oleh buat mertua di desa.

Mengapa kami tidak membeli mesin cuci saja. Uang yang dikeluarkan di awal memang jauh lebih banyak dibanding dengan mencuci menggunakan jasa laundry. Namun, mesin cuci bisa dipakai berkali-kali. Ya… seperti modal awal berupa barang. Nah, untuk ide mesin cuci ini kami setuju. Kami bahkan pernah punya mesin cuci dua tabung yang kami beli dari tetangga. Menggunakan mesin cuci menghemat ribuan kilo kalori tenaga dan sekitar enam puluh menit waktu istriku. Sembari mesin cuci beroperasional, istriku bisa menyelesaikan pekerjaan lain.

Mesin cuci itu bertahan kurang lebih setengah tahun di rumah kami. Setelah itu, dengan berat hati kujual mesin penghemat tenaga istriku itu kepada teman.
“Tidak apa-apa, Bang, jual saja mesin cucinya,” kata istriku waktu itu.
“Bagaimana, ya?” ragu memenuhi hatiku.
“Katanya Abang butuh kompresor pengisi angin.”
“Ya, begitulah.” Kuacak-acak rambutku. “Aku, eh, maksudku… kita sudah berhemat agar bisa menabung bukan?”

Istriku diam. Mungkin ia memberi kesempatan kepadaku untuk melanjutkan kalimat.
“Tabungan lumayan banyak, alhamdulillah. Tapi belum cukup untuk membeli kompresor untuk bengkel Abang.”
Istriku manggut-manggut. Tanyanya, “Bagaimana kalau Abang beli yang second?”
“Iya, Abang mau beli kompresor yang second, Ti. Kalau yang baru, jangan tanya, mahal banget.”
“Nah, kan. Jual saja mesin cucinya. Mumpung teman Abang ada yang mau. Lumayan, buat tambah-tambah.”

Aku menimbang-nimbang. Aku dulu beli mesin cuci second itu tujuh ratus ribu rupiah. Mesin cuci itu sudah kami pakai enam bulan dan sekarang mau dibeli dengan harga enam ratus ribu rupiah. Benar kata istriku, lumayan. Namun, masih ada yang mengganjal di hatiku.
“Nanti, bagaimana kamu mencuci baju?” tanyaku.
“Gampang, baju direndam air sabun lalu kucek dan bilas. Beres!” candanya. Aku tersenyum. Jujur, sebenarnya aku ingin ia merelakan mesin cuci itu dijual. Aku hanya tidak tega saja.
“Kalau kamu capek?”
“Ya, tinggal istirahat.” Kami sama-sama tertawa.
“Abang tidak tanya bagaimana kalau aku lapar habis mencuci dengan tangan?” tanya istriku. Kutatap ia. Ada kilat canda di matanya.

Aku tahu pertanyaanku pasti akan mendapat jawaban konyol. “Bagaimana?”
“Ya… tinggal makan yang banyak.” Ia tertawa. Pipi bulatnya menjadi kemerahan.
Kukecup istriku sebagai hadiah atas pengorbanannya. Jilbab biru kusam yang dikenakannya sedikit menghalangi kecupanku di keningnya. “Terima kasih banyak, Ti. Abang akan bekerja keras agar bisa menabung untuk beli mesin cuci lagi.” Waktu itu ia mengangguk sambil tersenyum.

Kenyataannya, sudah lebih dari satu tahun berlalu, tabunganku belum cukup untuk membeli mesin cuci yang second sekalipun seperti dulu. Itulah alasanku selama ini tidak mau merenggut kesukaannya melihat tetes-tetes air cucian.

Namun, hari ini aku bertindak lain. Tepatnya tadi pagi saat istriku terlihat asyik dengan kebiasaannya itu, aku ingin segera menyudahinya. Tak kuhiraukan senyum yang tersisa di wajahnya. Setengah kupaksa, kuseret, dan kugendong tubuh gemuk istriku keluar rumah. Tukang becak yang sudah siap di depan rumah, membantuku menaikkan tubuhnya. Setelah kami berhasil memasukkannya hingga duduk menyandar di kursi penumpang, aku segera melompat di sampingnya. “Cepat, Pak!” kataku lantang. Pak Becak sigap menuruti aba-aba dengan mulai mengayuh pedal becak. Jalan kampung yang berbatu-batu mengguncang-guncang becak dan tentu saja tubuh kami bertiga. Jangan tanya, bagaimana irama jantungku yang melompat-lompat.

Kurengkuh pundak istriku dengan lengan kiri. Sementara tangan kananku memegang bagian bawah perut buncitnya. Tak kuhiraukan tanganku basah dan lengket karenanya. Mulutku tak henti-hentinya bergumam, melantunkan doa meminta keselamatan dan kelancaran untuk perjalanan kami.

Setelah beberapa saat perjalanan, istriku menyandarkan kepala di pundakku. Sesekali kupanggil namanya sekadar memastikan kesadarannya. “Asti, tahan, ya, jangan tidur dulu. Tahan! Kita ke rumah sakit ini.” “Hem…,” jawabnya pelan dengan mata terpejam. Setelah sekitar lima belas menit perjalanan, hatiku sedikit lega saat becak yang membawa kami mulai memasuki jalan raya. Selain badan kami tidak lagi terguncang-guncang, jarak ke rumah sakit semakin dekat. “Sebentar lagi, Mas!” seru Pak Becak di antara derit becak. Iya, Pak. Tambah kecepatan, Pak!” Kuberikan semangat kepadanya. Aku yakin keringat sudah membanjiri seluruh tubuh bapak tua tapi perkasa ini. Selain ongkos becak yang kulebihkan tentunya, setelah sampai di rumah sakit nanti, aku akan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya yang telah bersedia berjuang bersamaku. ***

Sepi, tapi aku tak ingin beranjak sementara waktu dari sini. Kuusap punggung telapak tangan kiri istriku. Pada tangan itu tersemat gelang merah muda bertuliskan namanya, Ny. Asti. Di atas ranjang rumah sakit kelas tiga ini, ia tidur tenang. Perut buncitnya sudah kempis. Bayi mungil pengisi perutnya lebih dari sembilan bulan selama ini berhasil dilahirkannya begitu kami sampai di rumah sakit. Tentu itu suatu anugerah yang sangat besar mengingat keadaan istriku yang sudah lemah. Berbalut kain gedong hijau, bayi cantik itu kini tidur pulas di ranjang kecil sampingku.

Sepi. Kuamati air infus yang menetes satu per satu dari labu yang tergantung di besi penyangga. Air itu masuk lewat selang kecil dan jarum yang ditujukan tepat ke pembuluh darah tangan kanan istriku. Aku tersenyum bahagia. Teramat bahagia.
Mungkin rasa bahagia inilah yang memenuhi hatinya selama ini tatkala melihat tetes-tetes air cucian. Begitu pula tadi pagi. Saking bahagianya hingga ia tidak sadar bahwa air ketuban telah pecah dan mengalir membasahi baju dan kakinya. Air ketuban bercampur darah itu menggenang di bawah kakinya. Alhamdulillah, aku datang tepat pada waktunya. Aku lewat di dekat tempat jemuran karena akan ke sumur. Saat itulah, aku melihat kejanggalan dan segera menyadari kegentingan.

Kududukkan istriku di tanah, lalu aku segera berlari ke depan rumah. Kalang kabut aku berteriak-teriak meminta pertolongan tetangga atau siapa saja yang sekiranya dapat diminta pertolongan. Senyum masih menghias wajahnya yang memucat.
Aku sadar, ia bukan sedang merasakan harumnya bau sabun dari baju yang baru dicucinya. Ia setengah pingsan karena air ketuban dan darahnya banyak yang hilang.
***


6 COMMENTS

  1. Maasyaa Alloh, bagus nih cerpen, gambaran peran seorang “wonder woman” sesungguhnya dalam rumah tangga. Itu baru satu pekerjaan rumah tangga. Masih banyak lagi pekerjaan tulus sang istri bila kita perhatikan. Dan senyum si istri gambaran keikhlasannya mengurus rumah tangga. Bentuk jihad para ibu.

    Jadi teringat, seneng banget mijitin istri bila tampak kekelahan. Dan pengganti energi istri saya yang paling dia suka adalah tahu isi 😂

  2. Alhamdulillah. Jazakumullah khairan, Pak Heru sudah mampir di sini. Sampaikan salam saya buat istri jenengan. Assalamualaikum. Jangan lupa makan tahu isi. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here