Menunggu Hujan Reda

2
132

Hujan turun seketika saat imam membaca salam kedua. Kian deras saat jamaah hendak keluar masjid. Mereka yang jumlahnya bisa dihitung dengan sebelah jari, duduk-duduk di serambi menunggu hujan reda. Budiarta berkali-kali melihat ke langit kelabu pekat kemudian
ke jalan setapak depan masjid yang tergenang air.
“Pak Budi sepertinya gelisah, ada apa?” tanya Bari, lelaki paruh baya
“Deras sekali, Pak, hujannya. Saya belum memasang tanggul di depan rumah. Rumah saya pasti sudah kebanjiran,” jawab lelaki berusia 65 tahun itu khawatir. Setiap hujan deras, Budiarta memasang tanggul dari karung berisi pasir di pintu gerbang rumahnya. Selokan kampung tepat berada di depan gerbang.

“Lho kok bisa, Pak?”
“Air dari kampung mengalir ke halaman rumah karena selokan tidak berfungsi. Entah ada yang menutup di bagian mana saya tidak tahu. Selokan yang saya buat di sekeliling rumah juga ada yang sengaja menimbunnya dengan tanah,” lanjut Budi.
“Rumah Pak Budi memang paling bawah, air dari kampung pasti lari ke sana,” Bari manggut-manggut.
“Nah itu dia, Pak,”

Tempat tinggal Budiarta terletak paling pojok, pada pertigaan jalan masuk kampung, tepat di bawah jalan kampung yang menanjak. Depan rumahnya persis berdiri gapura desa.
“Pak Budi sudah lapor kades?” saran Bari. Beruntung mereka tinggal satu dusun dengan kepala desa sehingga segala keluhan bisa disampaikan langsung.
“Pernah Pak, katanya tidak ada dana untuk memperbaiki saluran air karena terkuras untuk pembangunan masjid ini,” keluh Budi.
“Lha ini, sekarang masjid kita sudah jadi. Pak Budi bisa sampaikan lagi,”

Budi mengangguk. Pandangannya menyapu masjid dengan arsitektur modern. Langit- langit masjid melengkung berukiran dengan lampu gantung berada di tengah masih mengkilap. Di semua sisi dinding berjendela lebar dengan kaca ukiran warna-warna terang. Pintu depan sepenuhnya kaca lebar berhiaskan kaligrafi indah. Lantainya marmer mengkilap.

Sebelum direnovasi pun, masjid ini masih kokoh terawat. Sayangnya, masjid ini tampak sepi. Kegiatan shalat 5 waktu berjamaah hanya diisi tak lebih dari hitungan jari. Masjid hanya ramai ketika sholat Jumat.
Tidak ada suara ramai anak mengaji. Orang-orang tua pengurus masjid tidak mengizinkan anak-anak bermain di masjid.
“Kalau ada anak-anak, sudah pasti bermain gaduh dan berlarian, kan?” jawaban kepala takmir ketika para pemuda mengajukan izin kegitan TPA. Jadilah kegiatan TPA bertempat di salah satu rumah pemuda.

Budi tidak menunggu lama, cucu perempuannya datang menjemput dengan 2 payung besar.
“Airnya sudah masuk rumah, Kung,” lapor cucu.
“Ya sudah, kami duluan ya, Pak,” Budi berpamitan.

Tiba di rumah, ia tidak tinggal diam. Tanggul-tanggul di depan rumah segera dipasang.
Sekalipun air sudah terlanjur masuk, jika hujan tidak segera berhenti, arus yang masuk ke halaman rumah akan semakin deras.
“Tidak bisa dibiarkan, nanti lapor saja, Pak,” saran Pram, menantunya, yang baru pulang kerja mendapati bagian dapur rumah terendam air. Untung saja setiap kali hujan air tidak masuk ruang tamu dan kamar sebab lantainya lebih tinggi.
“Sepertinya percuma, Nang. Tapi baiklah, nanti sore Bapak coba lagi,” timpal Budi kelelahan.
“Kalau bilang tidak ada dana lagi, bohong. Ada bantuan desa untuk pembangunan,” sahut Pram.
“Semoga saja responnya baik nanti,” harap Budi.

Sore hari begitu hujan reda, Budiarta menghadap kepala desa. Ia kembali mengutarakan masalah yang berulang datang saat hujan.
“Kebetulan masjid sudah selesai dibangun, Pak. Kita juga baru saja mendapat bantuan desa. Akan segera saya sampaikan ke perwakilan dusun supaya ada transparasi,” sambut kades ramah.
“Syukurlah, kalau begitu ada dana untuk pembangunan saluran air. Penting lho Pak, drainase desa.” ujar Budi penuh harap.
“Tentu, kita tunggu nanti ada dana sisa ya, Pak. Sebab juknis untuk pembangunan gapura desa sudah ada.”

“Pembagunan gapura desa?” Budi terhenyak. Ia sudah hapal arah pembicaraan selanjutnya. Memang percuma datang melapor.
“Penting sekali gapura sebagai identitas desa kita yang menunjukkan kebanggaan warga,”jelas kades.
Budi tidak lagi peduli. Ia hanya ingin segera pamit.

Tiga hari kemudian, sekitar rumah Budi dipenuhi material pembangunan. Gapura lama yang sebenarnya masih layak, dirobohkan. Panitia pembagunan mendatangkan para tukang secara borongan sehingga pembangunan cepat selesai. Sesuai harapan, gapura megah itu selesai. Panitia pembangunan telah merencanakan peresmiannya dengan pemotongan pita.

Langit pagi nampak biru setelah berhari-hari hujan mengguyur. Gapura itu sempurna berdiri. Di sekitar gapura, termasuk di halaman rumah Budi, berdiri teratak. Seluruh warga dusun yang menjadi penduduk tempat gapura berdiri, ditambah perwakilan dari masing-masing dusun diundang menghadiri peresmian. Percakapan-percakapan terdengar antusias menanggapi gapura yang dianggap mirip gapura Akademi Militer.
“Syukurlah pemilihan harinya tepat. Ini cerah. Pas sekali dengan megahnya gapura,” puji seorang warga.
“Semoga saja, cuaca sering tidak menentu. Pagi cerah jelang siang mendadak hujan,” timpal yang lain.

Sambutan demi sambutan bergantian. Awan gelap disertai angin mendadak berembus ketika pita yang terbentang di gapura hendak di potong. Seketika air tumpah sederas-derasnya dari langit begitu pita selesai dipotong. Warga sebagian berlindung di teras rumah sekitar. Teratak yang berdiri tidak bisa melindungi dari guyuran hujan. Karena rumah Budi yang terdekat dari lokasi acara, kebanyakan warga berlari ke teras rumahnya.

Deras hujan disertai angin. Air dari jalan kampung tumpah ruah masuk ke halaman rumah Budi. Warga keheranan melihatnya. Halaman tergenang air setinggi betis dan masuk ke sebagian rumah. Budi membiarkan saja lantai rumahnya tergenang. Kali ini ia tidak mau repot memasang tanggul. Di teras, kades duduk menunggu hujan reda tanpa kata.


2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here