Di Antara Dua Pilihan

3
128

Adinda melipat mukena, sarung, dan sajadah usai salat isya. Disampirkannya perlengkapan salat itu di atas rak yang letaknya persis bersebelahan dengan tempat tidur. Perempuan lajang berusia dua puluh enam tahun ini duduk sebentar di bibir ranjang. Ia menghela napas, netra berbulu lentik itu menatap sekeliling kamarnya.
Masih teringat di benaknya saat ini chattingannya dengan Afif, calon suaminya, di aplikasi Whatsapp.

[Aku enggak mau kita berjauhan setelah menikah nanti. Enggak ada itu dalam kamus hidupku, suami istri hidup terpisah. Kamu di sini, di kampung terpencil seperti ini, sementara aku tinggal di kota] [Tapi, bagaimana nasib anak-anak di sini nanti, Bang. Tolonglah mengerti aku] [Jangan seperti ini, Dinda. Ini bukan tanggung jawabmu, nasib anak-anak di sini, itu urusan pemerintah. Ngapain kamu korbankan dirimu sendiri?]

Dinda ingin membalas chattingan Afif, tapi dia pikir tidak ada gunanya menjelaskan hal itu pada laki-laki yang dikenalnya, ketika aktif pada organisasi kampus di Banda Aceh. Dinda tersenyum getir membaca tulisan Afif yang seenak hati berkata, kalau anak-anak didiknya yang merupakan generasi bangsa ini, hanya tanggung jawab pemerintah saja.

Jangan pikirkan apa yang sudah diberikan negara buatmu, tapi pikirkanlah apa yang telah kau berikan buat negara ini. Kalimat ini yang ingin dilontarkan Dinda kepada Afif, tapi sayang kalimat ini hanya ada dan berputar-putar di pikiran Dinda saja. Percuma saja jika dia membalas pesan laki-laki itu, toh Afif tidak akan pernah mengerti.

Terakhir, pesan dari isi chattingannya, Afif akan berkunjung ke tempat Adinda, meminta ketegasan dan kejelasan perempuan itu apakah tetap bertahan di desa terpencil ini, atau ikut sarannya mengajar di kota besar, dengan gaji yang sesuai dan fasilitas yang memadai.

Siti Adinda, anak tunggal dari pasangan Imran dan Wulandari. Ayah Dinda yang berdarah Aceh menikahi ibunya yang bersuku Jawa. Orang tua Dinda meninggal saat terjadi tsunami hebat yang melanda bumi rencong tahun 2004 silam. Waktu itu Dinda berumur delapan tahun. Jasad kedua orang tuanya tidak ditemukan.

Dinda yang yatim piatu dibesarkan oleh Abu Syik dan Ma Syik, orang tua ayahnya.
Sedari kecil telah ditanamkan nilai-nilai agama oleh kedua orang tuanya, membuat Dinda tumbuh menjadi muslimah taat, yang senantiasa ingin mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya.

Sepulang mengaji dari madrasah, ayahnya sering berkata, “Adinda, kita diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah kepada Allah tidak sebatas salat, mengaji, puasa, membayar zakat dan pergi haji. Ibadah itu luas anakku. Segala perbuatan baik kita kepada sesama dengan niat mencari keridhoan Allah itu juga ibadah.”

***

“Ma Syik, boleh Yulia cabut singkong di kebun?” pinta gadis kecil itu dengan senyum mengembang.

Ma Syik tersenyum sembari mengangguk, “Pasti mau kau beri pada guru kesayanganmu itu, kan?”

“Iya, Ma Syik, Bu Adinda memang guru kesayangan Yulia. Kalau udah besar nanti, Yulia juga mau jadi guru kayak Bu Dinda. Baik hati, ramah, suka membantu. Pokoknya Yulia senang punya guru seperti itu,” celotehnya sambil meloncat kecil.

Tangan mungilnya mengambil segolok parang yang teronggok di sudut dapur. Parang yang akan dipakai untuk mencungkil ubi kayu di halaman samping rumah Ma Syik. Ukuran ubi-ubi yang besar tak sebanding dengan ukuran jemari kecilnya. Kesusahan ia mengambil singkong atau ubi kayu yang menancap kuat di dalam tanah.

Dahinya dibasahi peluh keringat. Napasnya ngos-ngosan. Ingin meminta tolong sama Ma Syik, tapi segan. Dia duduk di atas tanah, menjeda sebentar, mengumpulkan tenaga lagi. Baru sekitar lima menit dia beristirahat, Ma Syik berjalan mendekatinya, seketika membuat Yulia menoleh.

“Ma Syik tahu, pasti kau kesulitan mengambil ubi-ubi kayu ini. Makanya Ma Syik datang membantumu,” ujarnya.

“Hehehe, Ma Syik tahu aja, Yulia memang kepayahan mencungkilnya.”

“Makasi banyak ya, Ma Syik, udah bantuin Yulia, sekarang Yulia pergi dulu ngantar ubi-ubi ini ke Bu Dinda,” ucapnya sambil menyalami punggung tangan Ma Syik.

Ma Syik melambaikan tangan menatap kepergian cucunya yang telah yatim piatu itu, sampai punggung Yulia tidak tampak lagi dan ia berbalik badan masuk ke rumah. Yulia telah kehilangan kedua orang tuanya ketika usianya menginjak lima tahun. Emaknya meninggal saat melahirkan adik Yulia, sementara bapak Yulia menyusul kepergian istrinya setahun kemudian. Beliau meninggal karena kecelakaan. Kini Yulia dan adik laki-lakinya diurus oleh Ma Syik.

Dengan semangat di dada, Yulia terus mengayuh sepedanya menuju ke rumah yang ditempati Dinda. Guru yang baru ditempatkan sekitar lima bulan di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, tinggal di salah satu rumah warga, yaitu sepasang suami istri dengan dua anak. Istri pemilik rumah itu mengajar ngaji untuk anak-anak kampung di desanya, sedangkan si suami mengajar di sekolah yang sama dengan Adinda.

Yulia berbelok ke kanan, menghentikan kayuhan sepeda lantas turun. Mata beningnya menatap sebuah mobil bercat putih.

Hmm bagus sekali mobil ini, mobil siapa ya? Apa tamu Bu dinda? Bisa jadi, Ibu guru yang cantik itu, kan asalnya dari kota? Dia bertanya dan menjawab sendiri.

Yulia mengayunkan kaki mendekati rumah semi permanen milik Pak Guru Amir. Pandangan matanya tertuju pada sepasang sepatu pantofel pria di atas keset kaki. Pintu rumah itu terbuka, terdengar suara Bu Dinda dan tamu laki-lakinya. Hatinya ragu untuk masuk. Dia memutuskan bersembunyi di balik dinding rumah ini.

“Jadi gimana, Din, kamu mau tetap mengajar di desa ini? ayolah Dinda, jangan hancurkan mimpi-mimpi kita, dengan keputusan konyolmu itu,” desak lelaki yang memakai baju casual di depan Dinda.

Dinda menatap sekilas pada Afif, lalu membuang pandangan ke arah lain. Sejenak ia menghela napas, “Kasih Dinda waktu beberapa hari ini, Bang Afif, biarkan Dinda istikhoroh dulu. Ini enggak mudah buat Dinda, meninggalkan murid-murid yang Dinda sayangi. Mereka butuh Dinda, mereka aset bangsa, Bang. Siapa lagi yang akan memperhatikan masa depan mereka jika bukan kita?”

Luapan perasaan yang seakan penuh di dada, membuat hati perempuan yang ingin mengabdikan diri sebagai guru, terasa nyeri. Dia benar-benar dilema, di satu sisi ia begitu mencintai laki-laki di hadapannya, tapi di sudut lain ruang batinnya, merasa prihatin dengan kehidupan anak-anak di desa terpencil ini.

Sekolah dasar di kecamatan ini hanya satu, dengan enam kelas tapi hanya memiliki empat orang guru, termasuk kepala sekolah. Terpaksa mereka bergantian mengajar, supaya murid-murid itu bisa tetap belajar. Permohonan pengajuan untuk menambah tenaga guru sudah berkali-kali disampaikan kepada instansi terkait, tapi hingga kini tidak juga ada tanggapan. Itu sudah berlangsung lama, entah kenapa tidak ada respon sama sekali.

Guru-guru yang pernah ditempatkan di sini, banyak yang menyerah dengan fasilitas sekolah yang terbatas, ditambah lagi tidak adanya jaringan internet yang bisa mengakses begitu banyak informasi. Desa ini betul-betul tertinggal.

“Baiklah, Din, abang tunggu kabar baik darimu. Kamu harus memilih ikut dengan keputusan abang, pergi dari desa ini atau tetap bertahan di sini, tapi hubungan kita berakhir,” pungkas laki-laki itu seraya menatap Dinda dengan tatapan sendu.

***

Pelajaran telah berakhir beberapa menit yang lalu. Namun, Yulia tidak juga beranjak dari kursi. Kini di kelas hanya ada dia dan Bu Guru Dinda. Gadis kecil kelas lima SD ini sibuk dengan pikirannya sendiri. Dari tadi malam dia masih memikirkan kejadian kemarin, ketika tamu laki-laki Bu Dinda datang. Dia mendengar semua percakapan mereka.

Hatinya dirundung sedih, jika Bu Dinda pergi meninggalkan mereka, dan lebih memilih laki-laki itu, yang entah siapanya Bu Dinda. Dia tidak tahu ada hubungan apa antara Bu Guru dengan tamu asing kemarin. Dia masih terlalu kecil untuk paham bahwa lelaki itu adalah calon suami Dinda.

Dinda belum menyadari, kalau ada muridnya yang masih belum pulang. Kepalanya tertunduk, masih fokus dengan lembaran-lembaran kertas di meja. Kepala Dinda mendongak ketika suara bangku kayu terdengar, ketika Yulia menggeser bangku tempatnya duduk.

“Loh, Yulia belum pulang, kenapa Nak?” tanyanya lembut diiringi senyum tulus.

Yulia melangkah pelan menuju meja Bu Guru. Dia memaksakan dan memberanikan diri untuk bertanya perihal peristiwa kemarin, saat dia dengan sengaja menguping pembicaran Dinda dan Afif.

“Ada apa Yul, kok mukanya kusut gitu, mau ngomong apa ke Ibu, hm?”

Yulia menarik kursi yang ada di deretan depan, duduk seraya menatap guru di depannya. Mata mereka bertemu. Ketika teringat obrolan guru dan tamunya, Yulia tidak kuasa menahan rasa sedih lewat mata yang berkaca. Dinda terpana, melihat kabut di mata murid kesayangannya ini.

“Hei, Yulia kenapa? kenapa kamu nangis, Nak? Coba cerita ke Ibu.”

Didekatinya gadis kecil itu, menghapus titik air yang mulai mengalir di kedua pipinya. Yulia menghambur, memeluk erat pinggang Dinda. Tumpahan tangis Yulia menyulut rasa haru di hati Dinda. Pelan diusapnya punggung Yulia.

“Yulia cerita dong kenapa nangis kayak gini, Bu Guru jadi bingung nih, kalau kamu cuma diam aja,” bujuknya sambil terus mengusap punggung gadis kecil itu.

“Bu Dinda enggak akan pergi, kan?” tanyanya seraya mengusap bulir bening dari kelopak mata.

Yulia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap punggung Yulia.

“Maksud kamu apa, Nak?”

Dengan terbata diselingi dengan sedikit isakan, Yulia berterus terang dengan apa yang didengarnya kemarin. Kemarin, dia bermaksud ingin mengantar ubi atau singkong untuk Bu Guru Dinda, tapi begitu tahu ada tamu yang berkunjung, dia membatalkan niatnya untuk masuk. Yulia memilih bersembunyi di balik dinding dan mendengar semua.

***

Seperti janjinya dengan Afif, untuk segera memberikan jawaban, Dinda semakin intens mendekati Allah di sepertiga malam. Sudah hampir sepuluh hari dia tidak meninggalkan istikhoroh. Namun, entah kenapa dia merasa belum ada kemantapan hati untuk memilih di antara dua pilihan. Pilihan yang sama penting, tapi dia tidak bisa memilih keduanya sekaligus.

Dinda mencintai laki-laki itu. Afif, satu nama yang telah terpatri dalam hati. Dulu Dinda tertarik pada Afif, bukan semata karena laki-laki itu tampan dan cerdas tapi karena kesalehannya. Bukan hanya salat wajib, ternyata Afif juga rajin salat Duha. Saat jadwal kuliah pagi, Dinda yang sudah terbiasa salat Duha, sering memperhatikan diam-diam seorang Afif juga melaksanakan duha. Itu yang membuat Dinda terpikat.

Mungkin karena sama-sama aktif di organisasi yang sama, mereka akhirnya bisa dekat. Walau tidak pacaran, mereka seakan sudah tahu dan merasa, jika di hati masing-masing telah ada ketertarikan. Hingga akhirnya perasaan yang diam-diam itu terbuka, dengan keterusterangan Afif yang disampaikan melalui pesan. Laki-laki itu berusaha mencari tahu nomor whatsapp Dinda. Singkat saja pesan itu dikirimkan Afif buat Dinda.
SELEPAS WISUDA, AKAN AKAN MENGKHITBAHMU!!

***

Dinda menyapu pandangan ke seluruh ruang kelas, tapi matanya tidak menangkap sosok itu. Murid yang nasibnya sama dengan dirinya, sama-sama yatim piatu.
Dinda membatin, Kemana Yulia, kenapa dia tidak masuk sekolah? Apa dia sakit?

“Anak-anak, siapa yang tahu kenapa Yulia hari ini tidak masuk?”

Semua murid tampak menggeleng, tapi salah satu murid lelaki yang bertubuh kurus menjawab sambil mengacungkan telunjuknya, “Tadi saya lihat Yulia di pematang sawah, arah yang ke balai desa, Bu.”

Dinda mengerutkan kening, “Terus kamu enggak nanya, kenapa Yulia enggak berangkat ke sekolah, Wan?”

Murid yang bernama Muhammad Ridwan tampak diam sejenak, sebelum menjawab, “Saya udah nanya, tapi Yulia hanya diam aja. Ya udah saya tinggalin dia, Bu,” sahutnya.

***

Dinda menemukannya, sekarang dia berada di pematang sawah. Sepanjang mata memandang, hanya hamparan hijau padi yang terbentang laksana permadani di bumi. Pelan Dinda berjalan lalu berjongkok di samping Yulia. Gadis kecil itu belum menyadari keberadaan Dinda. Dengan posisi jongkok, kedua tangannya terlipat dan menenggelamkan wajahnya di atas lutut.

Dinda berdehem, dan spontan Yulia menoleh. Gadis kecil ini langsung berdiri lalu berlari.

“Ngapain Bu Guru kemari? enggak usah jumpai Yulia lagi! Biar Yulia putus sekolah! Udah Ibu pergi sana! Enggak usah ngajar lagi di sini, enggak usah peduliin kami lagi!” serunya histeris, menjauhi Dinda yang tampak kaget.

Dia tidak menyangka, muridnya yang biasa santun dan lembut jika berbicara, bisa berbicara seketus dan sekeras itu. Dinda bangkit berusaha mengejar Yulia yang kian kencang berlari.

“YULIAAAAA, TUNGGU IBU, NAK!” pekiknya supaya murid kesayangannya berhenti dan mau mendengar.

Alih-alih berhenti, gadis kecil itu semakin kencang berlari meninggalkan Bu Guru Dinda dengan isak yang kian menderas. Dinda terpaku, tangisnya pecah ketika perang batin itu muncul. Jika dia memilih Afif, bagaimana nasib anak-anak di sini? Atau jika dia memilih bertahan tetap mengajar di desa terpencil ini, cintanya akan pupus dengan lelaki itu.

Ada nyeri menyesak di dada menyaksikan pilu hati seorang gadis kecil. Dia pernah merasakan hidup tanpa kedua orang tua. Melihat sosok Yulia seakan melihat dirinya di masa lalu. Mungkinkah ini jawaban Istikhorohnya? Hatinya kini memilih bertahan meski harus mengorbankan cintanya pada laki-laki itu.

Bismillah, dia menarik napas panjang dan mencoba tersenyum, untuk menguatkan mental. Dinda mengaminkan sebuah quote yang pernah dibacanya di suatu media sosial. “Sesuatu yang menjadi takdirmu, akan menemukan jalannya untuk menemukanmu.”
Jika Afif memang jodohnya, apa pun rintangannya pasti ia dan Afif bisa bersatu.

Catatan :
• Abu Syik : Kakek (bahasa aceh)
• Ma Syik : Nenek (bahasa aceh)


3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here