Pesan Ibu

2
151

Seperti biasa Raska bersama gerombolannya sudah nongkrong di depan kelas. Mereka mengenakan seragam merah putih rapi dan sepatu yang mengkilat. Raska merupakan anak orang terpandang di Kota Veteran. Kalau berangkat pun selalu lebih awal diantar dengan sopir pribadi keluarga.

Tiba-tiba Rere datang dengan sepeda bututnya. Seragam yang sudah tidak putih lagi dan sepatu yang warna hitamnya sudah mulai memudar. Raska dan teman-temannya memandanginya dari jauh.
“Nah itu dia datang! Anak dekil dari desa!” ejek Raska. Hampir tiap hari Raska mengatakan begitu.

Rere terdiam. Sudah biasa mendengar ocehan Raska seperti itu. Ia berjalan memasuki kelas.
“Baunya…” Raska mengejek sambil menutup hidung diikuti gerombolannya ikut-ikutan tutup hidung.
Memang Rere sering berkeringat karena lelah mengayuh sepeda. Rumahnya lumayan jauh sekitar 5 kilo dari sekolah.

“Aduh!” kaki Rere terjegal. Dia tersungkur jatuh. Raska dan teman-temannya tertawa.
“Gimana sih, Re? jalan kok nggak lihat-lihat!” ujar Raska mengejek.
“Lha kaki kamu kan Ka, malang melintang, kamu sengaja ya?” nada Rere meninggi.

Meskipun Rere berusaha sabar ketika diejek tetapi sesekali ia juga menggertak agar Raska jera. Dia sebenarnya tidak takut menghadapi Raska. Dia di desa pun ikut pencak silat. Tetapi Rere selalu ingat pesan ibunya, tidak boleh berkelahi dengan teman.
“Sudah-sudah Re, tak usah dihiraukan. Ayo masuk kelas!” ajak Memet, teman satu bangku.

“Iya sana masuk! Kita-kita mau muntah nih, bau banget sih!” kata Raska masih mengejek.

*****

Hari ini pelajaran tematik. Siswa-siswi diminta memajang tugas ke etalase depan kantor guru. Pekan kemarin mereka mendapat tugas dari Bu Rini, wali kelas 4, untuk membuat alat transportasi dari bahan alam. Anak-anak kelas 4 dengan bangga mengeluarkan karya mereka. Ada yang membuat mobil-mobilan, pesawat, kapal, dll.
“Wah, karya kamu bagus banget, Re!” teman-teman berkerumun menuju bangku Rere, kecuali Raska tentunya. Ternyata Rere membuat mobil-mobilan dari kulit Jeruk Bali.
Raska hanya menatap sinis.

Rere pun keluar kelas menenteng karyanya menuju kantor guru.

Tiba-tiba, “Praaak!” Raska berlarian menyenggol Rere. Hasil karya Rere terjatuh seketika, roda-roda mobil menggelinding. Badan mobil berserakan.
“Gimana sih kamu? Minggir dong! Kita lagi main kejar-kejaran nih!” ujar Raska tanpa rasa bersalah. Lantas pergi meninggalkan Rere.
Tangan Rere mengepal. Ingin rasanya menempeleng Raska. Namun ia langsung teringat pesan ibunya. “La taghdob wa lakal jannah, janganlah marah maka bagimu surga!”

“Sabar Re, aku bantuin yuk!” ujar Memet.
Rere harus merakit ulang agar mobil dari kulit jeruk bali itu bisa kembali seperti semula. Meskipun kali ini mobilnya kurang menarik dilihat karena ada beberapa bagian rusak.

Tak lama kemudian Bu Rini hadir dan memeriksa pekerjaan anak-anak. Raska sangat senang karena nilainya A. Dia pamer ke teman-teman yang lain. Sementara milik Rere mendapat nilai C.
“Hahaha mobil butut kayak gitu tak pantas mendapat nilai A!” sindir Raska.
“Nggak masalah, Ka. Yang penting aku dah bisa buat sendiri. Aku bangga dengan karyaku.”
“Ngaku aja kalau kamu sedih, hahaha!” Raska tertawa disusul tawa teman-temannya.

Saat pelajaran usai, siswa-siswi berhamburan untuk pulang ke rumah. Rere terkejut ketika mendapati sepedanya bocor. Dia heran tadi pagi baru saja ia memompa sepedanya. Ini sudah kempes lagi. Padahal bengkel sepeda lumayan jauh dari sekolah. Namun bagaimana lagi, ia harus jalan menuntun sepeda menuju bengkel di saat panas terik matahari berada di atas kepala.
“Hahahaha…” tiba-tiba terdengar suara tawa Raska di depan gerbang sekolah. Rere kaget.
“Sudah gosong jadi makin gosong lho, Re!” ledeknya kepada Rere. Memang kulit Rere tampak lebih hitam dibandingkan teman-teman lainnya.

Rere menghela nafas. Lantas mengelap keringatnya yang menetes dengan tangannya. Ia masih harus jalan melewati pekarangan untuk menuju bengkel.
“Dadah Rere…. selamat menikmati!” Raska langsung masuk mobil ketika sopir keluarganya sudah datang menjemput.

*****
Keesokan harinya, ada kabar menggemparkan kelas 4. Rere yang baru tiba di kelas ingin tahu. “Ada apa, Met?” tanyanya pada Memet.
Raska hari ini izin tidak masuk sekolah. Kata Bu Rini tadi, Raska kecelakaan kecil kemarin siang!”
“Innalillahi wa innailaihi roji’un” gumam Rere, “Sekarang keadaannya gimana?”
“Kata Bu Rini, untung Raska hanya luka ringan. Dahinya lebam tertatap bagian depan mobil.”
“Ya Allah, kasihan, ya” ucap Rere.
“Kenapa kasihan, Re. Dia kan selalu mengganggumu. Biarkan saja, mungkin itu balasan buat dia.”
“Huss! Jangan berkata seperti itu, Met! Bagaimanapun juga, Raska teman kita,” Rere mengingatkan Memet.
Memet cuma geleng-geleng kepala, “Ya, hati kamu terbuat dari apa sih Re?” sahut Memet “Kok baik banget, hahaha” disusul canda tawa mereka berdua.

Siang sepulang sekolah, Bu Rini dan beberapa siswa perwakilan kelas akan menjenguk Raska. Rere pun ikut menjenguk.
Berbekal petunjuk arah dari Bu Rini tadi pagi, kini Rere sudah sampai depan rumah Raska. Rumahnya mewah sekali. Ada gerbang warna coklat yang membatasi. Pintu rumahnya masih masuk ke dalam. Tampak ada dua mobil sedan di halaman rumah.
“Subhanallah,” Rere berdecak kagum.

Teeeeet…. Anak-anak memencet bel pinggir gerbang. Seseorang menyambut mereka di balik pintu.
Mereka pun dipersilakan masuk oleh pembantu di rumah Raska. Ketika keluar kamar, Raska kaget karena Rere ikut menjenguk dirinya.
Rere tersenyum menanyakan kabar Raska.
Raska menjawab pelan bukan karena badannya sakit tapi ia malu. Malu dengan dirinya sendiri. Selama ini ia sering usil dan jahil kepada Rere.

“Rere, kenapa kamu mau menjengukku?” tanya Raska lirih.
“Lho, kamu kan kawanku. Ya harus dong, aku menjengukmu!” ujarnya dengan senyum lebar sampai giginya kelihatan.
“Maafkan aku Rere, kemarin yang mengempeskan ban sepedamu itu aku,” Raska mengakui ulahnya, “Aku juga sengaja menyenggol badanmu, agar karyamu jatuh dan dapat nilai jelek!” mata Raska terlihat merah. “Aku sering mengejekmu, tapi kamu nggak pernah membalas!”

“Nggak papa Raska, kata ibuku, kita harus baik dengan siapapun. Seperti Rasulullah saw, meskipun dihina, dimaki, diejek, beliau tetap sabar, beliau tak marah. Saat yang menghina itu sakit, beliau justru menjenguknya,” ungkap Rere mengingat-ingat pesan ibunya.
“Wah, ibumu pasti sangat baik ya, Re. Bolehkan aku main ke rumahmu dan bertemu ibumu?” ujar Raska.
Rere tertunduk. “Ibuku sudah nggak ada Raska. Ibuku sudah meninggal 1 tahun yang lalu.”
Raska termenung. Ia sangat merasa bersalah kepada Rere. Ia sangat menyesal atas perbuatannya selama ini.

Bu Rini yang mendengar percakapan mereka berdua berusaha menenangkan. “Sudah, sudah. In Syaa Allah ibu Rere sudah tenang di sana. Ibu Rere sangat bangga dengan sikap Rere ya. Rere pintar dan baik seperti harapan ibunya Rere.”
Rere mengangguk-angguk. Lantas tersenyum kembali. Raska pun minta maaf kepada Rere dan berterimakasih kepada teman-teman yang lain. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here