Pinta Ibu – Sebuah Cerpen

0
122

Tring tring tring … buru-buru Winda memeriksa ponselnya. Pesan masuk dari Wisnu, suaminya. Dahi Winda mengerut. Hmm, tumben Wisnu kirim pesan saat jam kantor sedang sibuk-sibuknya begini.
‘Dik, ada pesan dari Ibu. Penting.’
Winda mengetik untuk membalas.
‘Pesan apa, Mas? Kok Ibu enggak menyampaikan apa-apa ke Winda, ya?’

Ganti Wisnu yang mengetik.
‘Mas tadinya mau tunda kasih kabar ke adik, tetapi kok nggak nyaman ya.’
‘Pesannya begini.’
‘Maaf, Ibu sengaja langsung menyampaikan ke Nak Wisnu. Kalau lewat Winda, dia pasti enggak setuju. Ibu ingin tukar tambah lemari kayu yang ada di kamar kalian dengan yang bahannya lebih bagus. Sudah dapat barangnya, sudah Ibu jadikan, tetapi masih kurang 8 juta karena lemari lama dihargai 4 juta. Jadi sebenarnya harganya 12 juta. Nanti tukang mebelnya datang. Apa bisa Nak Wisnu membantu melunasi?’

Nyut … nyut … nyut … Winda memijit pelipis kepalanya. Haduh, Ibu, ada saja pintanya. Makin lama makin menjadi. Kalau yang murah saja mungkin tak masalah, tetapi kalau sudah jutaan begini ….
Setelah beberapa saat, jari tangan Winda mengetik pesan lagi.
‘Mas jawab apa ke Ibu?’
Wisnu dengan cepat membalas.
‘Sudah kusanggupi.’

Kecewa. Winda langsung meletakkan ponselnya di atas kasur. Meski yang minta adalah ibunya sendiri alias ibu mertua Wisnu, hatinya tak terima juga kalau Ibu bertindak semau sendiri begitu.
Sepertinya ia dan Wisnu memang tergolong generasi sandwich seperti artikel yang kemarin dibacanya. Itu, generasi yang harus menanggung biaya hidup tiga generasi, orang tua, diri sendiri, dan anak. Hanya saja yang diperlukan Ibu seringkali bukan kebutuhan sehari-hari, tetapi kebutuhan tersier yang menurut Winda hanya membuang uang. Sebut saja. Klub senam Ibu rekreasi hampir tiap bulan, itupun selalu dengan keharusan membeli seragam baru. Ada juga kumpulan pengajian Ibu. Selain seragam, ada juga acara rekreasi religinya. Menurut Winda, malah kebanyakan senang-senangnya daripada mengajinya.

Kapan hari Ibu minta dibelikan sepeda lipat. Katanya sih diajak bersepeda rutin bersama ibu-ibu kompleks. Kenyataannya hanya bertahan seminggu, selanjutnya sepeda itu hanya jadi penghias gudang. Malah akhir-akhir ini Lena yang sering meminjamnya untuk dipakai ke sana kemari. Setelah itu minta rak dapur diganti dengan yang tertutup. Alasannya supaya piring tak dihinggapi cecak dan kecoak. Belum cukup sampai situ, Ibu lalu minta rumah dicat dan kelambunya diganti. Ya Allah, Winda sampai pusing dibuatnya.

Masalahnya Wisnu itu terlalu baik. Winda merasa kasihan kepada suaminya itu. Tak pernah sekalipun Wisnu tak meluluskan pinta Ibu, berbeda dengan Winda yang selalu menawar terlebih dulu. Semuanya memang Wisnu yang akhirnya membayar, tetapi membuat Winda merasa tak enak dengan Wisnu. Ia merasa ibunya keterlaluan. Saking baiknya, apakah Wisnu tak merasa kalau kebaikannya itu seringkali dimanfaatkan oleh Ibu?

Winda mengusap wajahnya, sebelum akhirnya meraih lagi ponselnya.
‘Mas kok enggak koordinasi dulu dengan Winda? Uang delapan juta itu banyak sekali lho, Mas? Gaji Mas itu berapa? Barusan kita membayar pajak mobil, pajak rumah, terus daftar ulang sekolah Lena dan Arya…’
Wisnu langsung membalas.
‘Berarti sesuai dugaan Ibu. Makanya Ibu langsung minta ke Mas, enggak ke adik.’
‘Bukan begitu, Mas. Hanya Winda ingin Ibu mengerti saja dengan situasi kita. Jangan asal grusa grusu grubyak grubyuk begitu kalau menginginkan apa-apa. Mbok ya sabar. Membeli ini itu pakai uangnya siapa coba?’
‘Nanti Mas kirim saja, ke rekening Adik, ya. Adik yang menyerahkannya ke Ibu. Mas khawatir masih di kantor saat tukang mebelnya datang.’

Tak betah, Winda pun langsung menelepon Wisnu. Begitu diterima, mengalirlah semua unek-unek Winda.
“Winda ingin Ibu mengerti dan menghargai kita,Mas. Ingat kejadian lemari baju kita yang lama dan ditukas dengan yang sekarang mau diganti itu. Kurang apa, coba? Enggak koordinasi langsung saja dijual tanpa izin. Langsung beli baru. Katanya murah dan lebih bagus kayunya. Nyatanya baru beberapa bulan dipakai sudah keluar nonornya. Masih bagusan yang punya kita itu dulu.”
“Sabar, Dik, namanya juga orang tua.”
“Meski dulu tukar tambahnya pakai uangnya Ibu, Winda terus terang tak suka dengan cara Ibu. Memang benar kita itu nunut rumah Ibu, tetapi kan Ibu sendiri yang minta kita menemani beliau? Jangan terus begini …”

“Sabar, Dik.”
“Baru sebulan lalu minta rumahnya dicat ulang. Coba habis berapa biayanya. Tambah kelambu pula. Yang banyak nanggung siapa? Mas Wisnu, to?”
“Sabar … toh adik dan anak-anak juga tinggal di sana, ikut menikmati.”
“Sekarang mau mengganti perabotan. Ini mulai lemari, coba nanti setelah lemari, apa lagi yang mau diganti sama Ibu? Harusya semua terprogram. Kita ‘kan bukan keluarga kaya. Winda juga ingin Mas lurus-lurus saja, enggak korupsi gara-gara menuruti apa pinta Ibu. Winda itu kasihan sama Mas. Maafkan Ibuku, Mas.”

“Mas enggak pernah membeda-bedakan itu Ibu siapa dik. Kita penuhi saja apa pinta Ibu selama mampu.”
“Ibu Mas kayaknya lebih pengertian dibanding ibuku.”
“Enggak elok membanding-bandingkan Ibu kita seperti itu. Harus sama sama kita hormati dan sayangi. Bagaimana pun beliau telah merawat kita dengan penuh kasih sayang.”
“Winda dulu enggak pernah minta yang aneh-aneh kok Mas. Enggak merepotkan orang tua.”
“Lha apa sekarang adik merasa Ibu merepotkanmu? Astagfirullah …”
“Enggak. Winda hanya ingin Ibu mengerti dengan kondisi kita.”

“InsyaAllah selama masih mampu, kita bahagiakan Ibu, Dik,. Ingat, kita beruntung masih punya orang tua yang sehat dan aktif dan punya keinginan baik. Bayangkan kalau orang tua kita butuh uang karena terbaring di rumah sakit, apa enggak lebih prihatin lagi?”
Winda diam. Malas sudah ia menjawab. Wisnu sudah pasti membela Ibu. padahal maksud Winda adalah untuk membela Wisnu dari Ibu. Ternyata Wisnu tak bersedia dibela, malah terkesan menyudutkannya.
“Mas lanjut kerja dulu, ya. Sampai jumpa.”

Telepon ditutup. Tak sampai 5 menit, Winda berdering lagi. Pesan dari Wisnu. Isinya gambar tangkapan layar transfer uang lewat m-banking. Ada pesan manis untuk Winda di bawahnya.
‘Titip, ya, Sayang… ❤❤❤’
Hmm, meski hatinya masih berat, Winda beranjak dari atas kasur. Ia berganti baju, lalu mengendarai motornya menuju ke ATM terdekat.
*****

“Win, lemarinya dibongkar, ya!” perintah Ibu. “Yang baru mau datang.”
Tanpa sepatah kata pun Winda terpaksa menuruti apa kata Ibu. Baju-baju seketika berhamburan memenuhi dipan.
Selang 2 jam sebuah truk pengangkut mebel datang dan parkir di depan rumah. Sopirnya membunyikan klakson. Ibu menyambutnya dengan semangat, berbeda dengan Winda yang tampak muram.

“Lemari yang di dalam sudah kosong, Pak. Diangkut saja ke luar,” kata Ibu.
Empat orang segera melompat mengikuti Ibu. Ibu yang usianya mendekati 75 tahun itu masih tampak energik.
“Win, buatkan kopi, ya.”
Winda beringsut ke belakang untuk membuatkan kopi.
“Mana uangnya?” tanya Ibu setelah semua proses selesai.
Hmm, Ibu rupanya sudah diberitahu Wisnu langsung bahwa uang telah dtitipkan ke Winda. Langkah Ibu sungguh membuat Winda merasa tak berkutik. Sebenarnya sebagai seorang istri, ia merasa kurang dihargai, tetapi apa daya.
Dengan hati berat Winda memberikan uang kiriman Wisnu itu kepada Ibu yang langsung menerimanya tanpa mengucap terima kasih. Ibu langsung menyerahkannya kepada tukang mebel.
Winda menghela napas. Oh Ibu …

Winda segera mengepel dan mengelap lemari baru itu, lalu sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari. Setelah tukang mebel itu pulang, barulah Ibu masuk.
“Bagaimana, Win, lemari baru ini bagus, kan?”
Winda tersenyum tanpa menjawab.
“Ibu lega, rumah ini sekarang lebih rapi, Win. Sudah cukup. Tak ada lagi yang Ibu inginkan kecuali yang terbaik buat anak dan cucunya.”
Ibu pun masuk ke dalam kamar sambil tersenyum bahagia. Berbeda dengan Winda dengan senyum masamnya.
*****

Seperti biasa, Ibu tak keluar kamar lagi hingga menjelang Magrib. Winda tak berani mengganggu beliau. Beliau senang beraktivitas di dalam kamar tanpa diganggu. Apalagi ada kamar mandi di dalam. Jadi tak perlu lagi keluar masuk kamar untuk ke toilet. Hmm, benar-benar masa tua yang nyaman.

Wisnu pulang dari kantor. Winda menyambut di depan.
“Lena sudah pulang?” tanya Wisnu sambil melepas sepatu.
“Mungkin sebentar lagi. Tadi dia pamit mau langsung les setelah pulang sekolah,” jawab Winda.
“Oh, ya, bagaimana dengan lemari pesanan Ibu? Sudah datang? Baguskah?” tanya Wisnu.
“Lihat sendiri sajalah,” jawab Winda.
Wisnu tersenyum penuh arti. Winda belum ikhlas sepertinya.

“Ibu mana?” tanya Wisnu.
“Masih di kamar seperti biasa,” jawab Winda.
Wisnu menengok jam. Biasanya Ibu keluar kamar tiap kali ia pulang. Hmm. Memang Wisnu adalah menantu kesayangan Ibu. Kadang Winda sendiri iri dengan Wisnu. Ibu begitu sayang sama Wisnu, padahal dialah yang sebenarnya anak Ibu. Hanya saja, melihat begitu hormatnya Wisnu kepada Ibu, pantas saja kalau Ibu sayang sekali dengan menantunya itu.
“Ibu mungkin kelelahan, ya. Tadi kan sibuk mengatur ini itu selama tukang mebel datang. Coba dibangunkan saja, Win. Khawatirnya bablas salat Magribnya nanti,” pintu Wisnu.

Winda mengangguk. Ia segera beranjak mengetuk kamar Ibu. Beberapa kali, Ibu tak jua keluar kamar.
Klik. Pintu itu tak terkunci. Winda masuk. Tampak Ibu duduk bersandar di kursi dengan mata terpejam dan memakai mukena. Di depannya Al Quran terbuka lebar.
Hati Winda berdebar kencang. Ia buru-buru mendekat. Seketika tangisnya pecah. Ibu sudah tak lagi bergerak.
*****

Kalau mengingat itu semua, mata Winda berkaca-kaca. Betapa ia sangat menyesal belum sempat minta maaf kepada Ibu atas segala prasangkanya kepada beliau. Ibu yang selalu punya banyak kemauan, tetapi tak pernah merepotkan. Memberikan tempat tinggal yang nyaman, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak dan cucu-cucunya.
*****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here