Sepasang Kekasih yang Ingin Bertemu Nabi

3
318

Sang Lelaki/

Tidak ada yang memaksanya menikah. Justru dialah yang memaksa ayah dan ibu agar merestui keinginannya menikah. Keinginan itu datang begitu saja. Begitu menggebu. Menyita hampir seluruh pikirannya. Ibadahnya, kuliahnya, dan bahkan pekerjaan-pekerjaan lain mendadak menjadi tak begitu penting. Menikah. Hanya itu yang ada di benaknya.

Perjuangan itu ia mulai. Perjuangan mendapatkan restu dari orangtua. Ia yakin tak akan mudah. Keinginannya akan ditentang. Tapi ia akan berjuang. Ada seorang perempuan yang harus ia selamatkan. Tidak hanya sang perempuan, bahkan dirinya juga harus segera diselamatkan.

“Mengapa Kau ingin menikahinya?”

Ia terdiam. Matanya menghunjam lantai. Pertanyaan dari sang ayah harus dijawabnya dengan tepat. Lelaki paling dihormatinya itu hanya perlu untuk diyakinkan. Pun begitu dengan wanita yang duduk di sampingnya.
Karena mencintainya? Apakah itu jawaban yang tepat? Terlalu klise. Karena dia cantik? Ini juga klise. Lagipula cantik itu relatif. Karena dia perempuan salehah? Bukankah ayah dan ibunya mengenal seperti apa Siti selama ini?

“Karena aku ingin menggenapkan separuh agamaku,” jawaban itu akhirnya mengalir lancar keluar dari mulutnya. Itu bukan jawaban darinya. Itu ia kutip dari ucapan Nabi dari buku yang ia baca beberapa hari lalu. Jika seseorang menikah, maka ia telah menggenapkan separuh agamanya. Dalam hal apapun, bukankah nabi selayaknya panutan?

“Haruskah dengan dia?” Ia dicerca dengan pertanyaan lain. Entah ini sudah pertanyaan yang keberapa sejak mereka selesai makan bersama sehabis magrib tadi. Jawabannya tadi sungguh tidak tepat. Jika sudah tepat, ayahnya tentu akan mengangguk, lalu menanyakan kapan akan dilangsungkan. Tapi ayahnya beralih ke pertanyaan lain. Haruskah dengan dia? Tentu saja ayahnya menanyakan itu.

“Ayah, ini masalah hati. Hatiku telah terpaut padanya.”

“Tapi mengapa?”

Ia paham. Ia sangat mengerti mengapa orangtuanya tidak langsung menyetujui saja permintaannya. Ayah dan ibunya memang pantas mempertanyakan keputusan yang ia ambil.

Perempuan itu bernama Siti. Perempuan yang sejak awal tadi menjadi topik pembicaraan mereka. Perempuan dari kampung sebelah yang dulunya adalah pembantu di rumah mereka. Siti memang cantik, setidaknya menurut pandangan matanya. Siti juga perempuan salehah, rajin shalat dan pintar mengaji. Keputusannya untuk menikahi perempuan itu tentu saja menjadi tanda tanya bagi ayah dan ibunya. Ayahnya, seorang yang disegani di kampung itu. Apa kata orang-orang jika anaknya nanti akan menikah dengan mantan pembantu mereka? Ditambah lagi, umurnya dan Siti berjarak lima tahun. Siti lebih tua.

Angan lelaki itu melayang. Tiba-tiba ia rindu sosok baginda nabi. Ia ingin bertemu. Mengajak nabi menemui kedua orang tuanya.

***

/Sang Perempuan/

Tepat pukul tiga dinihari saat perempuan itu mengakhiri sujud panjangnya. Tanpa melipat terlebih dahulu sajadah dan mukenah yang ia kenakan, perempuan itu meraih ponsel yang dia letakkan di atas nakas di samping tempat tidurnya. Ia tekan aplikasi whatsapp, mencari sebuah pesan masuk dan kemudian membacanya.

Assalamualaikum
Kak, maafkan aku atas semua yang sudah-sudah. Maafkan atas kelancanganku mengirimkan pesan ini. Aku sudah pikirkan matang-matang. Tekadku sudah bulat. Aku ingin menikahimu. Apakah kakak bersedia menjadi istriku?
Aku menunggu jawabanmu.

Air matanya menetes. Selalu begitu setiap ia selesai membaca pesan itu. Pesan yang dikirimkan sebulan yang lalu itu hampir tiap hari ia baca. Dan setiap selesai membaca, ia tak kuasa menahan laju air matanya. Setelah melewati istikharah panjang dan berulang-ulang, tiga hari yang lalu ia membalas pesan itu.

“Bismillah, insyaallah aku bersedia. Kutunggu dirimu dan keluargamu menemui ayah dan ibuku.

***

/Sang Lelaki/

Sudah lebih dua jam ia duduk di depan jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. Waktu sudah mendekati dini hari. Perdebatan panjang dengan ayahnya beberapa hari lalu masih jauh dari titik temu. Pembicaraan itu belum purna. Kedua orang tuanya masih jauh dari kata setuju. Bukan tak setuju ia ingin menikah, tapi karena calon yang diajukan pada ayahnya.

“Kau pikirkan lagi baik-baik, ayah sudah capek, mau istirahat.” itulah perkataan pamungkas ayahnya menutup pembicaraan mereka malam itu.

Sebelum memohon restu, ia sudah pikirkan ini baik-baik. Tak ada kekurangan yang ia lihat pada diri Siti. Ia dulu memang pembantu, lalu apakah salah jika dinaikkan statusnya jadi menantu? Usianya? Bahkan seluruh jagad juga tahu berapa jarak usia Nabi dan Khadijah. Di atas semua itu, Siti perempuan yang berakhlak baik, wanita beragama idaman para lelaki saleh.

Dan ayahnya tidak merestui.

Status sosial Siti menjadi penghalang utama. Dirinya dan diri Siti bertolak belakang hampir dalam semua hal. Siti pembantu, ia majikannya. Siti orang tak mampu, ia anak bangsawan kaya raya. Siti tak bersekolah, ia kini bahkan sedang mengambil gelar S2.

“Ayah dan ibumu akan merestui, tapi bukan Siti. Dan bukan saat ini.”

Ia arahkan pandangan ke angkasa malam. Ribuan bintang balas menatap ke arahnya. Sketsa wajah Siti seakan tengah tersenyum di samping bulan yang kian redup ditutup awan. Perlahan, wajah Siti benar-benar tenggelam ke dalam awan. Menyusul kemudian, cahaya bulan ikut padam.

Sungguh, ia sangat rindu bertemu nabi. Orang paling tepat untuk mengadu di saat-saat seperti ini.

***

/Sang Perempuan/

Ia masih menunggu.

Ini bukan kali pertama ada yang ingin mempersuntingnya. Sudah beberapa lelaki yang menyatakan langsung, pada dirinya, pada temannya, dan juga ada yang langsung menemui orang tuanya. Ia tak begitu saja menerima. Ia sudah memiliki kriteria, tak harus kaya, tak harus rupawan, tak harus sarjana, ia hanya punya satu kriteria, saleh.

“Untuk apa lagi kau patok kriteria itu? Ingat usiamu!” selalu begitu kata ibunya usai seorang lelaki berpaling meninggalkan rumah mereka, setelah mendapat penolakan darinya.

“Bu, ini pernikahan, bukan hal main-main.”

“Yang paling penting saat ini, kau mendapatkan seorang suami.”

“Pernikahan adalah komitmen bersama seumur hidup. Kriteria tetap harus dikedepankan, tak guna menyesal belakang hari.”

“Kau pikir Nurdin tidak baik? Di mana kurangnya Faisal menurutmu? Lalu Zaki, setahuku, mereka orang-orang yang tidak meninggalkan shalat.”

Kriteria saleh yang ia patok memang diartikan tidak pernah meninggalkan shalat oleh sang ibu.

“Mereka masih suka begadang di warung kopi sampai larut malam, Bu.”

“Itu menandakan mereka hidup bermasyarakat.”

“Sesekali minum, sesekali menyabung ayam, bahkan memasang taruhan, apa itu juga menandakan mereka hidup bermasyarakat?”

“Yang penting mereka tidak main perempuan. Siti, tak ada manusia yang sempurna, baginda rasul sudah lama tiada, kau jangan bermimpi terlalu tinggi.” entah bagaimana ia akan meyakinkan ibunya kalau yang ia perbuat sekarang justru karena ia mengikut apa kata nabi. Nabi, seandainya ia ada di sini.

Perdebatan itu selalu berakhir sampai di situ. Tapi esok-esoknya, hal itu akan diulang-ulang lagi oleh sang ibu.

***

/Sang Lelaki/

Waktu itu ia baru berusia tiga belas tahun, kelas dua SMP. Sepulang sekolah ibunya mengenalkan seorang perempuan bernama Siti. Pembantu baru di rumah mereka menggantikan Mak Rania yang sudah tua dan sering sakit-sakitan. Siti, remaja putus sekolah yang berasal dari kampung sebelah.

Bertahun-tahun Siti menjadi pembantu di rumah mereka, hingga kini saat ia tengah menjalani studi S2 di kampus almamaternya. Kala itu, banyak hal menarik atau istimewa yang dilihatnya pada Siti. Perempuan itu sangat telaten mengerjakan tugas rumah tangga. Bangun paginya selalu diawali dengan tahajud. Setiap habis salat fardu, ia selalu membaca alquran di kamarnya. Hal yang baginya dulu sangat mengganggu, namun lama-lama terbiasa karena sering dimarahi ibu. Bahkan, ia sering minta Siti mengajarinya mengaji.

Ketika tamat SMA, ia melanjutkan kuliah ke kota. Ia sudah jarang pulang ke rumah. Paling hanya sebulan sekali, atau kalau ibunya mengatakan lagi rindu. Entah bagaimana perasaan ibunya jika tahu, ia pulang sebulan sekali karena ada perempuan yang ia rindukan di rumah itu. Dan bukan ibu.

***

/Sang Perempuan/

Ia memang tak lagi muda. Usianya sudah melewati kepala tiga. Ia menyadari hal itu. Tapi siapa yang paling berkuasa atas jodoh? Tak akan ada yang menyangkal jika jodoh itu Tuhan yang atur.

Sejak menerima pesan whatsapp dari lelaki itu, ia mulai sering melamun. Lelaki itu, adik kecilnya yang dulu sering ia bangunkan tidur untuk salat subuh. Mereka dulu begitu dekat. Ia sering mengajarinya mengaji seusai magrib. Ia juga sering bercerita tentang kisah-kisah pemuda di zaman nabi. Tapi dari semua yang pernah ia ceritakan, kehidupan baginda nabi adalah cerita yang sering ia suruh untuk diulang-ulang.

“Kak, bagaimana caranya agar kita bisa bertemu Nabi?” tanyanya saat itu, kala ia masih duduk di bangku kelas 3 SMP.

“Ikuti sunnahnya, maka kita akan masuk dalam golongannya. Dan orang-orang yang masuk dalam golongannya, akan berkumpul dengannya kelak di surga.”

Berstatus sebagai pembantu dan majikan, banyak hari telah mereka lewati bersama. Hingga suatu malam, satu bulan sebelum ia menerima pesan whatsapp itu, saat kedua majikannya pergi umrah, sang lelaki itu pulang ke rumah. Sejak kuliah ia memang sudah menetap di kota, hanya sesekali melihat orang tuanya.

Ia yang saat itu tertidur di kamar, sama sekali tidak menyadari kalau putra sang majikan sudah pulang dan diam-diam memasuki kamarnya. Ia baru terbangun saat ia rasakan susah bernapas dan kemudian menyadari tubuh sang lelaki telah menghimpitnya. Ia berteriak namun mulut sang lelaki menutupi mulutnya. Ia meronta, ia berdoa, ia menangis, ia istigfar.

Begitu sadar bahwa dirinya tengah dikuasai nafsu, lelaki itu kemudian berlari ke luar kamar, meninggalkannya yang masih menangis. Ia hanya mendengar suara motor lelaki itu meninggalkan rumah, kembali ke kota.

Itu adalah perjumpaan terakhir mereka. Begitu kedua majikannya pulang umrah, ia menyatakan ingin berhenti. Alasannya sederhana, ibunya sering sakit karena tidak ada yang menjaga.

Dan sebulan yang lalu, sebulan setelah kejadian itu, lelaki itu meminangnya lewat sebuah pesan whatsapp. Menyadari tingginya tempat lelaki itu berdiri, selama ini ia hanya menyebut lelaki itu dalam doa-doanya. Tidak ada yang tahu, lelaki itulah alasan utama selama ini ia menolak semua pinangan dari lelaki lain. Ia juga menginginkan lelaki itu, tapi tentu saja setelah waktunya diperbolehkan.

***

/Sepasang Kekasih/

Mendung tebal yang sejak tadi menggantung di langit, tiba-tiba mencurahkan hujannya. Tidak tanggung-tanggung, langit seakan mau runtuh. Lelaki itu tak kuasa lagi melarikan motornya makin laju. Memasuki persimpangan desa, ia menepikan motornya, berhenti pada sebuah gubuk tua yang sudah lama tidak ada penghuninya.

Begitu turun dari motor, ia dapati di sana seorang perempuan tengah berteduh juga. Jantungnya berdetak tidak karuan. Perempuan yang hampir ia gagahi sebelum waktunya. Perempuan yang sebulan lalu ia pinang lewat sebuah pesan whatsapp dan diterima. Perempuan yang kini ia perjuangkan di hadapan ayahnya demi mendapat sebuah kata restu.

Perempuan itu lebih kaget lagi begitu mengetahui sang lelaki turun dari motor. Ia tak sanggup memandangi wajah lelaki itu. Lelaki pertama yang menyentuhnya sejak ia beranjak balig. Tak hanya menyentuh, lelaki itu bahkan sudah menciumnya. Sesuatu yang sebenarnya ia harapkan, tapi datang di saat waktunya belum tepat.

Mereka berdiri dalam rentang tiga meter. Diantarai oleh motor sang lelaki. Bersamaan, keduanya mulai mendapat bisikan-bisikan. Hujan makin menderas. Perempuan itu menggigil kedinginan. Pelan, sang lelaki mendekatinya. Masih dalam debaran yang sama, ia membuka jaketnya yang sedikit basah dan menyelimuti sang perempuan.

Pelan, perempuan itu mengangkat wajahnya, lelaki itu tersenyum, ia membalasnya. Lakukanlah sekarang, maka tak ada lagi yang akan menahan restu itu diturunkan. Bisikan itu mulai terngiang di telinga keduanya. Setelah menikah, sepanjang tahun hingga akhir hayat adalah waktu untuk bertobat. Tak ada dosa yang tak diampuni.

Mata mereka mulai berbicara. Keduanya seperti sepakat. Sang pemuda mendorong pintu gubuk tua. Saat ia akan menarik tangan sang perempuan untuk masuk ke dalam, petir menggelegar, disusul kilat yang serupa cemeti malaikat membelah langit di ujung desa.

Perempuan itu langsung berlari menerobos hujan, meninggalkan pemuda itu sambil menangis.

Akankah nabi nanti mau menemui mereka? [*]

Payakumbuh, November 2020

TENTANG PENULIS

*) Uda Agus, belajar menulis secara autodidak. Bergabung pertama kali dengan FLP Wilayah Sumatera Utara pada tahun 2000 dan menjadi bagian dari FLP Wilayah Sumatera Barat sejak tahun 2006 (NRA 010/D/003/001). Tulisan pertamanya dimuat di majalah Annida (Juli, 2001). Buku perdananya, kumpulan cerpen berjudul Ngebet Nikah (DAR! Mizan, 2004). Tahun 2010 cerpennya yang berjudul Memanggil Rantau berhasil menyabet juara 1 dalam Lomba Menulis Cerita Pendek Islami yang digagas oleh Annida-Online. Setahun berselang ia kembali meraih juara I dalam Lomba Menulis Cerpen STAIN Purwokerto dengan cerpen berjudul Lelaki yang Dibeli, cerpen yang pada tahun 2013 mengantarkannya menjadi emerging writer dalam perhelatan sastra Ubud Writers and Readers Fetival. Ayah empat orang anak yang sehari-hari bekerja sebagai ASN ini sejak tahun 2011 konsisten menggelar lomba menulis cerpen hingga saat ini. Saat ini, berdomisili di Payakumbuh, mengelola sebuah rumah baca, Pustaka Dua-2 (Rumah Baca dan Diskusi Sastra). Untuk lebih dekat dengannya, bisa menghubungi uda_agus27@yahoo.com atau di nomor 085274244342.

Previous articlePak Jaya yang Aneh
Next articleEmak, Lebih Strong Yuk!
Uda Agus
Belajar menulis secara autodidak. Saat ini bergabung dengan FLP Cabang Paliko (Payakumbuh - Lima Puluh Kota). Tulisan pertama dimuat di majalah Annida (Juli, 2001). Buku perdana kumcer Ngebet Nikah (DAR! Mizan, 2004). Tahun 2013 diundang sebagai emerging writer dalam Ubud Writers and Readers Fetival. Sejak tahun 2011 konsisten menggelar Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus (LMBUA) hingga sekarang. Berdomisili di Payakumbuh, mengelola Pustaka Dua-2 (Rumah Baca dan Diskusi Sastra) dan www.pustaka22.com. Bisa dihubungi via uda_agus27@yahoo.com atau 085274244342.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here