Memasuki Ramadan Tanpa Bekal, Mungkinkah Optimal?

0
58

Rabbku
Kumasuki Ramadan
Dengan tubuh lelah, pakaian lusuh
Jiwa pun compang-camping…
Namun begitu, wahai Rabbku…
Rabbku, izinkan aku
Menjahit robekan-robekan itu
Menyulamnya jadi indah
Lalu mencuci sebersih mungkin
Untuk kukenakan saat lebaran

Menurut riwayat-riwayat yang shahih, para Sahabat dan Ulama terdahulu, telah mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadan jauh-jauh hari sebelum bulan mulia ini datang. Begitu seriusnya insan-insan mulia ini dalam memantaskan diri menjemput kemewahan hadiah Allah SWT ini, sampai seakan-akan, Ramadan telah menjadi garis yang membagi sebuah tahun hanya menjadi 2 bilangan: evaluasi Ramadan sebelumnya, dan persiapan Ramadan yang akan datang.

Bagaimana dengan kita, atau sebagian besar dari kita (termasuk di dalamnya adalah saya, hiks), yang selalu memasuki Bulan Ramadan dengan terkaget-kaget. Lho, kok udah Ramadan. Bulannya saja dimasuki dengan kaget, jangan tanya persiapannya. Compang-camping, tentulah!

Mengapa kaget? Karena lupa, lalai, tidak mempersiapkan, atau disibukkan dengan berbagai urusan yang melenakan. Ya, tidak sama sekali tanpa bekal, sih. Tetapi, barangkali bekalnya tidak cukup. Bekal fisik kurang, bekal ilmu sangat minimalis, bekal ruhiyah apalagi … begitu lusuh. Lantas, apakah dengan sangat sedikitnya bekal yang kita miliki, kita bisa menjemput kesempurnaan Ramadan?

Tentu memang tidak bisa disamakan antara orang yang bersiap jauh-jauh hari dengan yang lupa. Ibarat sosok yang hendak menuju medan pendakian gunung, orang yang bersiap-siap memiliki fisik bugar, perbekalan yang lengkap dan rinci, pakaian bersih dan layak untuk mendaki, dan juga peralatan-peralatan yang dibutuhkan pun lengkap. Bedakan dengan orang yang baru pulang dari kantor mendadak mendaki gunung. Pakaiannya jelas bukan pakaian untuk mendaki, sepatunya tidak nyaman untuk berjalan jauh, tasnya—alih-alih berisi bekal, justru membawa laptop dan berkas-berkas pekerjaan. Apalagi fisik dan mentalnya. Dalam kondisi capek, stress memikirkan pekerjaan yang tak habis-habisnya, dan bahkan mungkin sedang kelaparan dan tidak sempat membeli bekal makanan.

Tetapi, tanpa bekal bukan berarti tidak bisa optimal. Jika Ramadan memang sudah tiba, meskipun persiapan kita compang-camping, kita bisa berupaya sebisa mungkin. Ibarat kain yang kotor, Ramadan akan membersihkan kita, mencelup kita dengan wewangian. Ibarat pakaian yang cabik-cabik, Ramadan akan merajut robekan itu, bahkan memberikan sulaman yang indah tiada tara.
Memang kita tidak akan sebaik orang-orang yang bersiap, tetapi berkah Ramadan tetap akan memberikan kita keharumannya. Jadi, jangan putus asa! Tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. Allah SWT tetap membuka jalan bagi siapapun yang ingin mendekat padaNya. Bahkan, jika kita berjalan pelan, Allah akan menyambut dengan langkah cepat. Jika kita berjalan cepat, Allah akan menyambut dengan berlari.

Selangkah kurapat padaMu, seribu langkah, kau rapat padaku….

Allah sangat senang menjemput taubat hamba-hambaNya. Kita pun sering mendengar kisah-kisah tentang pengampunan yang luar biasa. Misal kisah seorang yang telah membunuh 100 jiwa, lalu dia tersadar dan bertaubat. Dia baru hendak menuju ke kampung kebaikan, di perjalanan dia meninggal. Dan Allah SWT mengampuninya.

Kita tentu masih mengingat Hadist Arbain ke-42 ini, kan? Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman: ‘”’Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika engkau senantiasa berdoa dan berharap kepada–Ku, niscaya Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam kalau seandainya dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada–Ku, niscaya aku akan memberikan ampunan kepadamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam seandainya engkau menghadap kepada–Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian engkau berjumpa dengan–Ku dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At Tirmidzi, dan dia berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Segala sesuatu bergantung pada niat. Jadi, ayo niatkan kita untuk optimal beribadah di bulan suci ini.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here