Pulang Kampung

0
63

Ini adalah kepulangan pertamanya dalam lima tahun terakhir. Selepas membayar upah tukang ojek, Kamal tak kunjung berjalan menuju rumahnya. Memang ada dua simpang. Yang satu mengarah ke kampung lain sementara yang satu lagi dengan jalan berbatu dan sebuah gapura dari bambu menuju ke rumahnya. Tentu ia tak mungkin lupa jalan mana yang harus dilalui.

Sejauh yang diingatnya, tidak ada yang berubah. Bayangkan, lima tahun tidak ada yang berubah. Alangkah monoton. Ada pos ronda, gapura bambu yang masih kokoh, dan jalanan berbatu yang sering dikeluhkannya setiap melewati jalan itu. Namun, rasa kangen membuatnya ingin kembali untuk melihat rumah yang tak dihuni siapa pun kecuali ilalang panjang dan sepoi angin.

Kamal masih tertegun di sana, menatap jauh seolah ragu ingin menjejakkan kaki lagi di kampungnya atau balik kanan pergi entah ke mana. Beragam ingatan berlesatan dan sialnya mereka selalu datang saat benar-benar ingin dilupakan. Namun, toh, ya, ingatan itulah dan kenangan yang membuatnya ingin kembali sekali lagi selepas tidak ada siapa-siapa yang perlu disambangi.

Mendekati hari lebaran, pulang kampung seolah sebuah keharusan sebab ada peluk hangat yang menanti, ada kue-kue berjajar di tiap meja, dan opor ayam yang selalu ditunggu, tetapi yang menantinya kini telah musnah, semuanya lenyap ditelikung nasib. Lalu, apa artinya pulang ketika keberkahan telah tercerabut? Kepada siapa ia sungkem, bermaafan, dan kepada siapa pula ia bercerita tentang rencana hidupnya kelak? Artinya, sudah tidak ada arti kepulangan, tetapi selama lima tahun ia pernah sekali bermimpi untuk kembali seolah sebuah tuntutan yang harus dipenuhi meski ada beberapa hal yang terus berseliweran dan mengganggu pikirannya. Dengan berbagai pertimbangan, ia memesan tiket pulang.

Dibawanya tas ransel kecil dengan perbekalan apa adanya. Ia juga menyiapkan tekad yang coba ditegarkan meskipun kenangan itu terlampau pahit. Satu, dua, tiga, ingatan itu mengalur lagi, babak per babak sampai penuh meluap jadi gemuruh yang tertahan di dadanya. Ia ingat betul.

***

“Permisi,” ucap seorang perempuan di depan pintu. Ia menenteng baju dan seorang anak kecil dalam gendongan, sementara Kamal dan ibunya menatap nanar. Tak kunjung dijawabnya salam itu. Abangnya hanya diam di depan televisi.

“Apa benar ini rumahnya Mas Bagja?”

Hanya ada satu nama Bagja di rumah ini, yaitu seorang lelaki, seorang pemimpin istri dan dua anak laki-laki. Lalu, untuk apa seorang perempuan dengan bayi di gendongan datang mencarinya? Mulanya Ibu enggan mempersilakan masuk. Ada tanya yang tak kunjung pergi, tetapi jelas setelah seseorang yang dicari, Mas Bagja, datang dengan wajah pucat pasi. Ia tak bisa menjelaskan.

Seolah tahu situasinya, perempuan itu berkilah, “Maaf, saya salah rumah!”

“Loh, katanya nyari Mas Bagja? Ini Mas Bagja.”

“Maaf, permisi!”

Ibu mencekal tangannya dan mendudukkannya di kursi tamu. Seolah ada kasih sayang yang melenggang pergi, tetapi Ibu tidak bisa membenci. Apalagi melihat bocah kecil dalam gendongan yang menangis, juga Ibu, juga perempuan itu yang berkali-kali meminta maaf sementara Bapak entah ingin berkata apa. Ia tidak bisa berkata-kata sebab kesalahannya sendiri diam-diam menikah siri dengan anak rekan kerjanya.

Ibu tak bisa membenci sebab sesuatu yang telah terjadi, toh, mutlak takdir Tuhan. Baik buruknya harus diterima dengan dada seluas samudra.

“Carikan tempat tinggal. Kasihan,” pinta Ibu kepada Bapak.

Tak jauh dari rumah kecil itu, mereka membangun rumah tangga baru. Sekali-dua Bapak kembali seperti pekerja shift yang bergantian tugas, tetapi dalam penglihatan anak-anaknya, ia tak lebih hanya sebagai seorang penjahat. Rasa hormat mencuat pergi. Namun, Ibu tak menganggapnya sebagai beban meskipun entah tak pernah diketahui apa-apa yang ada di dalam hatinya, entah ia menangis, meraung, marah, atau apa? Ia hanya memasang wajah biasa setiap harinya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan, Ibu kerap memasak untuk perempuan atau Ibu amatiran itu, menengok bocah kecil yang tak pernah dianggapnya sebagai sebuah aib atau kesalahan. Persetan dengan omongan tetangga yang selalu disimpan dalam diamnya. Ia tetap bersikap biasa meski punggungnya kian melengkung dan ubannya mengilat ranum bermunculan. Jalannya pun kian lamban.

Saat lelaki jahat itu sering mengeluh lehernya sakit akibat salah bantal, Ibu tak sungkan memijitnya dengan lembut sebab ia masih istrinya dan lelaki jahat itu masih pula suaminya. Saat sebuah benjolan muncul di tengkuk lehernya, Ibu pun masih menemaninya ke klinik untuk memeriksakan benjolan yang makin besar. Kata bidan, Bapak harus dirujuk ke rumah sakit besar. Lalu, kata dokter benjolan itu mengandung bibit tumor.

“Halah! Cuma tumor!” kilah Bapak menantang. Ibu mencubitnya pelan, barangkali itu bukan candaan. Ia takut kehilangan. “Nanti juga hilang,” sambungnya. Iya, memang hilang tumor itu, tetapi nyawanya juga ikut hilang selepas dua tahun menahan sakit. Tumor itu kian lekat.

Satu orang tiada. Tinggal Abang dan Ibu. Hingga suatu malam, tepat pada malam Nuzulul Qur’an ….

“Apa itu ribut-ribut di luar, Mal?” tanya Ibu berupaya menyembunyikan panik yang jelas tidak bisa disembunyikan sebab suara bising itu menuju gubuk reotnya.

Entah bagaimana sebenarnya peristiwa itu terjadi, yang jelas menurut tutur orang, selepas salat tarawih, ada warga kampung sebelah yang kehilangan seekor ayam jago. Hal itu bukanlah yang pertama kali. Amarah sudah tak tertahan lagi. Lantas, Abang menggaet sarung dan lari lintang-pukang ke halaman belakang. Menghilang.

“Bunuh!”

“Bakar!”

“Enyahkan!”

“Astaghfirullah! Abang!” pekik Ibu.

Nahas, amarah itu tidak dapat dilerai. Obor berkobar penuh kebencian. Senjata tajam diacung-acungkan. Lengking teriakan luapan emosi melebihi anjing-anjing liar yang menyalak. Seolah alam menyaksikan, bulan yang terang mendadak tertutup awan kelam. Abang jadi buronan pada malam itu dan bulan yang suci, malam yang suci jadi saksi kepulangannya yang hanya tinggal nama.

Tubuhnya lebur sehabis digelandang di jalanan sementara Ibu meminta keadilan. Abang tak pernah mencuri. Ia tak pernah sekali pun mengajarkannya demikian. Abang hanya salah pergaulan. Ia cuma ikut-ikutan atau barangkali cuma numpang lewat saat temannya gegas berlari membawa barang curian itu. Ibu amat yakin Abang kena fitnah! Usaha Ibu meyakinkan hanya sia-sia. Lalu kata mereka tindakan itu adalah pengadilan yang sudah benar untuk mengurangi siksaannya di neraka. Orang-orang menatap nyalang, angkuh, dan berlagak adil seperti Tuhan.

***

Hanya tinggal Ibu yang tubuhnya kian ringkih. Belum genap setahun, istri muda Bapak menikah lagi. Ia dibawa pergi ke luar kota. Padahal, Ibu berencana untuk mengajaknya kemari, belajar jahit, menjual kain, dan memulai usaha kecil-kecilan.

Sambil menyulam kain, Ibu sering melamun, menatap jalan yang jauh. Dulu, tiap sore, ketika Ibu menyulam kain pesanan orang di teras rumah, itu tandanya ada seseorang yang sedang ditunggu, yaitu Bapak. Lalu, Abang pulang selepas ikut nguli dan Kamal main kapal-kapalan di sejalur parit dangkal sepulang ngaji. Namun, kini yang ditunggu sudah tidak ada. Entah kini yang ditunggunya siapa, tetapi ia tetap duduk di sana tiap sore, sambil sesekali menatap jalan berbatu yang jarang dilalui orang.

Kehilangan memang begitu menyakitkan. Apalagi saat tetangga juga perlahan menjauh sebab melihat keluarga itu sebagai rumah tangga yang gagal. Cita-cita Kamal menamatkan SMA pun gagal sebab masalah ekonomi, masalah , juga sebab Ibu yang mesti diurus selepas jatuh dari kamar mandi dan mendadak bibirnya tak bisa berucap. Ibu lumpuh total.

Kebanyakan waktunya habis terbaring di kasur seolah dunia tak berputar dan berhenti di situ. Selepas dua kali pengobatan, Ibu kembali bisa bicara, tetapi kakinya masih kaku dan pembicaraannya selalu saja menjurus pada soal kematian.

“Bila Ibu meninggal tolong pilih tempat yang dekat sama Bapak dan Abangmu.” Kamal selalu benci kala membahas itu, tetapi serapat-rapatnya telinga ditutup, ia tak bisa mengelak. Suatu saat, toh, semuanya akan pergi. “Ya, memang ajal nggak ada yang tahu, tapi kita wajib bersiap-siap juga, kan?”

Hari-hari selanjutnya, Kamal makin dipahamkan bahwa kematian memang begitu dekat saat Ibu lebih banyak bicara sendiri dengan sosok di balik jendela yang katanya siap menyambutnya dengan kereta. Saat Ibu selalu menolak nasi yang disuapkan dan katanya ia tak sabar sebab seseorang telah menunggunya. Ia sudah siap, tetapi Kamal tak pernah merasa sanggup. Namun, perpisahan adalah pertemuan. Barangkali Bapak dan Abang di sana memang telah menanti untuk bersama lagi.

Kamal juga berangsur-angsur dipahamkan tentang hukum alam bahwa yang datang pasti akan pergi dan yang pergi pasti untuk kembali. Semua yang dicintainya telah tiada. Semua yang ada di dunia tak lebih hanya sekadar titipan yang bisa diambil kapan saja. Semuanya fana. Semuanya hanya ilusi. Namun, ada baiknya juga, ketika tak didapati adanya beban dan ia memutuskan untuk pergi melupakan segalanya, ke mana pun, sejauh-jauhnya. Ia pergi meninggalkan rumah yang telah kokoh dibangun dengan cinta dan kampung halaman yang kelak akan amat ia rindukan. Namun, toh, sejauh-jauhnya ia pergi, tidak akan ada yang mencari dan menunggu seperti dulu, tetapi tetap, melupakan hanyalah upaya yang sia-sia. Kamal memutuskan untuk kembali selepas tak kunjung ditemukannya kebahagiaan. Mungkin dengan kembali ia bisa memperoleh penawar rindu.

***

Kamal masih ragu-ragu antara memasuki jalan berbatu, melewati gapura bambu menuju rumah lamanya itu atau kembali pergi entah ke mana. Ia paham tidak akan ada yang menyambutnya, tidak ada kue lebaran, tidak ada opor, dan tidak ada sungkem.

Mendekati lebaran, biasanya ia ikut sibuk membuat ketupat santan, tetapi lima tahun berlalu, ia pasti telah lupa bagaimana mengayam daun kelapa muda hingga membentuk sebuah wadah beras yang kemudian direbus hingga lembek. Lalu, opor ayam yang paling disukai dengan kuah santan yang kental, irisan daun bawang, dan cabai keriting. Abangnya telah menyiapkan air kelapa untuk menetralisir rasa panas akibat makanan bersantan. Tentu ia amat rindu masa-masa itu.

Selepas sekian kebimbangan yang membuatnya diam mematung di sebuah simpang yang menghubungkan dua kampung, akhirnya Kamal mengayunkan kakinya, tetapi bukan untuk melewati lengkung gapura dan jalan berbatu menuju rumahnya, melainkan ia berbalik arah, menuju permakaman umum yang telah ia lewati beberapa kilometer.

Ia tahu, di sana pula tidak akan ada yang menanti di tengah daun pintu untuk menyambut kepulangannya, tetapi setelah salam diucapkan, doa-doa, dan ayat-ayat suci dirapalkan, mereka pasti sangat senang.[]

Sumberejo, 18 April 2022

Penulis bernama Firman Fadilah, tinggal di Lampung.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here