Tujuh Tahun Cinta

9
612

Fahimah
Bercerita cinta, entah ke mana muara sepasang hati usai terikat janji. Mungkinkah ijab kabul pria yang akan menikahiku besok pembuka terbaik soal cinta. Rupa-rupa cerita lanjutan seperti masih menunggu.

Malam ini aku mendapati Mama duduk di balkon belakang. Kutemani dirinya memandang lembut taburan bintang. Entah, seperti ada gemintang yang menariknya pada sebuah masa. Aku bertanya takzim, sembari menggenggam jemarinya yang mulai keriput ditelan renta.

“Ma, Fahimah nanti harus bagaimana setelah menjadi istri? Fahimah tak bisa masak yang enak, sering teledor, tidak pandai berdandan. Fahimah takut, Ma.”
Mama menarik nafas sejenak. Dari dalam rumah, terdengar keluarga besar kami bercengkerama. Riuh rendah penuh kegembiraan, menyiapkan perhelatan istimewa.
***

Malam pekat sekali. Gemintang Auriga membuatnya tampak lain. Bintang-bintang cantik merangkai sosok sais kereta perang. Dan memandang Auriga, aku tak ingin sama sekali ditemani pria itu. Bahkan aku berharap pada Auriga supaya dia lenyap.

“Tuhan, dia sosok asing bagiku. Bagaimana mungkin kini menjadi suamiku. Engkau tahu maksudku, bukan? Tolong kabulkanlah.” Demikian bait pengharapan tiap kali kutunggu sang sais melesakkan satu bintang jatuh ke bumi. Tak peduli pria itu ada di belakangku. Bergelut riang bersama dua putri bersuara manja. Bahkan bila dia mendengar sekali pun doaku, itu akan jauh lebih baik.

Aku tahu, mereka bertiga kerapkali melirikku berkutat sendiri di balkon belakang rumah. Ditemani kesetiaan tujuh tahun Auriga. Tiap malam selama Februari kubiarkan raga di sini. Berharap tahun ini Auriga berbaik hati. Tapi aku menelan kecewa, seiring pukul 21.00 terulur jauh, Auriga meredup. Tanpa memberiku apa-apa.

“Jangan ganggu Mama. Itu waktu terbaiknya menunggu untuk berdoa,” ujar lelaki yang wibawanya hanya mampu menenggelamkan dua orang anak di rumah ini. Seperti juga selera humor yang membuat fans kecilnya itu kerap tertawa.

“Pada bintang Papa?” kutangkap pertanyaan heran satu dari dua putriku, Rahimah.
“Bukan. Tetap pada Allah, tapi mungkin suasana seperti sekarang yang paling membuat Mama senang berdoa.”
Lalu Fahimah menyambung, “Tapi kenapa Papa suka berdoa habis salat?”
***

Langkahnya tegap, meski kalah tegap dengan Pramono. Lakunya pun baik melimpahkan apapun yang kumau. Sebelum ke kantor pagi-pagi dia menyiapkan sarapan. Kerepotan memandikan dan menyiapkan peralatan sekolah si kembar. Aku cukup puas dengan hasil kerjanya, lalu malas-malasan bangun. Dia yang menginginkan. Setelah aku terpaksa hamil di usia 22 tahun saat aku merasa tak siap. Tepatnya enggan direpotkan dengan kehadiran anak. Tapi dia lalai dengan praktik KB kalender, yang sebenarnya ideku juga. Semua alat kontrasepsi kupikir berbahaya dan jelas akan membuat badanku melar tak menarik.

Maka menjelang siang aku sudah di luar rumah. Memanjakan tubuh dengan perawatan spa mewah, bercengkerama dengan teman-temanku yang masih muda, berbelanja, atau sekadar hang-out di kafe favorit kami. Kuabaikan urusan rumah tangga, karena bukan aku yang menginginkan sebuah keluarga dan meletakkan jabatan imam di bahunya.

Pria itu memang disodorkan tanpa celah. Santun, pekerja keras, sekaligus bertanggungjawab. Tapi Pramono tak pernah kalah dari pria itu, kecuali dari sisi keyakinan. Selebihnya Pramono unggul. Lebih tampan, tubuh putih menjulang, sopan, berkarir cemerlang di perusahaan multinasional dan sarjana cumlaude kampus favorit. Aku mencintai Mas Pram, sapaanku pada lelaki itu. Bukan pada pilihan ibu dan ayah yang tetap memandang Mas Pram tak layak karena fakta kami berbeda keyakinan.

“Auriga oh Auriga… aku harap engkau menjelma nyata. Lalu membawa aku pada tempat yang lain.” Boleh saja tidak pada Pram, karena sekarang dia telah menikah. Tapi tempat yang jauh, yang kupikir menghanguskan semua cinta pria berstatus suamiku itu.

Lalu kukibarkan bendera perang. Kutabuh genderang perang. Jika dia menginginkanku menjadi istri, penuhilah keinginanku. Kerap kumarahi dia menyesap kopi dengan menumpahkan terlebih dulu ke alas cangkir. Hanya karena meninggalkan bercak lengket di meja. Sebaliknya tak sekali pun dia khilaf menyeduh teh dengan celupan masih menggantung untukku. Aku tidak suka. Membuat kebiasaanku minum teh tak sempurna.

Aku juga tidak ingin melihat Fahimah dan Rahimah pulang dari taman komplek usai bermain dengan tampang kumal dan baju belepotan tanah. Dia meluluskan, membawa keduanya pulang dalam keadaan bersih. Tapi wajah puas dan gembira mereka bertiga selalu ada begitu memasuki rumah. Sampai aku memergoki kantong berisi pakaian kotor di dekat mesin cuci. Rupanya mereka bersalin pakaian bersih usai bermain. Masa bodoh. Aku tak peduli sepanjang cela itu tak ada di depan mataku. Toh, yang mencuci juga papa mereka.

Pada Rahimah dan Fahimah, aku hanya bercanda, bermain, dan menjadi ibu yang sesungguhnya jika pria itu tidak ada. Agak ganjil. Fahimah dan Rahimah sama sekali tidak protes. Menikmati kebersamaan tiga lawan tiga. Di mana aku dan pria itu seperti berebut ‘memimpin’ dua gadis kecil putri kami. Mereka tumbuh manis berhadapan dengan ibu yang menganggap ada seteru di rumah. Meski harus kuakui. Pria sabar itu bertangan dingin mendidik anak.

Sikapku sebagai istri bukan tak mengundang perhatian orangtua. Juga dua kakakku, Mas Abdi dan Mbak Anna. Mereka tahu karena aku tak pernah menyembunyikan jengah demi jengah.

“Ngemong anak, giat bekerja, setia, sabar. Apa sih kurangnya suamimu, Nur?” tanya ibu ketika berkunjung. Sama seperti yang lain. Beliau menobatkan pria itu sebagai menantu kesayangan.

“Justru karena dia sempurna, jadi klop punya istri seperti Nur. Toh dia juga tak masalah dengan sikap Nur, kan?” jawabku tangkas sambil mengoleskan kutek violet berkilau di kuku. Ibu hanya menggelengkan kepala melihat aku serupa batu.

“Sesekali coba berbuat manis. Sepadan atas apa yang beliau beri padamu, anak-anak,” tambah Mbak Anna. Aku malah melenggang tak peduli.

“Dia yang memilih Nur menjadi istri. Padahal tahu sebesar apa penolakan Nur.”

“Nur, kau jangan jadi istri durhaka. Pria yang baik tak pantas ditolak. Ibu dan Ayah yang memintanya menikahimu,” bentak ibu. Benar-benar marah. Kecewa berkilat di matanya. Sekilas kulihat Mbak Anna memegang bahu ibu, mencoba menyabarkan.

Aku berjalan ke balkon belakang membawa hati beku. Langit sedang hitam bersih. Sentimentilku mencuat. Ingin memanggil gugusan sais kereta perang. Ini hanya soal waktu yang belum tepat. Suatu saat nanti. Auriga akan menjatuhkan satu bintang. Aku membenci pria itu. Tidak peduli betapa dia mencintaiku dengan kesabaran bertumpuk tiada batas.

Kulipatgandakan amunisi. Jika biasanya sekadar salah kecil versiku cukup membuatku marah. Kini kucari semua alasan membencinya. Aku tidur membelakanginya tiap malam. Aku enggan menyentuh semua masakannya ataupun makanan yang dibeli di luar. Aku stop bicara padanya, kecuali jika ada perintah dariku yang harus ia tunaikan.

“Sayang, makanlah. Papa tahu, Sayang lapar.” Bujukannya menyodorkan steak kesukaanku tak membuatku bergeming.
“Atau ingin disuap Papa seperti Sayang hamil dulu?” ujarnya tersenyum menyuapkan sesendok isi piring. Ia memang penuh kasih sayang. Dulu juga telaten membujukku makan saat mengandung si kembar. Tak pernah berkurang. Sampai pada satu titik. Kadang aku berpikir apa yang salah denganku tentang ekspektasi pada pria bernama suami. Dia memang tak pantas dikasari, tapi aku tetap melakukannya. Sebegitu cinta butakah aku pada Mas Pram? Hingga tak ada tempat untuk lelaki lain.

Praang! Aku membanting sendok yang diangsurkan setelah menyambarnya dengan cepat. Potongan steak tergeletak lesu. Aku ingin keluar. Tak peduli sepagi ini belum ada tempat pelarian buka. Salon, mal, atau kafe. Akan kuhabiskan uang di rekening sampai angka nol.

Aku hang-out bareng teman sampai malam di La Lorina Kafe, sampai aku tak tahu harus ke mana lagi. Satu persatu mereka pulang karena ‘masih takut’ suami dan anak-anak. Sesuatu yang bukan cerminan diriku. Sekelebat pikiranku menyebut klub malam. Tempat ini belum pernah kudatangi, karena memang aku tak pernah berniat merusak tubuh dengan alkohol atau perilaku murahan. Kemarahan meletup-letup mengabaikan pikiran waras. Kupacu mobil menelusuri sebuah klub ternama, membelah metropolitan.

Hingar-bingar terdengar begitu aku masuk. Udara menghangat dan bau minuman menguar. Kupikir sejam kemudian aku mendekati mabuk. Setelah melihat orang-orang di pandanganku mulai pecah. Rasa asing membuat kepala berdenyut-denyut, bercampur rasa aneh di mulut. Aku hanya ingin membayar tagihan. Lalu pulang entah ke mana. Tanganku mengaduk-aduk tak sabar dompet di tas. Persis seperti si kembar kecil dulu mengacak-acak keranjang mainan. Tak ketemu. Kesal, aku membanting tas. Tak ada dalam kamus, Nurmala tak punya uang karena alasan apapun.

Rasa malu pada pengunjung lain yang menatapku bercampur geram pada pria itu. Kutelpon dia sambil bicara keras-keras setelah meminjam ponsel waitres. Dia harus menjemputku dan membayar tagihan minuman sialan tadi. Aku akan menang, jika dia tahu di mana mesti menjemputku.

“Sayang, Masya Allah. Kamu mabuk?” ucapan istighfar campur cemas masuk ke telingaku. Kudengar ada nafas tersengal-sengal yang entah apa dari suaranya. Aku tertawa sinis, dia pasti tak percaya aku seliar malam ini.

“Tunggu sampai Papa datang. Jangan minum apapun lagi, please. Papa segera ke sana.” Dia tak peduli ketika aku memaki. Mengatakan hanya butuh dia untuk membayar tagihan dan mengeluarkanku dari tempat laknat itu.
“Cepat ke mari! Atau aku tak perlu melihatmu lagi, Sayang….” Kutenggak lagi segelas wine.
***

Entah bagaimana sampai aku siuman pagi itu di rumah. Orang-orang berpakaian hitam berkerumun mirip adegan sinetron. “Aku belum mati bodoh…” ejekku dalam hati melihat ketololan mereka.
Tapi orang-orang tetap memandangku iba, seiring pandanganku makin jelas melihat sosok di hadapanku. Tertutup kain panjang.
“Dia, pria itu?”

Aku pias. Terhempas. Suamiku-kah pria itu? Aku tak bisa menjawab. Hening.
Lidahku kelu. Ini memang mauku. Momen yang kupinta pada Auriga, gemintang penyusun sais kereta perang telah merenggutnya.

Samar aku mendengar cerita ibu, pria itu meninggal karena serangan jantung, kesehatan yang payah. Cemas akut saat menjemputku, bersamaan ketika sebuah truk menghantam mobilnya. Saat ia sedang bertahan dengan kesadaran minus.

“Cepat ke mari! Atau aku tak perlu melihatmu lagi, Sayang….” Ucapan ‘sayang’ pertama dan terakhirku yang tak lebih dari cemooh terngiang-ngiang. Ucapan pada tahun ke tujuh pernikahan kami.

Pria itu, dia benar-benar meninggal. Tapi karena ulahku. Serangan jantung mendengar aku mabuk. Mataku panas saat membuka kain penutup wajahnya. Termangu. Inilah waktu di mana aku benar-benar lekat memandang wajahnya. Teduh yang sekarang pucat.

Dadaku sesak mengingat pemberiannya di tujuh tahun cinta. Kesabarannya melayani sarapan di pagi malasku, kata-kata halusnya di sela bentakanku, ajakan salat, kerudung jingga kado kecil saat syukuran Fahimah dan Rahimah hafal juz amma…. Tak pantas pahit yang kuberi menyepadankan cinta tulusnya. Amarah-amarah yang ditanggapinya sabar dan senyum yang tak pernah lekang. Tak kuketahui dia juga kerap pulang malam dan hanya sempat makan makanan sisa atau mie instan di saat aku telah tidur lelap. Dia tak memperhatikan kesehatannya, sementara sempurna melayaniku. Hanya sesekali dia makan di pagi hari, ketika sarapan aku dan anak-anak berlebih. Entah apapula yang dimakannya saat istirahat siang. Kopi kegemarannya yang tak lain demi menghalau kantuk, karena begitu banyak pekerjaan di kantor.

Aku tak berpikir lelaki manapun lagi. Sosoknya begitu hidup di hari-hariku sejak saat itu. Tidak juga Mas Pram yang telah bercerai dan berjanji akan mengikuti keyakinanku jika mau menikah dengannya. Bicara cinta, aku telah mengkhatamkan pada suamiku. Tepat di saat dia gegas pergi.
***

Rahimah
Aku tercekat di pintu menuju balkon. Melihat mama duduk di sofa tua yang tak pernah ingin beliau ganti. Di sampingnya berdiri Fahimah, saudara kembarku. Kini usia kami telah duapuluh dua tahun.
Besok, Fahimah akan melangsungkan ijab kabul dengan seorang pemuda. Malam ini aku mendapati mama dan Fahimah di balkon belakang. Keduanya memandang lembut taburan bintang. Entah, seperti ada gemintang yang menarik mereka pada sebuah masa. Fahimah bertanya takzim, sembari menggenggam jemari mama yang mulai keriput ditelan renta.

“Ma, Fahimah nanti harus bagaimana setelah menjadi istri? Fahimah tak bisa masak yang enak, sering teledor, tidak pandai berdandan. Fahimah takut, Ma.”
Mama menarik nafas sejenak. Dari dalam rumah, terdengar keluarga besar kami bercengkerama. Riuh rendah penuh kegembiraan, menyiapkan perhelatan istimewa.
***

Februari, malam ketika Auriga sedang berpendar. Aku tahu Rahimah mendengar pembicaraan kami. Kupanggil dia yang kemudian berdiri di samping mengapitku bersama saudara kembarnya, Fahimah.
Aku memeluk pinggang dua putriku, sambil berkata, “Sayangku Fahimah dan juga kau nanti Rahimah. Bercerita cinta, cintailah suami kalian atas apa yang dia miliki, kelebihannya, pun kekurangannya. Hanya dengan itu kalian akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kalian akan belajar menyenangkan hatinya, belajar menerima dia apa adanya. Akan ada persoalan yang membentang, tapi kalian akan menyelesaikannya dengan cinta pula.”

Kedua putriku menatapku, “Seperti cinta Mama pada Papa? Cinta itukah yang membuat Mama tetap setia walaupun Papa telah tiada?”
Rahimah menyahuti kakaknya, “Sebegitu dalamnya cinta Mama pada Papa?”

Aku menggeleng. “Bukan, Sayang. Cintailah suami kalian seperti tujuh tahun cinta Papa pada Mama. Seperti tujuh tahun cinta Papa pada kalian. Mama seperti ini karena cinta Papa yang begitu besar pada kita. Cinta yang sangat sempurna.”
“Ambillah kursi, temani mama duduk. Akan Mama ceritakan gemintang Auriga. Mama pernah belajar cinta yang salah dari sais kereta perang itu.”


9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here