Matahari Aisha Bersinar Karena Nusaibah

0
1

Angin pagi ini bertiup cukup kencang. Ujung jilbab Aisha nampak berkibar. Aisha berdiri dengan busur di tangan. Hari ini tidak seperti biasanya. Tidak ada binar dimatanya. Matahari seolah enggan menampakkan sinarnya. Langkahnya berat, dan tarikan busurnya tampak terburu-buru.

Sleb! Anak panah Aisha menancap jauh di luar lingkaran target, bahkan nyaris meleset dari bantalan busa. Dua rambahan yang dilaluinya menunjukkan catatan poin yang kurang memuaskan.

Coach Umar yang sejak tadi mengamati dari belakang, perlahan menghampiri Aisha. Ia bisa melihat bahu gadis kecil sepuluh tahun itu yang turun dan tatapannya yang kosong. Aisha tampak kurang fokus dan kehilangan semangat.

“Aisha, cukup dulu untuk sesi ini,” Ujar Coach Umar lembut namun tegas. “Gantung busur dan rapikan anak panahmu. Lalu beristirahatlah di gazebo.”

Aisha menghela napas panjang, campur aduk antara rasa kesal dan lega. Ia berjalan gontai ke tepi lapangan. Menggantungkan busur dan meletakkan quiver anak panahnya di rak kayu dengan malas. Langkah kakinya gontai berjalan menuju sebuah gazebo di sudut area lapangan.

Di gazebo, Mama sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah buku yang sampulnya nampak sedikit using. Mendengar langkah kaki yang mendekat, Mama mendongak dan langsung mendapati wajah muram putri kecilnya. Aisha langsung merebahkan kepalanya yang terasa berat di pangkuan Mama.

“Ma…Aisha lagi nggak mood hari ini,” keluh Aisha dengan suara lirih. “Memanah itu susah. Tangan Aisha juga perih dan pegal.”
Mama menutup buku dan meletakkan di atas tas warna coklat di sampingnya. Lalu, Mama menarik pelan tangan Aisha. Mengganti dan membalut jempol Aisha yang memerah dengan hansaplast yang baru.

“Ada apa, Sayang? “Mau cerita sama Mama?”, tanya Mama.
Aisha diam sejenak, tangan kirinya terlihat memainkan ujung jilbab pink-nya.
“Aisha mau berhenti latihan memanah, Ma. Aisha juga… nggak mau ikut kejuaraan bulan depan. Aisha capek Ma.”

Mama diam mendengarkan keluh kesah Aisha. Dengan lembut tangan Mama membelai kepala Aisha yang masih bersandar di pangkuannya. “Rasanya berat ya, sampai Aisha ingin menyerah?” tanya Mama. “Boleh Mama ceritakan sesuatu? Ini tentang seorang wanita hebat di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Kebetulan Mama sedang membaca kisahnya di buku ini.”

Mendengar kata “cerita”, rasa penasaran Aisha sedikit terusik. Ia memperbaiki posisinya. Kini Ia duduk di sampaing Mama, melupakan sejenak rasa pegal tangannya.

“Kisah ini tentang Sang Perisai Rasulullah. Dulu, dalam perang Uhud, ada seorang sahabiyah yang sangat pemberani. Namanya Nusaibah binti Ka’ab, atau sering dijuluki Ummu Umarah,” cerita Mama dengan suara yang memikat.

“Apakah Dia ikut berperang, Ma?” tanya Aisha, mulai tertarik, sambil memperbaiki posisi duduknya di samping Mama.
“Nusaibah bertugas membawa air dan mengobati prajurit yang terluka. Namun ketika situasi perang menjadi genting dan pasukan muslimin terdesak, keselematan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam terancam. Tanpa ragu, Nusaibah mengambil pedang dan busur panah!”

Mama menatap Aisha dalam-dalam. “Dengan gagah berani, Nusaibah berdiri di depan Rasulullah, memanah dan menghalau musuh yang ingin mendekat. Beliau menderita banyak luka di tubuhnya, tapi rasa cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya membuat rasa sakit itu tak dirasakannya. Rasulullah bahkan sampai berkata, “Tidaklah aku melihat ke kanan atau ke kiri pada hari Perang Uhud, melainkan aku melihat Nusaibah berperang demi melindumgiku.”

Aisha terpaku. Ia membayangkan sosok Nusaibah berdiri kokoh, menarik tali busur dengan penuh keyakinan di tengah riuhnya medan perang yang menegangkan. Hebat sekali! Padahal Nusaibah adalah seorang wanita, sama seperti dirinya.

“Nusaibah tidak terlahir langsung hebat dalam memanah, Aisha,” lanjut Mama, memecah lamunan putrinya. “Beliau pasti berlatih keras, menghadapai rasa Lelah, punya tekad yang kuat, dan yang paling penting punya niat untuk kebaikan. Kalau Nusaibah bisa bertahan di tengah ujian yang begitu besar, apakah Aisha mau kalah dengan rasa lelah hari ini?”

Aisha menoleh ke arah busurnya yang tergantung di sisi lapangan. Jika Nusaibah bisa bangkit di situasi yang sulit, mengapa Ia harus menyerah sekarang dan melewatkan kejuaran?

“Mama, Aisha ingin seperti Ummu Umarah!” seru Aisha sambil mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Rasa bad mood-nya menguar bersama hembusan angin di gazebo. “Aisha ingin jadi anak perempuan yang kuat dan Tangguh. Aisha nggak jadi berhenti, Ma!”
Dengan semangat baru yang membara, Aisha memacu langkahnya kembal ke lapangan. Coach Umar tersenyum melihat binar yang kembali menyala di mata sang pemanah cilik itu.

Aisha kembali ke posisinya di jalur latihan. Ia mengambil napas dalam-dalam, menghembusakannya perlahan, lalu memasang anak panah pada busurnya. Kali ini, Ia tidak terburu-buru. Ia mengingat keteguhan hati Nusaibah di perang Uhud.

“Bismillah…”bisik Aisha lirih. Ia menarik tali busur dengan lembut, menahannya sebentar. Fokus matanya melihat ujung point anak panahnya pada titik merah di tengah papan target.

1…2…3… Lepas!

Wusss… Sleb! Anak panah melesat lurus membelah angin, dan menancap tepat di lingkaran kuning, hanya beberapa sentimeter dari pusat lingkaran merah.

Dari gazebo, Mama menatap Aisha bangga. Akhirnya matahari Aisha kembali bersinar karena Nusaibah. Hari ini Aisha telah belajar satu hal penting. Ya, memanah bukan sekadar persoalan kekuatan fisik. Memanah adalah soal keteguhan hati. Dan semangat pantang menyerah. Persis seperti semangat Sang Perisai di Uhud, Nusaibah binti Ka’ab.

Aisha kini siap menghadapi kejuaraan bulan depan. Apa pun hasilnya nanti, Aisha berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Glosarium:

Quiver: perlengkapan yang digunakan untuk menyimpan dan membawa anak panah. Wadah ini biasanya dipasang di pinggang, digendong di punggung, dipasang langsung di busur, atau ditancapkan di tanah untuk memudahkan pemanah mengamnil anak panah saat menembak.
Rambahan: babak untuk setiap jarak (dalam olahraga panahan), missalnya setiap jarak 8 atau 10 rambahan dilakukan dengan 3 atau 4 anak panah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here