Puisi Pantai Yang Tak Pernah Sunyi, Muhammad, dan (Bukan) Zaman Jahiliyah

0
146

PANTAI YANG TAK PERNAH SUNYI

Malam itu kau menjadi saksi bisu
Ketika malam menjadi sebuah paragraf-paragraf sunyi
Yang berisikan noda-noda hitamku
Tentang cinta…
Tentang hidup…
Tentang kematian…
Aku robek goresan-goresan pena
Aku hamburkan bersama deburan ombak.

Kala malam itu
Kau menjadi saksi kepedihan hidupku
Kau bawa lukaku
Menyelusuri selat-selat
Bahkan samudera…
Kau penolong dalam kesunyianku.

Pantai yang tak pernah sunyi
dari sepotong-sepotong peristiwa.

3 Januari 2015, Pantai Baron, Jogjakarta

MUHAMMAD

Muhammad
Maukah kau minum khamar
dari sungai sungai yang mengalir dari surga firdaus
yang tak kan pernah memabukkanmu
hanya seteguk saja
bukan khamar dari botol botol yang berjajar di bar-bar.

Entah kenapa manusia-manusia tak beradab itu
selalu ingin memalukan dan mengolok-olokmu
dengan namamu yang terpuji itu

sungguh biadab!

Karanganyar, 28 Juni 2022

(BUKAN) ZAMAN JAHILIYAH

Seorang ustadz berkata
“Apa itu jahiliyah?”

Aku duduk penuh khidmat dan mendengarkannya

“Bahwa masyarakat jahiliyah jauh dari akal sehat,
Mabuk-mabukkan, Khurafat merajalela,
Orang-orang hidup layaknya binatang ternak, dan
Wanita diperjualbelikan.
Jahiliyah sebuah peradaban yang buruk moralnya.

Setelah datang utusan bernama Muhammad
mengubah gelapnya peradaban menuju cahaya.”

saat itu aku kagum dan mengidolakanmu, wahai Muhammad!
ingin menjadi kekasih yang selalu memujamu dengan penuh khidmat
dengan lantunan salawat.

Saat ku dengar kabar
namamu yang indah itu digadaikan dengan minuman memabukkan
sembab seketika mata ini.

Andaikan kau masih ada pasti tak akan terjadi
sebab zamanku (bukan) zaman jahiliyah.

Karanganyar, 28 Juni 2022


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here