ARJUNA

0
87

Aku sedang memijit-mijit pelipis ketika seorang lelaki mengetuk-ngetuk kaca mobilku. Keriuhan membuat kepalaku berdenyut, bahkan sebelum keluar dari mobil. Melihat kendaraan berjejer di kompleks pesantren, asap emisi karbon yang mengepul, debu, dan bunyi pluit tukang parkir membuatku tak betah berlama-lama di keramaian. Kalau tidak terpaksa untuk mengantar anakku ke pesantren, aku mungkin sedang bermain golf bersama rekan kerjaku.

“Kamu ini gimana, sih! Orang anak mau belajar kok malah sopir yang nganter! Dia anakmu apa anak sopir!” omel istriku ketika aku menolak untuk mengantar anakku dan malah lebih senang menyuruh sopirku, Mas Jajang, untuk mengantar mereka.

Aku terperanjat tanpa kata-kata. Istriku belum pernah ngomel dengan nada selantang itu.

“Kan, yang penting uangnya sudah ditransfer, Mah!” sergahku. Apalagi yang lebih penting selain uang?

“Oh, pantas anakmu jadi manja! Uang terus yang dinomorsatukan. Anakmu tidak butuh uang banyak, Pah. Dia cuma butuh sedikit kasih sayang dan perhatian. Dia itu anak spesial!”

Istriku tak gentar terus mencercaku. Memang benar anakku adalah anak spesial. Makanya aku tak rela dia belajar di pesantren. Kekhawatiran kecil dan sepele kerap menginvasi kepalaku, seperti bagaimana nantinya dia mencuci baju sendiri, makan, dan mengganti pakaiannya? Siapa nanti yang akan mengingatkannya mandi dan sarapan? Kekhawatiran itu lebih mengarah ke rasa takut yang berlebihan untuk tidak melepas anakku pergi ke mana pun. Walaupun, yah, aku sibuk dan jarang bersamanya. Aku lebih senang anakku tumbuh besar bersama mamanya dan Mas Jajang, juga Bik Ismi.

“Emang mau kalau dia nanti lebih mengakui sopirnya daripada papanya sendiri, terus bibiknya jadi ibunya, gitu? Tidak ada yang lebih kejam dari orang tua yang tidak mengakui anaknya, Pah? Emang Papa mau besok kalau sudah tua tinggal di panti jompo? Enggak, kan? Siapa nanti yang mau do’ain kita kalau sudah mati? Anak itu harta, Pah. Dia lebih dari apa pun. Dia itu tabungan yang bakal menyelamatkan kita di akhirat!”

Loh! Permaslahan malah merambah ke mana-mana. Siapa juga yang tidak mengakui anak spesialku itu sebagai seorang anak? Aku hanya tak tega. Aku mungkin yang paling rapuh di keluarga ini, tapi bagaimanapun juga, aku tak mungkin menampakkan kecengenganku di hadapan istriku. Aku lebih suka meluapkan emosiku dengan olah raga.

Perempuan memang kebanyakan seperti itu. Mereka tidak cukup menyanggah hanya dengan satu kata. Bisa sampai berjilid-jilid kalau keinginannya tidak segera diiyakan.

“Tapi, Ma….”

“Nggak ada tapi-tapian, Pah. Pokoknya Papa yang harus nganter! Masa mau nganter anak menimba ilmu aja males-malesan. Pakek banyak alasan lagi. Nggak ada tawar-menawar! Masa sama anak sendiri pakek tawar-menawar. Itu namanya bisnis. Pokoknya Papa yang harus nganter titik!”

Istriku beranjak sambil berkacak pinggang. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sementara anakku masih main lego di teras. Aku membayangkan tubuhnya yang rapuh itu harus berjauhan dengan orang tuanya. Namun, istriku yakin kalau anak kita bakal mandiri.

Anakku bernama Arjuna. Ia menderita autisme. Kukira ia akan tumbuh menjadi anak normal pada umumnya, tapi sikapnya perlahan-lahan menunjukkan perbedaan. Ia sulit bicara, bahkan tidak merespons saat namanya dipanggil. Ia tidak bisa membedakan haus dan lapar. Lebih tepatnya, ia tidak tahu kapan harus meminta makan dan kapan ia harus minum. Ia lebih suka menyendiri. Kadang, ia bisa menjadi anak yang tenang dan pendiam. Kadang, ia menjadi anak yang pemarah. Ia selalu kesulitan memahami bacaan dan tulisan. Meskipun banyak kata-kata yang diulang-ulang, tapi ia tak tahu makna dan apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.

“Aku tahu kamu nggak yakin, Pah,” ucap istriku dalam perjalanan menuju pesantren. Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan mataku mulai terasa sebak. Haruskah akibat kebodohanku sebagai orang tua sehingga tega membuang anaknya ke asuhan orang lain?

“Aku pun, sedih, Pah. Tapi aku yakin di sana banyak orang-orang tepat yang bisa mengajarkan ilmu yang tidak kita ketahui.”

Aku menangis di dalam mobil, sementara istriku melenggang menuju gedung pesantren. Aku hanya bisa menunggu di tempat parkir setelah mengecup pipi anakku. Saat itulah, seorang lelaki mengetuk-ngetuk kaca mobilku. Mungkin tukang parkir. Mengganggu saja! pikirku. Aku segera meremat selembar uang berwarna ungu dan melemparkannya, kemudian tanpa sengaja mengenai muka lelaki itu. Sorry!

Area parkir penuh. Istriku tampak mendekat dari kejauhan setelah selesai segala urusan, termasuk bersedih-sedih sebab harus meninggalkan Arjuna. Segera kulajukan mobil. Beberapa meter dari situ, terasa ada yang aneh. Setelah keluar satu kilometer dari area pesantren, segera kutahu kalau ban belakang mobilku bocor. Padahal, sebelum berangkat, aku sudah memeriksanya dan semuanya baik-baik saja. Aku langsung berpikir yang menurutku masuk akal. Barangkali di tempat parkir itu seseorang telah sengaja menebar paku agar kemudian dia bisa menawarkan jasa reparasi ban. Apa mungkin lelaki yang mengetuk-ngetuk kaca mobilku tadi?

“Sial! aku merutuk. Bengkel masih jauh. Segera kutelepon Mas Jajang.

” ….oke, oke!” jawabnya. “Segera!” pintaku.

“Ini semua pasti gara-gara lelaki tadi!” pekikku.

“Tidak boleh berburuk sangka, Pak. Toh, nggak ada bukti.”

“Tapi, siapa lagi kalau bukan dia, Mah? Emang zaman sekarang orang lebih suka cari uang dengan cara yang instan. Selalu maunya mencari kesempatan dalam kesempitan. Apalagi, kalau wajah dan tubuhnya memelas dan minta dikasihani, pasti orang-orang langsung iba dan mengira kalau dia layak dibantu. Sayangnya, itu cuma kedok!”

“Apa Papa nggak sadar soal mencari kesempatan dalam kesempitan? Papa juga gitu suka menawarkan rumah dengan segala aksesoris di dalamnya yang sengaja kualitasnya dielu-elukan itu kepada orang kaya baru yang belum tau apa-apa biar mereka membeli dengan harga mahal. Kadang, Papa juga sengaja mencari pekerja lepas minim pengalaman agar bisa digaji minim pula.”

“Itu kan, bisnis, Mah!”

“Sudahlah, Pah. Mungkin ini pelajaran buat kita biar lebih sigap. Lagian, lelaki yang dimaksud Papa itu siapa?”

“Itu, lelaki yang di parkiran tadi.”

Istriku langsung melotot.

“Terus?”

“Papa kasih uang sepuluh ribu. Tentu itu cukup besar untuk parkir satu jam.”

Istriku malah mencubit lenganku.

“Astaghfirullah, Pah! Dia itu bukan tukang parkir.”

Aku mengernyitkan dahi.

“Dia adalah salah satu ustaz di pesantren itu. Namanya Ustaz Rizal.”

Aku terkesiap setengah tak percaya. Ustaz Rizal? Lelaki pendek, kurus, yang jalannya pincang dengan tongkat karena kakinya cuma satu itu? Yang pecinya buluk dan matanya layu itu? Kepalaku mendadak berdenyut.

“Aduh, Pah! Malu-maluin banget!”

Aku tak berkata apa-apa. Sejurus kemudian, Mas Jajang menampakkan diri.

Seminggu setelah kejadian itu, kami kembali lagi ke pesantren untuk menjemput Arjuna sebab ia harus terapi. Minggu pagi yang lengang. Terdengar suara tausiah dari toa masjid di kompleks pesantren.

Istriku mendorong-dorong tubuhku untuk mencari Ustaz Rizal dengan tujuan untuk meminta maaf. Aku tahu hal ini bakal terjadi. Dengan sedikit rasa malu, kutunggu Ustaz Rizal di kantornya. Namun, ia tak kunjung datang. Malah, seorang perempuan menuntun Arjuna ke arah kami. Istriku langsung memeluknya. Kudengar-dengar, Arjuna menggumamkan sesuatu. Lafaz bismillah, kadang Ya Rahman, Ya Rahiim, dan takbir. Masya Allah!

Seseorang kemudian mengarahkan kami ke tempat parkir. Di sana ada Ustaz Rizal. Dengan sedikit penyesalan, kujabat tangannya. Kami berbincang-bincang lama. Hingga akhirnya ia menceritakan kisah hidupnya yang menjadi pengabdi tamu.

“Tamu adalah raja. Ia harus dimuliakan. Siapa pun yang parkir di sini, kendaraannya harus berjajar rapi supaya tidak susah kalau mau keluar. Jangan sampai ada kehilangan. Kalau ada masalah, misalnya ban bocor, santri kami akan membenarkannya.”

Aku tertunduk malu.

“Oh, tak apa-apa, Mas,” tuturnya.

Lalu, ia meneruskan cerita kalau dulu, ia hidup di tempat parkir saat orang tuanya pergi tak mau merawatnya sebab Rizal cacat. Mereka menganggapnya sebagai aib. Seorang Ustaz yang melihat itu kemudian mengurusnya. Ia tinggal di pesantren itu, belajar, dan memulai hidup baru sebagai santri yang lebih dekat dari nikmat rasa syukur dalam mengagungkan agama. Ia tumbuh menjadi anak saleh dan cerdas. Tausiah yang kudengar tadi adalah tausiahnya. Suaranya pun merdu ketika mentartil ayat-ayat Al-Quran. Aku terenyuh ketika menyimak ceritanya. Sungguh pelajaran yang sangat berharga bagiku. Sebuah sudut pandang baru tiba-tiba datang dalam menilai kekurangan.

Aku jadi teringat Arjuna. Aku yakin, dia bisa tumbuh layaknya anak-anak normal lain karena Tuhan selalu menyelipkan banyak kelebihan dalam satu kekurangan hamba-Nya. Aku yakin, Arjuna bisa menghadapi segala kesulitan dengan usahanya sendiri. Ia pasti bisa mandiri. Niatku menjadi semakin teguh untuk mendukung Arjuna belajar di pesantren. Ia adalah aset bila kelak namaku tinggal sebaris aksara di atas pusara.

Kemajuan-kemajuan kecil mulai tampak pada Arjuna, meskipun katanya autisme tidak bisa disembuhkan. Segala macam ikhtiar berikut dengan ribuan doaku setiap saat, pasti Tuhan mengabulkan salah satunya.[]

Lampung, 2023


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here