Lelaki Pengejar Dunia

    3
    220

    Entahlah, semenjak istri saya rutin ikut pengajian Ustaz Naji, saya selalu salah di matanya. Tidur terlalu malam salah. Begadang apalagi. Katanya dengan terlalu banyak melotot, akan banyak sekali bibit maksiat masuk ke otak. Namun jika saya terlalu banyak tidur, makian hebat akan meluncur deras dari mulutnya cempreng. Dia tak akan henti mengomel mirip keong dibakar.

    Malam-malam saat saya berselancar di media sosial, dia akan bersungut-sungut ketus. Katanya malu sama usia. Umur sudah mau afkir, tapi masih saja melakukan banyak hal mubazir. Kejar tuh akhirat. Jangan melulu ber-haha-hihi dengan kesenangan dunia!

    Malam itu, selepas magrib, saya duduk-duduk di ruang tengah. Pertandingan persahabatan antara Liverpool versus Indonesia sungguh memantik perhatian. Apakah Timnas mampu mengimbangi permainan klub besar Inggris itu? Atau keok hanya dalam sekali libas?

    Dan hati saya meringis linu saat di menit kesembilan, Coutinho sukses menceloskan bola ke gawang Kurnia Meiga. Dengan pertahanan yang terkesan sporadis itu, tentu tak sulit bagi The Reds untuk membombardir pertahanan lawan. Saya ikut sesak menyaksikan kekalahan Timnas yang begitu dini. Permainan masih prematur. Namun Timnas sudah dihajar dengan segenap intimidasi. Layar datar enam puluh inci itu pun kini sontak ditaburi semarak. Ribuan orang dengan kostum merah berpesta pora merayakan kemenangan.

    Pettt!

    Namun tiba-tiba televisi mati. Skrin raksasa itu padam. Istri saya yang baru keluar kamar telah mencabut jek besar yang terhubung ke stop kontak. Dia masih mengenakan mukena dan menjinjing tasbih.

    “Apa-apaan sih?” Saya memelotot geram. Tentu saja saya kesal. Saat sedang seru-serunya menonton pertandingan bola, saluran listrik malah disabotase. Dasar perempuan tidak ada akhlak!

    “Ngaji dulu. Ngaji!” Dia menghardik.

    “Ya kan lagi nonton!”

    “Tapi ini waktunya ngaji,” pelotot istri saya marah. “Lihat tuh anaknya malah main game. Gara-gara papanya cuek!”

    “Papa tuh kepala keluarga! Harus jadi panutan. Kalau imamnya saja malas-malasan ibadah, bagaimana kami para pengikutnya bisa meneladani?”

    “Ya sudah sih. Mama kalau mengaji ya mengaji saja. Tidak usah ngomel-ngomel!”

    “Tapi anakmu butuh bimbingan!” Istri saya menyahut ketus. “Sudah tiga malam ini dia main game terus. Hapalan ngajinya banyak yang terbengkalai!”

    Saya terdiam dan mengusap muka. Keinginan istri saya untuk menjadikan Ilham seorang hafiz memang sangat menggebu-gebu. Saya pun sebenarnya turut mendukung. Oleh karenanya kami memasukkan anak itu ke SD Islam paling bagus. Paling mahal. Juga paling terkenal se-nusantara. Namun kadang saya yang luput memberi perhatian. Hafalan Ilham sudah sampai mana, surat apa dan juz berapa, itulah yang jarang sekali ditanyakan.

    “Lihat tuh anak-anak Ustaz Naji. Masih kecil saja sudah hapal Juz Amma dan naik ke Quran besar.” Istri saya kembali menggerutu. “Karena setiap hari ayahnya peduli. Dia tak pernah absen mengajari anak-anaknya.”

    Ah, Ustaz Naji lagi!

    Mendengar nama itu disebut, emosi saya yang tadi sudah mereda, kini kembali merangkak naik ke ubun-ubun.

    ***

    Makin hari saya menjadi makin inferior. Semua jadi serba keliru. Apa-apa yang tadinya biasa saja, kini berubah jadi sangat mansukh di mata Nunik.

    Apa sih yang sebenarnya diinginkan perempuan itu? Kurang taat bagaimana saya terhadap agama? Saya tak pernah tinggal salat. Puasa belum sekali pun bolong. Zakat juga rutin tiap bulan. Bahkan saat mendapat keuntungan besar, saya juga tak pernah alpa berbagi dengan yatim dan kaum duafa!

    “Tapi berpuasa bukan hanya yang wajib! Senin-Kamisnya mana? Puasa Daudnya mana?” Istri saya tetap menggerutu seolah hidupnya tak akan tenang kalau tidak ada yang dituntut.

    “Sekali-sekali cobalahlah turut merasakan laparnya orang-orang fakir. Jangan perut melulu yang digembungkan!”

    “Papa juga harus selalu mendampingi Ilham mengaji!”

    “Mana bisa, Ma?” Saya langsung protes. “Hampir setiap hari kan papa pulang malam.”

    “Ya usahakan sore!”

    “Ya sudah!” Saya akhirnya mengalah dan untuk kesekian kalinya lagi-lagi harus menahan emosi. Tahu sendiri mulut istri saya kalau sudah mengoceh. Panas dan pedasnya bisa melebihi sekarung cabai! Kalau saya tidak mengalah, bisa-bisa cempala di mulutnya tumpah semua memenuhi seluruh ruangan.

    ***

    Hari ini saya sudah bertekad pulang lebih awal. Beberapa tugas kantor juga telah didelegasikan kepada orang lain. Namun lagi-lagi saya gagal menepati janji. Ternyata ada truk gandeng pengangkut bahan gula rafinasi mengalami kecelakaan parah. Semua muatannya tumpah di tengah jalan. Otomatis jalur lalu lintas pun diblok. Dan perlu dua jam bagi petugas untuk mengevakuasi kendaraan nahas itu agar bisa ditarik ke luar lintasan.

    Untuk para ibu rumah tangga yang selalu mengeluh capek, letih, bosan dan merasa tak pernah mendapat keadilan gender, coba sekali-sekali berpikir juga tentang tugas berat suami. Jangan pikir dunia ini timpang. Tidak. Tuhan tak pernah menciptakan anasir-anasir yang berat sebelah. Segalanya diatur sesuai porsi. Tak akan imbal. Jadi, jangan merasa menjadi makhluk yang paling tidak bahagia hanya karena sebuah rutinitas hidup yang membosankan.

    Kalian memang letih mengurus anak, mengatur dapur, menyusun segala tetek bengek rumah tangga, hamil, melahirkan, menyusui, dan lain-lain… dan lain-lain. Namun apakah kami para bapak tidak mengalami problematika hidup yang lebih rumit?

    Seperti sopir truk bermuatan bahan gula rafinasi itu. Entah bagaimana nasibnya kini. Katanya tubuhnya tergencet saat dievakuasi. Sang kernet malah lebih mengenaskan lagi. Dia tewas di tempat. Itu hanya setitik contoh dari ribuan kasus mengerikan lain. Kami para laki-laki pencari nafkah tentu memiliki risiko yang sama soal bahaya. Kematian senantiasa mengancam di sepanjang jalan antara rumah dan pekerjaan. Camkan itu!

    Magrib telah lewat saat saya tiba di rumah. Tergesa-gesa saya memarkir mobil di garasi. Lima belas menit lagi Isya. Jangan sampai karena alasan sibuk dan pekerjaan, salat akhirnya ditinggalkan.

    Dan begitu saya membuka pintu, terdengar Ilham tengah mengaji di ruang khusus tak jauh dari ruang tamu. Suaranya bagus. Makhrajnya tepat. Bacaannya juga tartil. Ada rasa bangga yang menyelinap seketika ke balik dada. Ternyata pencapaian anak itu sudah lumayan jauh. Ah, hati saya jadi buncah oleh percikan dan gelugut haru.

    “Sedikit agak dipanjangkan lagi bacaannya sebanyak dua harkat. Ingat, ini mad apa?” Tiba-tiba ada suara laki-laki memotong bacaan Ilham.

    Saya sangat terkejut. Itu suara siapa? Kenapa Nunik tidak meminta izin kalau mau memanggil guru mengaji ke rumah? Sebenarnya walau tanpa izin pun, saya pasti setuju. Tapi masalahnya guru mengaji Ilham itu laki-laki. Dan dia masuk rumah ini saat saya masih di luar!

    Saya meneruskan langkah. Dan benar saja. Orang yang tengah duduk berhadapan dengan Ilham di ruangan itu adalah Ustaz Naji!

    “Putra Pak Alfred luar biasa. Dia cepat sekali menangkap penjelasan. Ingatannya juga kuat. Saya senang mengajarinya.” Saya berbincang-bincang dengan Ustaz Naji seusai pria itu mengajari Ilham. Dia duduk di kursi. Kami berhadap-hadapan. Saya mengangguk-angguk menanggapi kalimat-kalimatnya yang bernas penuh wibawa.

    “Beruntunglah para orang tua yang memiliki anak seorang hafiz. Karena di akhirat nanti, anak-anak itu yang akan menyematkan mahkota kemuliaan di atas kepala orang tuanya sebagai hadiah.”

    “Bagaimana jika orang tuanya itu seorang pendosa seperti saya, Pak Ustaz?”

    “Ah, Pak Alfred jangan terlalu bersuuzon.” Pria itu terkekeh ringan. “Tak ada dosa yang tak diampuni. Tak ada taubat yang tak diterima. Karena Allah itu Maha Pengampun. Dia akan menerima setiap pertaubatan hamba-Nya jika memang dilakukan dengan sungguh-sungguh.”

    “Oh iya. Apa Pak Ustaz tidak berencana membangun pondok tahfiz?” Saya mengalihkan pembicaraan. “Saya rasa kecintaan anak-anak terhadap Al-Quran perlu terus dipupuk. Agar tercipta generasi cemerlang di masa datang. Terus terang saya khawatir, Pak.” Saya menghentikan kalimat sejenak demi menyeruput teh yang sedari tadi sudah dihidangkan Nunik.

    “Saya khawatir dekadensi moral yang dialami anak-anak muda akan semakin masif. Tahu sendiri kan serbuan efek buruk teknologi terus mencecar? Saya tak ingin mereka tumbuh menjadi generasi micin.”

    “Ya. Sebenarnya saya pun ingin, Pak,” sahut ustaz Naji sambil mengusap-usap janggutnya yang panjang lebat. “Namun untuk membangun pondok pesantren, tentu butuh dana yang sangat besar. Saya tak mungkin mengumpulkannya dalam waktu sebentar.”

    Setelah kami berbincang-bincang cukup lama, Ustaz Naji pamit. Katanya dia ada urusan di tempat lain. Saya pun pergi ke dapur. Mandi, berganti baju dan makan. Nunik dan Ilham pergi entah ke mana.

    “Ibu sama Ilham ke mana, Bi?” Saya bertanya kepada Bi Ningsih setelah berusaha ke sana ke mari menjelajahi tiap sudut ruangan di rumah besar ini. Pembantu paruh baya itu tengah duduk di ruang belakang. Dia sedang asyik menonton televisi.

    “Ibu sama Ilham berangkat ke masjid, Pak,” sahut Bi Ningsih kemudian. Saya melongo. Memangnya ini sudah masuk waktu isya?

    Saya melongok arloji. Ternyata sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Ya Tuhan. Segera saya ke ruang belakang, mengambil wudu. Lalu salat Isya.

    Allahu Akbar…

    Tepat di rakaat keempat Nunik dan Ilham datang. Terdengar anak itu memanggil-manggil saya. Dan begitu melihat papanya salat, dia kembali ke ruangan lain.

    “Ma, papa lagi salat.” Terdengar Ilham melapor ke mamanya.

    “Coba lihat lagi.”

    “Maksudnya, Ma?”

    “Lihat. Papa salatnya pakai mukena atau tidak?”

    “Loh, mukena kan untuk perempuan, Ma. Papa kan laki-laki.”

    “Kalau laki-laki, berarti salatnya harus di masjid! Paham?”

    “Memang kenapa kalau laki-laki salat di rumah, Ma?”

    “Tidak boleh!”

    “Kok tidak boleh?”

    “Karena Rasullullah juga memerintahkannya begitu. Kalau Ilham salatnya jangan di rumah ya. Laki-laki itu wajib di masjid. Kalau tidak, nanti jadi laki-laki solehah dong.”

    “Apa tuh laki-laki solehah, Ma?”

    “Laki-laki yang salatnya di rumah!” Sekali lagi Nunik mengencangkan suaranya. Padahal walaupun pelan, saya pasti bisa mendengar. Saya tidak tuli kok!

    ***

    Keuntungan proyek di pembukuan periode ini cukup besar. Dan sebagai bentuk rasa syukur, saya menemui Ustaz Naji.

    “Ini cek untuk Pak Ustaz. Maksud saya, untuk pembangunan pondok pesantren. Bapak tulis saja sendiri berapa dana yang dibutuhkan hingga selesai.”

    Pria itu terperangah. Dia memandang saya tak percaya.

    “Ma… maksud Pak Alfred bagaimana?”

    Saya tersenyum. Lalu menjelaskan kalau saya yang akan menanggung seluruh biaya pembangunan gedung pondok pesantren miliknya.

    Ustaz muda itu masih terperangah. Dia memang tak berani menuliskan apa-apa di kertas berharga yang saya kasih. Namun saya yang akhirnya mengambil inisiatif.

    “Bagaimana kalau sebegini?” Saya menuliskan nominal angka di atasnya. Angka yang sangat besar.

    Ustaz Naji langsung memeluk saya. Saat itu juga air matanya menitik. “Subhanallah. Terima kasih Pak Alfred. Saya tak tahu harus mengucapkan apa. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak.”

    “Apa jumlahnya cukup?” Saya memastikan.

    “Saya rasa cukup. Bahkan lebih.”

    “Tapi tolong rahasiakan semua ini. Jangan sampai orang lain tahu. Termasuk istri saya.”

    Setelah menyerahkan cek itu, saya pamit. Hati dan pikiran ini menjadi sangat lega. Saya juga mendatangi beberapa panti asuhan, mengunjungi rumah yatim, membagi-bagikan bingkisan kepada pengemis dan anak jalanan. Lalu setelahnya meluncur ke sebuah toko berlian.

    “Ini hadiah untuk Mama.” Setelah sampai rumah, saya menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk hati yang diikat pita merah jambu dan dirangkai sedemikan cantik.

    “Apa?” tanya Nunik datar.

    “Buka saja.”

    Istri saya menerima kotak itu. Lalu mengamati isinya sebentar.

    “Terima kasih,” ucapnya hambar dan hampir tak terdengar. Dia meletakkan kembali kotak kecil itu ke atas meja.

    “Loh, kok tidak dipakai?”

    “Nanti saja,” sahutnya datar.

    Ada rasa jengkel saat ternyata sampai beberapa hari cincin emas bermata berlian yang saya hadiahkan khusus untuknya itu tidak pernah dipakai. Berhari-hari ditunggu, berminggu-minggu dinanti, namun kesepuluh jari Nunik tetap polos. Perhiasan cantik itu malah disimpan di laci lemari dan dikunci rapat-rapat.

    Hingga pada sebuah kesempatan, Nunik mengatakan sesuatu yang membuat darah saya berdesir panas.

    “Pa, cincinnya dijual saja ya,” ucapnya penuh permohonan.

    “Buat apa?” Saya langsung membeliak nyalang. “Apa Mama perlu uang lebih, hah? Katakan!”

    Jelas sekali saya emosi. Hadiah itu sengaja dibeli untuk menghargainya sebagai seorang wanita. Namun dia sama sekali tak pernah balas menghargai. Bukan cuma tidak dipakai. Tapi mau dijual. Suami mana coba yang tak tersinggung? Apa dianggapnya hidup kami sudah amat kekurangan?

    “Mama tidak suka?”

    “Siapa sih wanita yang tidak suka berlian?”

    “Lantas kenapa tak pernah dipakai?”

    “Mama tidak butuh itu! Buat apa?”

    “Astaga!” Hampir saja saya menampar wajah Nunik jika tidak segera ditahan. Maunya apa sih? Orang sudah susah payah mempersembahkan hadiah mahal, banting tulang cari uang demi menyenangkan pasangan, tapi respons-nya sungguh jauh di luar dugaan.

    “Terus Mama maunya apa?” Saya menatapnya nyalang.

    Istri saya tidak menjawab. Dia malah menangis. Jika sudah begitu, percuma saja walau saya bicara berapi-api. Tangisnya malah akan semakin kencang seperti seorang balita yang mainannya direbut paksa.

    Akhirnya saya angkat kaki dengan hati dongkol. Pintu dibanting. Saya menerbangkan mobil dari garasi langsung dengan kecepatan seratus kilometer perjam.

    Berhari-hari saya tidak pulang! Dan saat saya kembali mendaratkan tubuh di rumah, Nunik membawa sebuah kabar besar.

    “Ustaz Naji mau membangun pondok pesantren,” katanya penuh antusias. “Kita mau menyumbang apa?”

    “Jual saja cincinnya. Itu kan yang Mama inginkan?”

    “Memang boleh?”

    “Silakan!”

    “Papa ikhlas?”

    “Sangat ikhlas!”

    Ya, saya ikhlas. Sangat ikhlas. Dan bukan hanya cincin itu yang nanti akan disumbangkan untuk pembangunan pondok pesantren Ustaz Naji. Melainkan semua harta yang kumiliki. Ah, bukan semua, sebagian. Bahkan mungkin tak sampai setengah. Saya belum sehebat Abu Bakar atau Umar. Tapi setidaknya saya merasa bahagia, karena untuk perkara itu, saya memilih menyembunyikannya. Bahkan pada istri saya.

    -0-


    3 COMMENTS

    1. Pak, tlg sampein ke pak Alfred…
      Kami akan membangun pondok pesantren setingkat SMA . Rencananya 3 lt, 2 lokasi (putra & putri)..

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here