Aroma Masakan Tetangga

5
417


Parlan berkali-kali mengendus, mencari aroma lezat yang tiba-tiba saja mengusik indra penciumannya. Cuping hidungnya bergerak-gerak, sesekali matanya terpejam, seakan menikmati sensasi rasa yang luar biasa. Bahkan lidahnya berdecap karena air liurnya mengucur. Hmmm…aroma yang sangat nikmat. Entah makanan apa yang sedang dimasak tetangganya itu. Yang jelas, Parlan seakan menikmati betul aroma itu.

“Pak!” Surti tiba-tiba menepuk pundak suaminya.
Parlan terkejut. Dia tak tahu kalau aksinya mengendus-endus dan berdecap-decap tadi diperhatikan istrinya.
“Nggg…” Parlan salah tingkah. “Aromanya enak tenan je, Bu!” ujarnya sambil nyegir kuda.

“Iya, tapi mbok nggak usah sampai meram-merem begitu!” Surti bersungut-sungut kesal. Sebenarnya dia tak tega melihat suaminya begitu. Ketika dirinya memasak, suaminya justru bersin-bersin karena yang ditumisnya hanya irisan cabe dan bawang, ditambah tempe atau tahu yang kadang dicampur sedikit ebi. Oseng-oseng lombok ijo.

“Tetangga baru kita itu sedang masak apa ya, Bu?” tanya Parlan sambil melepas bajunya. Satu jam istirahat siangnya sebagai buruh mebel di rumah Pak Karto, digunakannya untuk pulang. Hanya berjalan beberapa rumah saja dari rumahnya.

“Yang jelas ya makanan enak!” sahut Surti sambil memijit bahu suaminya yang bersandar di kursi.

“Kemarin siang aromanya juga enak, tapi enaknya beda dengan yang barusan.” Parlan menggumam, masih mengendus. “Apa tiap siang mereka selalu masak yang enak-enak ya, Bu?”
“Ealaaah Pak…njenengan itu kok ya aneh. Tetangga baru kita itu kan kaya, pembantunya aja nggak cuma satu, mobilnya mentereng. Ya jelas saja kalau tiap hari masak enak.”

“Adaw!” Parlan menjerit karena Surti keras sekali memijit pundaknya.
“Ya jangan marah gitu dong! Aku kan cuma pingin tahu aja, kalau aromanya saja enaknya kayak gini, trus rasanya tuh kayak apa, hehehe…”

Surti tak menyahut. Parlan masih saja tertawa lirih, seperti menertawai kemiskinannya.


“Makan siang di Pak Karto dikasih apa, Pak?” seperti biasa, Surti memijit bahu suaminya yang istirahat siang setelah setengah hari buruh mebel.
“Biasa, Bu. Sayur lodeh sama tempe goreng.”

“Syukur alhamdulillah, Pak, itu sudah mengurangi pengeluaran kita lho. Jadi, saya hanya masak untuk sarapan dan makan malam.”

Parlan mendesah. Syukur dia belum dikaruniai anak. Mungkin Gusti Allah mengerti kalau dia diberi anak, dia tidak bisa ngopeni. Apalagi biaya sekolah katanya luar biasa mahalnya.

“Lha kamu tadi makan siang pakai apa?”
“Nasi goreng sisa sarapan tadi pagi.” jawab Surti sambil tersenyum.
Parlan melihat ada samudera ketulusan di wajah istrinya. Kesediaannya hidup seadanya bahkan cenderung menderita, menjadikan wajah Surti tetap cantik di mata Parlan.

Parlan merengkuh bahu istrinya. Dia ingin memeluknya dan meminta maaf. Bukan kemauannya jika sekarang mereka menderita. Parlan ingin sekali melihat giwang di telinga Surti, atau pakaian yang layak biar dia tak malu saat arisan RT. Atau apapun yang bisa membuat Surti bahagia. Semua suami di muka bumi ini pasti menginginkan istrinya bahagia.

Namun ketika bibirnya nyaris terbuka, sesuatu yang lezat melintas di depan hidungnya.
Spontan Parlan mengendus-endus, menikmati aroma masakan tetangganya yang tiba-tiba menyeruak. Matanya terpejam, hidungnya kembang-kempis. Tangannya yang memegang bahu istrinya terlepas. Dia lupa pada niatnya semula.
Surti terdiam. Dia hanya bisa memandangi wajah suaminya. Perasaan bersalah kembali menyergap karena dia tak bisa menyajikan masakan istimewa untuk suaminya. Ah, andai saja….
Lalu Surti pun ikut mengendus-enduskan hidungnya. Lidahnya sesekali menjilat bibir, menikmati sesuatu yang hanya ada dalam bayangannya.


“Lho Pak, kenapa makan siangnya dibawa pulang?” tanya Surti mendapati suaminya membuka bungkusan yang dibawanya. Tadi Parlan meminta pada Bu Karto agar makan siangnya dibungkuskan saja. Alasannya, dia pingin makan bersama istrinya. Dia kasihan membayangkan istrinya makan dengan sayur atau lauk sisa sarapan tadi pagi. Selain itu, dia juga punya rencana….

“Kan nggak enak sama Bu Karto to, Pak…” keluh Surti. “Dikiranya njenengan minta jatah makan untuk saya juga!”
“Wis to, Bu. Nggak pa-pa. Wong maksudku bukan begitu.”
Surti memindahkan isi bungkusan-bungkusan itu ke piring dan mangkok. Nasi, sayur daun singkong dan dua potong tahu bacem.
“Maksudnya apa?”

“Pokoknya lihat saja nanti! Mana sendoknya?”
Surti bergegas ke belakang. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah sendok dan diserahkan pada suaminya.
“Lho kok cuma satu? Kamu mau pakai apa?”
Surti berbalik lagi ke belakang.

“Nasi yang tadi pagi juga dibawa ke sini sekalian, Bu!” teriak Parlan.
Begitu semuanya sudah terhidang di atas meja dan Surti bersiap menemani makan suaminya, Parlan malah diam saja.
“Ayo Pak, dimakan!” Surti mengerutkan kening.
“Tunggu sebentar to.” Jawab Parlan sambil menatapi makan siangnya.
“Nunggu apa?”
“Sebentar lagi!”
“Iya, tapi apa yang ditunggu?”
Parlan tidak menyahut. Sesaat keduanya bergeming. Hanya saling pandang. Surti masih tak mengerti maksud suaminya.

“Nhaaaa…!” teriakan Parlan mengejutkan Surti. “Sekarang saatnya kita makan, ayo buruan!”
Aroma lezat melintas di hadapan mereka. Parlan mengendus-endus sambil menyendok makanannya. Saat masih mengunyah, dia memejamkan mata. Cuping hidungnya tak henti bergerak-gerak. Begitu cepat-cepat dia melakukan, takut jika aroma lezat yang melintas segera lenyap.

Surti terpaku. Kristal bening bergulir membasahi pipinya. Nafasnya tertahan.
“Hmmm enak lho Bu…ayo cepat kamu makan! Mumpung masih ada aroma lezatnya!” Parlan tak memperhatikan istrinya. Bibirnya berdecap-decap dengan mata yang kadang terpejam.

“Kita bayangkan saja makanan ini adalah makanan terlezat yang pernah kita makan. Ayo, cepat habiskan, Bu!”
Surti menyendok makanannya perlahan-lahan. Matanya tak lepas dari wajah suaminya yang begitu bahagia menikmati makan siangnya kali ini. Dia lalu tersenyum getir.
Diam-diam dia ingin berterima kasih pada tetangga barunya itu, yang dengan sukarela memberikan aroma masakan yang begitu lezatnya. Karena aroma itu suaminya bisa menikmati makan siangnya yang sederhana. Mereka lalu bersyukur, sebab Allah masih memberikan rezeki yang berlimpah berupa makan siang beraroma mewah.



Previous articleTransaksi Aneh Tapi Nyata
Next articlePuisi-Puisi Riski Diannita
Rianna Wati
Rianna Wati, lahir di Wonogiri 5 November 1980, saat ini tinggal di Surakarta bersama keluarga kecilnya. Aktivitas menulis dilakukannya sejak SMA dan bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) sejak kuliah di Fakultas Sastra UNS. Saat ini menjadi staf pengajar di Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNS. Gelar S2 diraihnya dari prodi Ilmu Sastra UGM dan saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di Kajian Budaya UNSBuku-buku fiksi yang pernah terbit diantaranya Elegi Cinta di Karimunjawa, Jatuh Cinta Pada Bunga, Ramai-Ramai Masuk Surga, Biar Cinta Bicara, Cinta adalah Luka, Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf, Arvayuna, Romansa, Petrichor, Salju Sungai Seine, Simfoni Hati dan beberapa buku kolaborasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. Bisa dihubungi di email: riannawati@staff.uns.ac.id, FB Rianna Wati, Twitter @riannawati dan IG Rianna Wati.

5 COMMENTS

  1. ceritanya unik dan ringan, bahas yang digunakan penulis mudah dipahami, cerpen ini menyajikan amanat yang menyentuh, penulis menyampaikan bahwa kita tetap harus bersyukur bagaimanapun keadaanya dan adanya penggunaan gaya bahasa perbandingan, yaitu :
    1. Hiperbola :
    – Bahkan lidahnya berdecap karena air liurnya mengucur.
    – Parlon melihat ada samudra ketulusan di wajah istrinya.
    2. Paradoks :
    – Parlon masih saja tertawa lirih, seperti menertawakan kemiskinannya.

  2. Cerpen karya Bu Rianna ini berhasil membuat saya sebagai pembaca ikut turut hadir berada di dalam kisah tersebut, kisah terharu (iba) yang mampu membuat saya berkaca – kaca dalam membacanya.
    Pemilihan kata atau diksi pun sederhana sehingga langsung di pahami maksud dari alur kisah tersebut. namun, dari kesederhanaan kisah ini terdapat Close ending yang di luar perkiraan saya, kisahnya sangat plot twist, keren Bu Rianna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here