Perempuan yang Mengemas Serpihan Cintanya dalam Hamdalah
Kau mencium serbuk mesiu,
wahai musuh-musuh Allah?
Atau berharap mendengar suara-suara
yang mengutuk kekejamanmu
Sebelum rudal-rudal itu menyerpih
daging anak-anak Gaza?
Lihatlah perempuan yang melantun
Hamdalah sambil mengemas
cintanya yang berhamburan:
tangan tak lagi bertemu muka
kaki tak lagi bersua jari
Ia akan menggali tanah
yang telah basah oleh darah
jutaan syuhada seorang diri
Benar-benar seorang diri!
Seperti kemarin ia mengubur
satu persatu cinta di dalam hidupnya
Matanya menganak sungai, memang
Namun, wallaahi,
Bukan air mata duka!
Takdirnya terlalu indah
untuk ia rundungi
Kekuatannya adalah panen mimpi buruk
yang akan meluluhlantakkan
sekujur harapan kalian tentang
kehidupan yang benderang
di tanah rampokkan
Doa Apa untuk Kulantunkan, Allahku?
Permohonanku masih bersayap
Khauf dan raja’
Takut dan harap
Tapi untukmu, Palestina
apa yang harus kuminta
kepada Tuhanku yang Maha Menerima doa?
Karena yang kukira penderitaan
ternyata ladang kesabaran bagimu
parade kemalangan yang kau alami
adalah penempa imanmu
Apa yang harus kuminta untukmu, Palestina?
Bahkan zikir dari batu dan tanahmu
telah menggetarkan semesta
Kutitipkan cintaku pada batu-batu
yang digenggam anak-anak Intifadhah
Izinkan mereka sepanas kerikil-kerikil
di kaki ababil yang membakar angkara murka
Wahai, Allahku,
tetapkanlah takdir terbaikmu
bagi Palestina tercinta































