Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia

3
137

Resensi : Mengurai Makna Bahagia
Judul : Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia
Jenis : Non Fiksi (Motivasi Islami)
Penulis : Dwi Suwiknyo
Penerbit : Trenlis
Terbit Pertama : Oktober, 2018
Halaman : 167 hlm
ISBN : 978-602-52799-2-8

Melalui berbagai media, kita melihat bahwa kesenjangan sosial dalam masyarakat semakin hari semakin curam. Si kaya dengan kemudahan hidup, rumah dan mobil mewah, pasangan yang cantik atau ganteng, serta kedudukan tinggi di masyarakat. Sedangkan si miskin, semakin jauh dari kenyamanan. Biaya pendidikan, kesehatan, bahkan kebutuhan pokok tidak mampu dipenuhi lantaran penghasilan jauh dari harapan.


Keadaan itu, sadar atau tidak menjadikan sebagian masyarakat mengalami distorsi terhadap makna kebahagiaan. Banyak orang menjadi lupa bersyukur ketika melihat kesuksesan orang lain dan membandingkannya dengan keadaan diri sendiri.
“Allah, rasa tenang di hatiku tiba-tiba saja sirna begitu aku iri terhadap kondisi hidup orang lain. Mereka memiliki kehidupan yang lebih enak dan mapan ketimbang aku, dan sepertinya semua keinginan mereka tercukupi.” ( hal. 6)


Seakan, kebahagiaan itu ukurannya adalah materi. Lalu bagaimana jika seseorang tidak memiliki materi yang cukup? Apakah dia tidak bisa bahagia?
Padahal, setiap orang telah dipilihkan takdir kehidupan yang terbaik menurut takaran Tuhan. Maka, keadaan diri sendiri, akan menyenangkan manakala konsumsi penglihatan dan perbandingan yang diambil tepat. Sesuai petuah bijak dalam buku ini.
“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (hal. 10)


Di sisi lain, banyak orang sukses yang kemudian menganggap bahwa apa yang ia peroleh saat ini adalah buah dari kerja kerasnya. Hasil dari perjuangan yang tentunya menuntut pengorbanan tidak sedikit. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin lebih dari itu.
“Bagiku, tanpa bekerja keras, mustahil aku mendapatkan sesuatu yang aku mau. Sangat mustahil semua keinginanku bisa terwujud bila aku lambat meraihnya.” (hal.43)


Padahal, segala sesuatu terjadi pastilah karena kehendak Allah Swt, bukan dari usaha kita semata. Maka, sepantasnya seorang hamba tidak lupa hakikat kesuksesan yang sedang menghampirinya. Jika Allah berkata, Kun! Faa ya, kun! Jadilah kamu bangkrut, maka seketikalah kesuksesan yang baru menyapa bisa hilang tanpa bekas.


Buku ini juga mengupas lebih dalam tentang kesuksesan. Bahwa bersamaan dengan kesuksesan, banyak kerabat dan teman sejawat memberi selamat seraya mengucapkan pujian. Sayangnya, kadang pujian dan sanjungan menjadikan seseorang lupa daratan. Petikan salah satu muhasabah dalam buku ini semoga menjadikan kita tetap eling lan waspada, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita manusia yang punya khilaf dan salah. Allah-lah yang tahu, seperti apa diri kita.
“Ya Allah, Engkau lebih tahu dengan keadaan diriku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan. Ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui, janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (hal. 73)


Jika renungan tersebut tidak membuat kita sadar hakikat kehidupan kita, maka lihatlah, betapa mengerikannya ketika akhirnya kesuksesan menjadikan seseorang meremehkan orang lain. Memandang bahwa orang yang belum sukses adalah mereka yang malas, mereka yang belum berusaha secara maksimal. Bahkan banyak, orang sukses yang tanpa sadar menganggap bahwa kesuksesannya adalah hasil jerih payahnya sendiri. Ia lupa bahwa ada Allah sebagai penentu takdir.
“Allah, atas semua nikmat yang Engkau berikan kepadaku, terkadang justru membuatku angkuh. Seakan-akan semua yang aku peroleh di dunia ini adalah hasil kerja kerasku. Bahkan aku pernah menganggap rendah orang lain lantaran dia tidak memiliki kemampuan dan kepandaian yang lebih hebat dariku.” (hal. 16)


Buku Caturlogi Mardhatillah ini, mempunyai seri lain dengan judul: ‘Allah, Aku Rindu kepada-Mu’, ‘Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri’, dan ‘Allah, Kepada-Mu Aku Kembali’.
Dwi Suwiknyo, dengan gaya muhasabah telah membawa pembaca seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Menjawab setiap kegelisahan batin akan arti bahagia dengan sebuah perenungan yang dalam.


Bahagia adalah manakala kondisi batin lapang selapang-lapangnya dalam menerima ketentuan takdir dari Tuhan. Bahagia adalah ketika menyadari bahwa selain kesuksesan dunia, ada hal lain yang membuat seseorang pantas tertawa yaitu ketentraman hati yang bersumber dari rasa syukur. Bahagia, sesederhana pikiran seorang hamba bahwa jika Allah berikan kepadanya nikmat yang seperti sekarang, artinya inilah yang terbaik baginya. Bahagia adalah sebuah rasa antara dia dan Tuhan-Nya. Sehingga syukur menjadi sesuatu yang wajar, sebab hamba yang menerima sepatutnya mengucap terima kasih pada Tuhan Yang Maha Pemberi.


Buku ini juga sudah diterjemahkan oleh penerbit PTS Malaysia dan diterbitkan tahun 2022. Namun, karena menggunakan Bahasa Malaysia, saya lebih memilih membaca edisi original terbitan Indonesia, meskipun dari segi tampilan cover dan kertas bukunya lebih bagus yang edisi terjemah.


Terakhir, jikalah sempat dan sedang ingin membaca buku, belilah buku ini agar kita bisa mengingat betapa nikmat Allah seluas langit dan bumi. Ya Allah, Bersama-Mu Aku Bahagia.


3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here