Ingatan itu kembali bertamu. Selayaknya kopi hitam yang sedang kusruput, menemani untuk mendengar beberapa ketukan nada tetesan air hujan yang menjatuhi genting rumah. Di ruang belajar, aku duduk sambil merindu seorang perempuan. Putih rambut, keriput kulit, rasa sayangnya begitu hangat, lebih hangat dari pelukan mentari di pagi hari. Aku menyayanginya begitu sangat. Bersamanya aku merasa aman. Inginku dia selalu berada di sini, melihat kesuksesan cucunya.
Aku masih mengingat dirinya yang terbaring lemah di ranjang tua berwarna merah marun, kayunya mengilat sebab diamplas. Aku ikut duduk di sana, sambil memperbaiki posisi meja lipat yang kupakai untuk menulis ringkasan pelajaran tauhid minggu lalu. Tiba-tiba dia bangun dari lelap, lalu memandangku lekat-lekat. Kala itu dia memujiku, karena tabiatku yang sangat berbeda dari beberapa cucunya yang lain. Dia mengatakan kalau aku mirip dengan almarhum kakek. Suaminya yang dahulunya adalah seorang cerdik pandai dan gemar belajar, tak terhitung entah sudah berapa buku yang telah ditamatkannya.
“Cucuku akan menjadi orang besar,” ucapnya lirih.
Aku mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan dugaannya. Ingin sekali kuucapkan beberapa kata, tapi pendengarannya tidak sebagus dulu lagi. Takut merusak suasana kala itu.
“Ke Mesir atau ke Mekah?” tanyanya kembali.
Kudekati telinganya yang tertutup oleh anak jilbab merah jambu, “Mesir Nek, tempat kelahiran Nabi Musa,”
Perlahan-lahan senyumnya mengembang, senyumnya selalu saja tampak menawan walaupun sudah lansia, “Ambilkan kotak kayu itu,” jarinya menunjuk-nunjuk kotak kayu tua yang berada di atas lemari rotan yang berwarna kuning keemasan.
Aku turun dari ranjang tua, meraih kotak kayu tua, lalu kembali duduk di sampingnya.
“Buka saja,” suruhnya masih dengan suara lirih.
Aku membuka kotak itu. “Kenapa barang seperti ini ada di dalam kotak, Nek?”
“Uhuk… Uhuk… Itu peninggalan kakekmu,” dia berusaha bangun untuk duduk. “Sudah waktunya nenek berikan kepadamu.
“Kenapa diberikan kepada saya, Nek?” tanyaku.
“Karena cocok dan pantas.” Senyumnya merekah, wajah nenek seolah-olah tampak muda kembali. Dua kata itu sudah cukup mewakili alasannya. Setiap bertanya lagi, tidak kurang dan tidak lebih, masih itu jawabannya, “Cocok dan pantas.”
Kuangkat benda itu dari kotak.
“Ja-jangan dipakai dulu,” larang nenek.
“Kenap…”
Sebelum aku selesai bertanya, nenek sudah menggelengkan kepalanya. Menyuruhku supaya patuh saja, “Belum saatnya.”
“Kapan saatnya, Nek?
“Setelah kakimu menempuh tanah Kairo.”
****
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagiku, menunggu pengumuman yang sangat kuimpikan. Aku berdoa kepada Allah sambil menunggu jarum jam tanganku menyentuh angka 09.30 WIB. Sekarang masih Jam 09.20. Hujan yang tadinya menjatuhi genting mulai senyap bunyinya, matahari pun sudah mulai mencurahkan cahayanya, masuk melalui celah papan dinding ruang belajarku. Dengan kaca mata minus 3.5, aku menatap layar laptop yang dari tadi menampilkan gambar yang sama. 10 menit ini sangat menyiksa dadaku yang tidak bisa berhenti berdegup kencang.
“Etek!” suara seseorang dari depan warung Amak
Kenapa harus di saat seperti ini? Kemana Amak pergi? Aku pergi keluar dari ruang belajar, meninggalkan laptop dalam keadaan tetap menyala.
“Etek, di mana?”
“Tidak tahu, Buk. Mau beli apa?” jawabku.
“Sebentar…” Handphonenya bergetar, diangkatnya panggilan itu, meninggalkanku berdiri termenung. Aku geram dengan keadaan, geraham kananku mulai terasa ngilu, karena terlalu kuat menggeram.
“Buk,” Panggilku dengan nada lembut.
“Bentar, tunggu sebentar,” ucapnya yang membuatku semakin geram.
Kenapa lama sekali? Kakiku sudah terlalu gatal, jika harus tetap berdiri di sini. Pengumuman yang kunanti pasti sudah keluar. Ya Allah, bagaimana ini? Kenapa engkau kirimkan seorang ibuk cerewet pada saat yang menegangkan?
“Ibuk Jamilah, mau beli apa?” tanyaku sekali lagi.
“Bentar Ham. Lagi bicara sama suami ini,” jawabnya dengan alasan klasik.
Aku semakin kesal, wajahku terasa panas, dipacu dengan rasa penasaran tentang hasil pengumuman yang kutunggu-tunggu, dan sekarang harus dihambat oleh ibuk muda yang sedang sibuk mengoceh dengan suaminya. Apakah urusan rumah tangga bisa seenaknya mengganggu kegiatan orang lain. Kuberanikan diri, untuk menaikkan nada suaraku satu oktaf lagi, aku harus berikan tatapan tajam supaya dia mau paham kalau aku sedang marah. Namun, harus kupertahankan dengan nada suaraku agar masih terdengar lembut. Lembut yang menyindir.
“Ehm! Ibu… Mau beli apa?”
Dia berhenti berbicara dengan suaminya.
“Biar kuambilkan dulu, soalnya aku masih ada urusan penting. Jadi, mau apa?”
“Hm… Iya, ambilin etek kantong asoy sebungkus,” jawabnya dengan suara pelan.
Aku tersenyum lebar, senyum yang sengaja kukeluarkan untuk menahan satu kata keluar, “Kampret, sudah lama-lama menunggu, hanya beli sebungkus kantong asoy saja.” Untung saja senyum ini bisa menjadi pagar yang baik, sehingga hal itu tidak meluncur keluar. Aku masih ingat perkataan nenek, “Siapa yang bersabar akan beruntung.” Semoga saja ini menjadi amal yang bisa kujadikan doa membantu kelulusanku kali ini.
Ingin aku bersegera masuk ke kamar dan melihat hasil di layar laptop, tapi badanku tiba-tiba panas dingin. Seketika ruang belajar menjadi tempat yang angker bagiku. Karena ada rasa takut jika tidak lulus.
“Mungkin aku berwudhu saja dahulu,” gumamku di dalam hati.
Kuambil air wudhu membasuh semua anggota wudhu, pada bagian wajah agak kukuatkan basuhannya, supaya ada rasa wajahku yang memerah bisa kembali normal.
Kutarik kursi berwarna biru, lalu duduk seraya mengambil napas dalam. Sedalam mungkin, ini adalah napas yang terdalam dan harus benar dalam, karena ada harapan yang terpendam. Aku mulai menekan mouse hitam tua, “Klik.”
Layar yang padam mulai bercahaya. Ada tabel yang berisikan begitu banyak nama berdampingan dengan e-mail. Semua disusun berdasarkan peringkat dari nilai tes tertinggi. Sempat membuatku kepayahan karena tidak disusun sesuai abjad. Mengharuskanku memakai kaca mata, seraya lebih dekat lagi melihat layer.
“Ham! Jangan terlalu dekat melihat laptop,” larang Amak yang mengintipku dari celah-celah pintu kayu kamar.
Aku agak kesal dengan ini, orang lagi serius kok malah dihalangi. Ini kan permasalahan masa depan, “Tenang saja, Mak. Cuma kali ini saja. Lagian aku kan pakai kaca mata.”
Amak berlalu menuju dapur. Aku melanjutkan pencarian nama di dalam tabel kelulusan. Setiap kali lelah menatap layar, kulepaskan kaca mata, lalu kuusap mataku. Sesekali aku juga mengusap kotak kayu peninggalan kakek yang berada di atas ranjang tempat tidurku. “Aku akan pantas menggunakan barang peninggalan kakek, aku yakin namaku pada ada di tabel ini.”
Sekian lama mempreteli begitu banyak nama satu per satu. Air mataku jatuh ketika melihat angka 777, ini nomor terakhir peserta yang diterima. Sama sekali tidak ada namaku. Aku mengunci pintu kamar rapat-rapat, dan menutup celah-celah dinding papan yang memungkinkan orang bisa mengintip, aku tidak mau orang mengetahui tangisan kegagalanku, terutama Amak.
“Laki-laki tidak boleh cengeng,” pesan Amak yang selalu kuingat.
Semakin kuucapkan kalimat itu, semakin susah menahan kesedihan, apa lagi melihat kotak kayu itu. “Apa aku tidak akan pernah pantas memakai barang peninggalan kakek?”
Handphone-ku berdering, sebuah panggilan dari teman baikku di Madrasah dulu, si Gibran.
“Selamat sobat, aku sudah melihat pengumumannya. Tidak kusangka teman sebangkuku akan segera menjadi mahasiswa di Universitas Islam tertua itu.”
“Maaf Gibran, mungkin kamu salah lihat. Aku tidak lulus,” jawabku lesu.
“Ya Allah, aku turut prihatin. Bolehkah aku memberikan sarah kepadamu?”
“Boleh, memang sebaiknya aku diberi saran untuk melanjutkan kuliah di Universitas Negeri saja.”
“Bukan itu. Namun, sudah saatnya kamu mengganti kaca mata minus 3.5 menjadi 4.0.”
“Apa maksudmu?” tanyaku yang mulai tersinggung.
Dia mengirimkan foto screenshot, di situ ada tertulis nama dan emailku di nomor urut 144.
“Terus ini nama siapa? Cuma satu orang yang mempunyai nama email aneh seperti ini. Dan orang itu adalah kamu, Ham. Ilhamrebus345@gmail.com. Hahaha.”
Aku membuka kembali laptop, mencari nomor urut 144. “Aku lulus. Alhamdulillah!”
Kututup panggilan dari Gibran, nanti saja ngobrol panjang bersamanya. Aku menarik kain yang menutup celah-celah pintu, lalu berlari menuju dapur. Amak sedang mencuci piring kala itu.
“Mak! Aku lulus!” teriakku histeris sambil menunjukkan kepadanya layar laptop yang tertulis namaku di sana.
Amak meneteskan air mata kebahagiaannya, membasuh tangannya yang bersabun, lalu mulai merangkulku. “Anak Amak akan jadi ulama besar. Sesuai harapan Nenek.”
“Iya, Mak. Sesuai harapan, Nenek,” jawabku dengan suara lirih.
****
Akhirnya hari ini tiba juga, aku bersama beberapa mahasiswa baru, pertama kalinya melangkahkan kaki keluar dari Cairo International Airport. Sebuah gedung besar berdinding kaca biru. Dengan gagah kami bertiga puluh orang dari Sumatra Barat, membawa koper masing-masing, ada tanda pengenal yang dikalungkan pada leher kami masing-masing. Kumpulan rombongan senior menyambut kedatangan kami. Ketika sudah beberapa langkah keluar dari bangunan besar ini. Aku berhenti, dan mengambil barang peninggalan kakek yang sengaja kusimpan di dalam tas. Sebuah sorban putih bermotif garis hitam sekilas mirip serbet. Kulilitkan pada leherku sambil menatap langit Mesir yang biru, tidak ada setitik awan putih yang menutupi kebiruannya.
“Nenek. Aku izin memakai ini. Sebab aku sudah pantas,” gumamku di dalam hati, sambil menyeka air mataku yang mulai tumpah.
Sebuah motivasi sangat dibutuhkan dalam menggapai impian apapun. Semakin kuat motivasi, akan semakin kuat pula peluang suksesnya. Aku sekarang sudah menggapai keinginanku, membayar janjiku kepada almarhum nenek. Tinggal satu misi lagi, aku harus berjuang mencapai target selanjutnya, yaitu menaklukkan Kairo.
*****































