Kita benar-benar terkaget-kaget dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Badai Siklon Senyar telah menerpa dengan beringas di kawasan Selat Malaka pada akhir November 2025. Sebenarnya, bibit siklon 95B telah berkembang sejak 21 November di timur Aceh. Bibit siklon itu kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Senyar beberapa hari kemudian. Dampaknya begitu terasa di banyak wilayah di Pulau Sumatra, termasuk provinsi Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Di ketiga provinsi paling barat republik ini, hujan sangat lebat mengguyur setiap hari selama beberapa hari berturut-turut. Kesaksian sahabat-sahabat saya yang berada di sana, yang bercerita lewat obrolan di gawai, membuat saya sedikit banyak mampu membayangkan sedahsyat apa peristiwa itu.
Berdasarkan pantauan dari berbagai sumber berita, data observasi menunjukkan intensitas hujan ekstrem yang amat sangat tinggi. Di Sumut tercatat curah hujan harian mencapai 238,4 mm hingga 229,7 mm. Di sejumlah stasiun provinsi lain, juga tercatat tingkat hujan ekstrem serupa. BMKG bahkan menyebut bahwa kombinasi siklon plus kondisi atmosfer mendukung suplai uap air membuat potensi cuaca ekstrem meluas ke wilayah barat dan utara Sumatra.
Badai Siklon Senyar
Hujan deras sebenarnya tak hanya terjadi di Sumatra. Pertengahan November kemarin, di kampung halaman saya, Purbalinga Jawa Tengah, turun hujan deras beberapa hari yang melongsorkan bukit tempat pemakaman keluarga besar saya. Sejumlah 15 jenazah terpaksa harus direlokasi ke tempat lain yang lebih aman. Untungnya, lokasi longsor jauh dari pemukiman, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Tampaknya hujan derasa secara merata memang terjadi di seluruh Indonesia. Coba lihat gambar di bawah ini!

Topan Senyar Melanda Indonesia
Gambar tersebut memperlihat betapa dahsyatnya Badai Siklon Senyar dan wilayah-wilayah yang terpapar. Tentu, siklon dan hujan lebat, yang merupakan hazard, adalah pemicu bencana. Ini faktor alam, kedatangannya tak bisa dicegah, meskipun sebenarnya bisa diantisipasi. Dan inilah sebenarnya inti dari tulisan ini. Meskipun hazard akan datang kapan saja, akan tetapi kejadian tragis yang kita saksikan tidak semata-mata akibat alam. Dalam manajemen risiko bencana atau mitigasi, kita mengenal persilangan empat elemen kritis yang bisa menaikkan atau menurunkanrisiko bencana, yaitu hazard, exposure, vulnerability, dan response. Kita bisa melihatnya di gambar ini!

Empat Aspek Risiko Bencana
Dahulu, kita mengenal hanya tiga elemen, yaitu hazard, exposure dan vulnerability. Sekarang, elemennya bertambah menjadi empat dengan adanya aspek responses. Penjelasan detailnya begini, Sobat sekalian. Exposure meningkat ketika manusia dan permukiman dibangun, atau tetap bertahan, di lokasi-lokasi sumber bencana, seperti di dekat lembah sungai, lereng bukit, atau area hulu yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap air alami. Pada kasus di Sumatera, sebenarnya pemukiman sudah terlebih dahulu ada. Akan tetapi, pengelolaan lahan yang dilakukan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan, misalnya melalui pembukaan hutan, penggundulan lahan, konversi lahan hulu tanpa rehabilitasi, maka paparan terhadap bahaya meningkat tajam.
Vulnerability adalah kerentanan sistem sosial dan fisik kita. Hal ini sangat menentukan skala tragedi. Lingkungan yang sudah rusak, sistem drainase buruk, rumah-rumah tidak tahan cuaca ekstrem, hingga lemahnya kesiapsiagaan masyarakat membuat dampak bencana jauh lebih parah. Ditambah kecenderungan untuk membangun di zona rawan longsor atau banjir, atau izin lahan yang tidak mempertimbangkan aspek ekologis.
Response adalah tanggapan, maksudnya tentu tanggapan dari pihak-pihak terkait yang memiliki kewajiban untuk membantu memperkecil risiko bencana, misal aksi tanggap darurat. Pada kasus ini, kita bisa melihat bahwa awalnya instansi terkait, yakni BNPB sempat agak meremehkan kasus ini dan lewat pernyataan ketuanya, menganggap bahwa bencana tak semencekam di media sosial. Saya curiga bahwa pernyataan tersebut merupakan respon yang cenderung mengecilkan bencana, barangkali disebabkan karena data yang tidak akurat. Nyatanya, ketua BNPB akhirnya meminta maaf, karena tak menyangka bahwa bencana tersebut sebesar ini.
Sebagaimana muncul dalam laporan terkait bencana akibat Senyar, kita melihat bahwa hujan terjadi sepanjang hari dengan intensitas sangat. Banjir dan longsor ini telah membuat banyak infrastruktur seperti jembatan, jalan, dan komunikasi terputus akibat tanah longsor dan banjir bandang, sehingga menyulitkan evakuasi dan bantuan. Bisa jadi inilah yang membuat data akurat tidak secepat itu diterima oleh pihak berwenang.
Empat aspek tersebut tampaknya saling mengisi sehingga korban jiwa dan tingkat kerusakan pun menjadi sangat tinggi. Hingga saat ini, korban jiwa terus bertambah. Dalam hitungan resmi BNPB hingga hari ini tercatat 776 orang meninggal akibat banjir dan longsor di Sumatra, dengan ratusan jiwa masih dinyatakan hilang. Sementara itu puluhan ribu warga dievakuasi, dan sekitar 3 juta warga terdampak bencana ini. Beberapa laporan menyebut total korban tewas bisa lebih tinggi, hingga menyentuh angka ribuan, terutama ketika rumah-rumah, fasilitas publik, dan desa-desa hilang diterjang arus deras.
Rapuhnya Sistem Mitigasi Kita
Di tengah suasana duka yang terasa begitu nelangsa, peristiwa akibat Senyar jelas menunjukkan betapa rapuhnya sistem mitigasi kita. Hazard ekstrem berupa siklon tropis luar biasa di Selat Malaka memang memicu bencana. Tapi besarnya korban, kerusakan, dan penderitaan masyarakat menunjukkan bahwa faktor exposure, vulnerability, dan response juga sangat menentukan. Di mana manusia memilih tinggal, bagaimana tata kelola lingkungan dan lahan di hulu, seberapa tangguh sistem dan rumah terhadap bencana, serta seberapa cepat dan efektif respons penanggulangan, akan sangat mempengaruhi tingginya risiko bencana, termasuk dalam kasus ini.
Kita harus menyadari bahwa Indonesia bukanlah negeri biasa. Indonesia adalah negara rawan bencana. Kita hidup di pertemuan Cincin Api Pasifik dan Sirkum Mediterania, rangkaian gunung berapi yang memberikan ancaman erupsi. Juga berada di pertemuan lempeng tektonik yang memberikan ancaman gempa dan tsunami. Kita juga berada di kawasan tropis yang rawan iklim ekstrim. Lebih-lebih, kita juga memiliki ekosistem rapuh karena deforestasi yang tak terkendali. Potensi-potensi bencana tersebut tidak boleh kita anggap enteng. Manajemen bencana harus menjadi prioritas, termasuk cadangan dana yang lebih banyak.
Mengandalkan pertumbuhan ekonomi saja, tanpa memperhatikan keseimbangan ekologi dan daya dukung lingkungan, adalah pendekatan semu. Saatnya menerapkan kebijakan berbasis sains, data, dan prinsip kehati-hatian lingkungan. Pemerintah dan pembuat kebijakan harus memperhitungkan resiko bencana dalam setiap izin penggunaan lahan, dalam setiap perencanaan pemukiman, dan dalam setiap program pembangunan. Sistem peringatan dini harus ditingkatkan; rehabilitasi hutan hulu, zona lindung, penataan ruang dan drainase harus dilakukan; serta edukasi masyarakat tentang resiliensi terhadap bencana harus diperkuat.
Hanya dengan cara itu kita bisa mengurangi exposure, menurunkan vulnerability, dan memperkuat response. Sehingga ketika badai datang entah siklon, hujan lebat, atau perubahan iklim manusia dan alam tidak runtuh bersamaan. Kita tidak hanya menyelamatkan nyawa dan harta, tapi juga masa depan generasi berikutnya. Karena pada akhirnya, bencana bukan hanya soal alam, bukan hanya karena hazard yang memang tidak bisa kita tolak. Seringkali bencana merupakan tanda bahwa kita memang sistem kita memang sangat rapuh. Dan jika kita terus abaikan fragilitas lingkungan, maka tragedi seperti akibat Siklon Senyar bisa terulang, bahkan lebih buruk. Na’udzubillah!
































