Berkumpul bersama keluarga besar merupakan moment yang dinantikan saat Idulfitri. Tak hanya sekadar bertemu, namun juga melepas rindu bersama sanak saudara yang mungkin hanya bisa bertemu setahun sekali. Kumpul keluarga menjadi ajang untuk menyambung silaturahmi, menikmati hidangan bersama, serta tak tertinggal ucapan “maaf-maafan”. Melalui ucapan “Sugeng Riyadi” atau “Mohon maaf lahir dan batin”, hal itu seolah menjadi bentuk saling memohon dan memberi maaf. Meskipun moment bermaafan tidak harus saat lebaran, namun perlu disadari bahwa tak semua orang itu memahami kesalahan di saat itu juga.
Di sisi lain, perilaku memohon maaf lebih sering sebagai aktivitas mulut semata hanya diucapkan tanpa memberikan pengaruh yang nyata. Mulut meminta maaf, namun hati, dan tingkah lakunya masih mencerminkan kebencian, atau sikap yang kadang menyakiti. Atau bahkan dari pihak yang sudah memaafkan belum tuntas, sehingga Ketika bertemu orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari, kadang rasa itu muncul Kembali. Menunjukkan bahwa banyak orang yang secara lisan memaafkan, tetapi dalam hati masih menyimpan luka, bahkan dalam tindakan masih menunjukkan kebencian. Hal ini merupakan salah satu ketimpangan antara teks (ucapan) dan praksis (tindakan).
Apalagi ini berhubungan dengan saudara seiman, muslim satu dengan lainnya. Bahkan telah di jelaskan pula hubungan antara Al-Qur’an, tafsir, dan tindakan manusia harus bersifat sirkular dan saling menguatkan (Nurrohim, 2019). Jadi, memaafkan merupakan nilai-nilai Al-Qur’an yang tidak boleh berhenti pada pemahaman atau ucapan, tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata.
Hakikat Meminta Maaf
Sedangkan hakikat dari meminta maaf sendiri adalah terpenuhinya kejujuran. Tanpa kejujuran, semua tindakan dan ucapan itu tidak ada artinya sama sekali (Rusdi, 2011). Dalam buku “Rahasia Memaafkan bagi Kesehatan Tubuh” yang ditulis oleh Rusdi dijelaskan pula, bahwa dalam perkembangannya, orang sering menggunakan perhitungan untung rugi dalam memaafkan. Misalkan Ketika ada seseorang yang meminta maaf kepada kita karena kesalahan itu ringan dan tidak merugikan kita akan dengan mudah untuk memaafkan. Hal ini menunjukkan bahwa kita masih memaafkan berdasarkan untung rugi.
Berbeda dengan memaafkan kesalahan yang ringan, memaafkan orang yang telah merugikan kita bahkan hingga melukai fisik atau mental jelas bukan perkara mudah. Pada titik inilah memaafkan menjadi sebuah “PR” yang belum semua orang mampu tuntaskan. Namun, ketika kita tetap mampu memaafkan meski berada dalam posisi dirugikan, di situlah letak makna memaafkan yang sesungguhnya.
Bagaimana jika rasa itu tetap muncul, dan kita masih memendam rasa tidak suka, marah, kecewa bahkan belum sepenuhnya memaafkan, jika dikaitan dengan kehidupan kita menjadi seorang muslim kenapa bisa terjadi? Salah satunya karena ajaran Islam masih menjadi simbol verbal saja, belum menghayati nilai aksiologisnya.
Dimensi Aksiologis Al-Quran
Dalam kajian Ahmad Nurrohim tentang konsep hikmah dalam Al-Qur’an, dijelaskan bahwa nilai-nilai Qur’ani memiliki dimensi praktis (aksiologis), yaitu harus diwujudkan dalam tindakan nyata (Nurrohim, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam termasuk memaafkan tidak cukup dipahami sebagai konsep, tetapi harus menjadi perilaku. Lalu bagaimana jika memaafkan hanya berhenti di lisan, maka muncul berbagai dampak negatif, yang tak hanya diperoleh bagi orang yang belum tuntas untuk memaafkan, tapi juga seorang yang meminta maaf yaitu:
- Retaknya hubungan sosial: Hubungan yang tampak baik di luar, tetapi penuh ketegangan di dalam.
- Munculnya konflik berkepanjangan: Dendam yang tidak diselesaikan akan muncul kembali dalam bentuk konflik baru.
- Gangguan kesehatan mental: Dalam kajian keislaman, kondisi batin yang tidak bersih dapat mempengaruhi kesehatan jiwa (Nurrohim, 2016)
- Kehilangan nilai spiritual: Memaafkan yang tidak tulus menghilangkan nilai ibadah itu sendiri.
Masih banyak dampak negatif lain jika kita tidak saling memaafkan dan masih memendam dendam di hati. Dalam Al-Qur’an Allah telah memerintahkan kita untuk memaafkan dengan cara yang utuh. Allah berfirman dalam surat Al A’raf ayat 199:
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”
Dalam ayat ini tidak hanya memerintahkan memaafkan secara verbal, tetapi juga bagaimana kita bisa mengendalikan emosi kita saat memaafkan, lalu menjaga sikap kita serta memperbaiki agar kesalahan itu tidak terulang Kembali. Dalam perspektif tafsir, perintah ini bersifat praktis (amaliyah), bukan hanya teoritis. Ahmad Nurrohim menegaskan bahwa tafsir memiliki peran penting pada level teoritis sekaligus praktis dalam kehidupan manusia (Nurrohim, 2019).
Cara setiap orang dalam memaafkan mungkin berbeda-beda. Yang pasti kita harus yakin dan percaya bahwa dengan memaafkan, itu merupakan wujud taqwa kita kepada Allah (Rusdi, 2011). Sebab, salah satu ciri penduduk surga adalah orang yang memiliki kepribadian pemaaf.
Bagaimana Cara Memaafkan?
Beberapa cara memaafkan yaitu:
- Kita mengakui dengan sadar bahwa kita merasa sakit hati atas perbuatan orang lain.
- Menyadari bahwa setiap orang salah sangat perlu dimaafkan, sebagaimana kita jika berbuat salah kepada orang lain.
- Membalas dengan kebaikan, seperti Nabi Isa ‘Alaihissalam saat dihina beliau tidak marah namun ia tetap senyum. Karena, setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya, kalau kita memiliki keburukan, maka yang kita nafkahkan adalah keburukan. Kalau kita memiliki kemuliaan, maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia.
- Berusaha berdamai dengan diri sendiri, yaitu memahami setiap keadaan yang datang, tidak menyalahkan orang lain dan dapat menerima sesuatu yang menimpa kita.
- Bersabar dan merelakan sesuatu yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita.
- Orang yang tidak memaafkan seperti meminum racun, namun ingin orang lain yang meninggal.
Dengan demikian, memaafkan dalam Islam mencakup tiga dimensi yaitu, lisan hati dan Tindakan. Mengucapkan maaf, mencoba menghilangkan rasa tidak enak hati, mengganjal ataupun dendam serta memperbaiki hubungan antara orang tersebut. Memaafkan yang sejati adalah ketika seseorang tidak hanya berkata “saya memaafkan,” tetapi juga benar-benar melepaskan dendam dan memperbaiki hubungan, karena memaafkan merupakan kunci kebahagiaan. Memaafkan bukan hanya tanda kelembutan hati, tetapi juga bukti keberhasilan memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an secara utuh (Nurrohim, 2019).
































