Setiap kita pasti ingin segera sukses dalam ranah apapun yang kita geluti. Apakah itu baik? Tentu saja baik. Keinginan segera sukses dapat melecut diri kita untuk lebih bersemangat menjalani prosesnya. Tetapi, tak jarang idealita mencapai kesuksesan dengan segera itu tidak kita dapatkan dengan mudah. Justru kita dihadapkan pada realita berupa kesulitan, kejatuhan, atau sekadar kebosanan.
Pada saat itu, kita perlu mulai membuat sebuah upaya penyegaran diri, sebut saja ia dengan istilah mencipta jeda dan mengambilnya. Kenapa? Kenapa harus mengambil jeda? Apakah artinya kita menyerah dan putus asa?
Tentu saja tidak. Mengambil jeda bukan bermakna menyerah apalagi putus asa. Justru ketika kita mengambil jeda, kita meyakini bahwa impian atau tujuan kita sangat berharga untuk kita lepaskan begitu saja, maka kita perlu membuat rencana yang lebih baik untuk menggapainya. Mengambil jeda jelas bermakna menghemat energi, pikiran, dan semua faktor pendukung agar bisa fokus pada tujuan kita. Dan mengambil jeda, juga bermakna berhenti sejenak, untuk melihat setiap proses kita dari kacamata yang lebih luas dan terbarukan (kreatif), pun berupaya mengumpulkan energi agar tidak kehabisan saat melangkah ke depannya.
Begitu kira-kira makna luas dari istilah mengambil jeda. Banyak ya maknanya, bingung tidak? Hehehe. Tidak perlu bingung, Sob. Yang penting kita sudah memahami betapa pentingnya mengambil jeda. Karena setiap proses mencapai kesuksesan itu perlu jalan panjang, berliku, dan kadang turun naik, jatuh bangun. Dan mengambil jeda adalah salah satu cara agar kita tidak kehabisan energi atau merasa bosan dalam menjalaninya.
Lalu, bagaimana sih caranya kita mengambil jeda?
1. Berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan
Rutinitas pekerjaan yang dilakukan setiap hari pasti akan membuat diri kelelahan baik fisik maupun mental. Akhirnya kita jadi stres, mudah marah, bad mood. Bukan hanya yang bekerja kantoran, bahkan misal kelak memutuskan menjadi ibu rumah tangga pun harus sering mengambil jeda. Sebab rutinitas sebagai ibu rumah tangga dengan seabrek pekerjaan domestik juga menyita energi dan pikiran.
So, ayo berhenti sejenak. Jika kita setiap hari belajar, coba luangkan waktu sehari bebas dari buku pelajaran. Jika kita bekerja, coba sesekali ambil cuti di luar waktu libur. Jika kita ibu rumah tangga, coba sesekali tidak bergulat dengan pekerjaan domestik.
2. Lakukan me time yang menyenangkan
Sebagai manusia tentu kita punya banyak peran sekaligus tugas. Meskipun demikian, kita perlu memberikan waktu kepada diri sendiri untuk melakukan apa yang disenangi. Hal ini sangat bagus untuk menyehatkan jiwa kita.
Kita bisa melakukan hobi, traveling, merawat diri, mengunjungi kafe langganan, nonton film, atau bahkan sekadar menambah jam istirahat. Semua yang membuat pikiran kembali fresh dan tenaga kembali pulih bisa kita coba lakukan.
3. Menambah ilmu
Mengambil jeda bukan berarti berhenti mencari ilmu, kadang justru saat jeda itu kita semestinya memanfaatkan untuk menambah ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang lain. Karena saat hari-hari biasa, kita selalu disibukkan dengan urusan kerja dan tugas, dan sangat minim waktu untuk mencari ilmu. Dengan ilmu yang bertambah bisa menjadi ‘kacamata’ baru dalam melangkah ke depannya.
4. Mengevaluasi proses perjalanan hidup
Mengambil jeda bisa juga dilakukan dengan melakukan kontemplasi (perenungan) tentang perjalanan hidup kita. Baik tentang diri, keluarga, pendidikan, karir, maupun relasi. Hal ini akan membuat diri kita mendapatkan insight (pencerahan) yang menguatkan jiwa dan pemikiran kita.
Dengan berkontemplasi, kita juga bisa melihat sisi kurang dan lebihnya perjalanan hidup kita. Dan hal itu sangat bermakna dalam mendewasakan diri kita.
Perenungan ini bisa dilakukan dengan menuliskannya atau hanya dengan memikirkannya saja. Tetapi yang paling penting, kita akhirnya mengetahui seberapa jauh perjalanan diri kita.
5. Membuat rencana perjalanan hidup
Setelah kita melakukan kontemplasi, tentu tidak berhenti di situ. Kita mesti segera mengambil langkah ke depan, yaitu membuat perencanaan perjalanan hidup selanjutnya. Hasil dari kontemplasi itu bisa menjadi dasar pembuatan rencana itu.
Mengapa harus membuat rencana? Sekali lagi, karena alasan kita mengambil jeda bukan karena ingin berhenti ataupun putus asa, sebaliknya karena ingin membuat langkah yang lebih baik menuju kesuksesan. Maka dari itu, tidak lain tidak bukan, kita harus mulai merencanakan proses ke depannya.
6. Meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga dan orang-orang penting dalam hidup kita
Selain meluangkan waktu untuk diri sendiri, kita perlu juga mengambil jeda untuk meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga maupun orang-orang penting lainnya. Mengapa? Karena mereka lah yang akan menjadi supporting system terbaik bagi kita.
Saat kita kepayahan, mereka akan menawarkan pundak untuk mengangkat beban bersama. Di saat kita kebingungan, mereka akan meraih tangan kita dan berjalan bersama.
Maka, pekerjaan, karir, tugas, bukanlah yang paling utama. Manusia (orang-orang) terdekatlah yang paling berharga, sebab mereka tak tergantikan.
Dengan meluangkan waktu dengan keluarga dan rekan, kita juga akan mendapatka banyak energi positif yang akan membuat kita lebih hype dan semangat menjalani proses menuju impian kita.
Seperti itulah kira-kira mencipta jeda. Ibarat sebuah tulisan, dia akan cantik dan menarik untuk dibaca ketika ada spasi di antara kata. Karena semakin rapat kata, semakin kelelahan kita mengeja.
Jadi, bagaimana dengan Sobat. Apakah sudah ada rencana seperti apa engkau mencipta jeda?
Penulis: Asri Istiqomah
































