Piutang Kejahatan – Cerpen Afifah Afra

0
34

Kamu telah menjemputku. Aku tahu tanpa harus melihatnya. Udara telah membungkus aroma keringatmu yang khas, dan meminta angin mengantarkan ke sini. Angin telah bekerja sangat purna. Paket aroma itu, diterima saraf olfaktoriku, yang kemudian mengirim rangsang ke jejala otakku. Aha, kutahu, sejumlah endorfin telah dilepaskan. Membuat aku mirip seorang anak muda yang tengah menikmati narkotika.

Aku terangkat ke angkasa. Kakiku seakan terbang, tatkala berlari menuju ke arah perempuan itu. Kamu. Kulihat, kamu ada di depan sana. Menopang dagu ke sadel kereta angin, satu-satunya harta milik kita yang berharga. Kita beli tiga hari usai pesta pernikahan yang sangat sederhana, sepuluh tahun silam.

Kereta angin itu masih kokoh menopang tubuhmu yang tak juga bertambah gemuk, meski dari rahim yang mulia itu, pernah tumbuh tiga bayi montok nan sehat. Aku yakin, meskipun nanti penumpangnya bertambah satu, kereta itu akan tetap kuat. Karena kamu telah merawatnya dengan sangat baik. Sebaik engkau merawat cinta yang sempat hendak dipentalkan oleh jarak dan nasib.

Ah, persis seperti harapanku, kau menjemputku. Kau sendiri, bukan yang lain. Karena memang hanya engkau yang kuinginkan menungguku di depan gerbang ini. Tatapmu mesra. Bahkan meninggi kadarnya. Tatapan yang jika ditranslasikan dalam lesan, akan berubah menjadi ucapan: Bagiku, kau tetap pahlawanku. Bui tidak mengubah penilaianku atasmu. Kau tetap lelaki yang sangat kupuja.
Perempuan itu tak mahir berkata-kata indah. Namun sentuhan tangan, tatapan dan senyum tulusnya, adalah bahasa cinta yang lebih indah dari puisi macam apapun.

Dan puisi itu terus melantun. Diseretnya aku sebagai pesakitan, vonis hakim, penjara enam purnama, tak melirihkan lantunan itu. Kau tetap perempuanku yang setia. Mengunjungiku saban pamungkas pekan, menjinjing makanan kegemaran—terkadang menyuapi—dan kini, menjemputku.

Ini hari kebebasanmu, Kang, ujarmu, kembali lewat tatapan, bukan kata-kata. Ya, kau tak pernah berkata-kata. Karena kau memang ditakdirkan Ilahi tak sanggup untuk menggerakkan lidahmu demi melafalkan sebuah kata.

Tak penting bagiku. Karena, yang saat ini tengah berkecamuk di benakku adalah, segera bertemu denganmu. Kau tahu, mengapa aku ingin segera bertemu denganmu? Karena, aku akan melakukan sesuatu. Sebuah upaya yang akan mengangkat marwah kita bersama.

Ya, kita masih memiliki sesuatu yang harus kita tagih, di tengah belitan fakir yang melilit hidup kita, Sumi. Kau pasti ingat, dan akan terus teringat. Sebuah piutang yang harus kita tagih. Semula, aku sungguh tak menyadari, jika kita memiliki piutang. Akan tetapi, suatu hari, aku mendapati pemikiran itu memasuki rongga kepalaku. Pemikiran itu memicu hasrat, yang semula hanya percikan api kecil, sekecil api dari korek api yang membakar ujung batang rokok. Namun, di ruang sempit yang lembab berbatas jeruji besi, percikan itu menemukan tumpukan kayu bakar kerontang. Hasrat lama-lama membesar. Keinginan kita untuk menagih piutang itu, kian berkobar-kobar.

Sum, masih ingatkah, kau … saat menjelang wafatnya, ayahmu, mertuaku, berpesan, bahwa kita tak perlu ragu menagih piutang yang kita miliki? Ya, karena utang-piutang, adalah sebuah masalah yang kata ayahmu, akan terbawa sampai mati. Pernah ada, seorang lelaki yang shalih meninggal dunia, dengan membawa poin kebaikan yang sangat banyak. Namun, di alam kubur, ia tetap disiksa. Penyebabnya, ia masih meninggalkan utang selama di dunia. Ia pun mendatangi seorang sahabatnya dalam mimpi, mengatakan, bahwa aku berhutang sekian kepada si fulan. Sahabat itu pun memenuhi pesan almarhum.

Nah, jika kita memiliki piutang, dan kita tidak menagihnya selama masih memiliki kesempatan, sedangkan dalam hati kita tak ada pendar ikhlas, berarti kita membiarkan orang yang berhutang kepada kita itu disiksa oleh malaikat alam kubur, yang kata ayahmu itu, sangat kejam. Jadi, mari kita tagih piutang kita itu, Sumi!

Piutang apa? Kau menatapku, saat aku berhasil menyelesaikan kosa kata terakhir perihal piutang itu.
Jadi, kau tak tahu? Baiklah, aku ceritakan asal-muasalnya. Aku tahu, kau akan sabar mendengarnya.

Sungguh, Sumi, kau tahu, tak ada darah pencuri tercampur di kumparan nadi kita. Meski kemiskinan adalah makanan keseharian, kita lahir dari keluarga yang terkenal penuh budi. Ayahku dijuluki si leher panjang, karena menjadi muadzin, alias pelantun adzan di surau kampungku. Ibuku pun seorang qori’ah yang sering membacakan kalam Illahi sebagai pembuka acara-acara pengajian, atau upacara pernikahan. Bahkan, aku pun akhirnya dijadikan menantu seorang guru mengaji yang terkenal arif bijaksana, ayahmu. Jadi, sejak kecil kita mengenal ajaran agama, sebagaimana kita berdua saling mengenali selama pernikahan ini.

Namun, adalah hasrat kemanusiaan yang wajar, jika di terik mentari yang garang, aku terpikat pada segerumbul buah jambu air merah muda nan segar. Kau tahu, Sumi. Saat melihat rimbun jambu itu, aku ingat kepadamu. Pada bibirmu yang mengering. Pada kehamilanmu yang ketiga, yang baru menginjak bulan kedua. Kau nyidam buah jambu, sesuatu yang langka di kota tempat kita berada. Kalaupun ada, letaknya di tempat-tempat buah nan dingin di mal-mal, dengan harga sebesar penghasilanku sehari untuk seplastik kecil jambu.
Aku mencintaimu, Sumi. Karena itu, aku menjulurkan tangan, memetik buah itu. Dan, aku baru tersadar bahwa aku telah mencuri, saat terdengar sebuah teriakan.

“Pencuri! Ada pencuri!”
Sepuluh buah jambu, hanya sepuluh buah jambu. Namun pemilik pohon itu tak mau kompromi. Tepatnya sengaja mengambil kesempatan itu untuk mempencundangiku. Pardi, si pemilik pohon, adalah pesaing berat dalam memperebutkan perempuan yang kini menjadi istrinya. Perempuan itu, Lestari, awalnya memilihku, namun akhirnya dia meninggalkanku dan lebih memilihnya. Sementara aku akhirnya menikah denganmu, Sumi, perempuan gagu namun memiliki jiwa seindah langit biru. Sebenarnya Pardi telah menang. Tetapi dia tak pernah bisa terima bahwa aku pernah memiliki Lestari. Jadi, meski menang, dia sebenarnya tak lebih dari seorang pecundang, dendam tak lekang dari benak Pardi, bahkan bersarang dan beranak-pinak.

Polisi pun dipanggil, dan mendadak aku merasakan sepasang tanganku tak mampu bergerak bebas karena sepasang lingkaran besi telah memborgol.

Sepuluh buah jambu air telah membuatku meringkuk dalam penjara. Lima puluh hari, ditambah masa tahanan sebelum vonis sebanyak 10 hari. Jadi, genap dua purnama kebebasanku dirampas.

“Jadi, kau dipenjara hanya karena mencuri 10 buah jambu?!” temanku satu ruang terbelalak. “Dan kau divonis 50 hari?”
“Begitulah!” Jawabku, singkat.
“Bodoh!” rutuknya.

Semula aku mengira bahwa temanku itu memaki kebodohan polisi, jaksa, ataupun hakim yang memutus perkara itu. Jika makian itu memang terlontar untuk mereka, itu tak luar biasa, karena aku pun telah kenyang memaki mereka. Tetapi makianku pada mereka bukan dengan kata ‘bodoh’, melainkan ‘kejam’ atau ‘tak berperasaan.’

Sekarang, aku bisa menghubungkan, bahwa orang bisa menjadi kejam dan tak berperasaan karena kebodohannya.

“Ya, polisi, jaksa, hakim, semua bodoh.”
“Bukan mereka yang bodoh!” sungut lelaki yang mengaku bernama Kalajengking—mungkin nama julukan. Seburuk-buruk orangtua, tampaknya tak ada yang tega memberi nama anaknya kalajengking. “Tetapi kau yang bodoh.”

“Mengapa saya?”
“Kenapa kau tidak melakukan kejahatan yang lebih besar dari itu, jika hukumannya sama-sama berat.”

Kalajengking tertawa terbahak-bahak melihat aku hanya melongo. Ia pun lantas bercerita. Ia sudah hampir sepuluh kali keluar masuk penjara. Ia merampok sebuah toko emas dan hanya dipenjara satu tahun. Ia menjual narkoba dengan keuntungan hingga berjuta-juta rupiah, dan vonis dijatuhkan hanya tujuh bulan. Saat ini ia dipenjara tiga bulan, karena menganiaya bosnya hingga masuk rumah sakit.

“Bosku terpaksa opname lima hari di rumah sakit, dan hitung berapa biayanya? Sekitar lima juta. Kejahatan yang kulakukan impas dengan hukuman, jadi aku tak punya piutang.”

“Piutang?”
“Ya, piutang kejahatan. Kau tahu, ada bupati mencuri uang negara puluhan milyar, dan hanya dipenjara 6 tahun, kemudian mendapat remisi 3 tahun. Itu pun penjaranya mewah, seperti hotel bintang lima. Tidak seperti ruangan kita ini. Banyak sekali, anggota legislatif, mantan menteri, gubernur, bupati, dirjen dan pejabat mencuri hingga milyaran, tapi hanya dikurung beberapa bulan atau beberapa tahun saja. Bahkan ada pula yang hingga kini masih melenggang bebas. Mereka memiliki utang yang sangat besar.”

“Utang?”
“Ya, mereka punya utang, bukan piutang seperti kau.”
“Jadi mereka harus membayar utang itu?”
“Tentu. Dan kau harus menagihnya.”
“Bagaimana caranya?”

“Kau tambahkan saja kadar kejahatanmu. Jadi impas. Kita bisa berhitung. Jika kau yang mencuri jambu dengan harga lima ribu rupiah dan kau dihukum 50 hari ….”

“Enam puluh hari, karena sebelum vonis, saya ditahan sepuluh hari.”

“Ya. Jika kau dihukum 60 hari hanya karena mencuri senilai lima ribu rupiah, berarti kalau ada yang mencuri satu milyar rupiah, ia harus dihukum dua belas juta hari atau 32876 tahun!”

Aku kembali melongo. Jemariku semula bergerak untuk membuktikan kebenaran ucapannya, namun seketika kuturunkan kembali ketika kudapati jemari tanganku hanya ada sepuluh. Huruf O di mulutku semakin lebar tatkala menyadari, bahwa Kalajengking menghitung semua itu tanpa kalkulator.

Atau, mungkin dia pernah menghitung-hitung sekian kali, dan oleh karenanya menjadi hapal di luar kepala?
“Jika kau ingin keadilan, jangan tuntut pada para penegak keadilan, tetapi tuntutlah sendiri. Tambahlah kejahatanmu, tagihlah piutangmu. Itu baru keadilan.”

Kalajengking terbahak-bahak, tak menyadari bahwa perkataannya telah merasuk begitu dalam ke benakku. Berkali-kali, ucapan itu hadir dalam sadar maupun alam mimpiku. Membangkitkan hasrat yang kian lama kian membahang. Ya, setelah aku masuk bui, kurasakan marwah keluargaku terbanting seperti cawan yang pecah berkeping-keping menjadi beling.

Marwah yang tertuntut, akan membuat orang berpikir, bahwa apa yang kulakukan itu tak salah. Dadaku penuh bahang, yang kemudian mencair seperti lava yang terluncur dari kepundan dan memadat jadi magma pijar.

Bahkan bahang itu mengalahkan puisi cinta yang melantun dari tatapan, senyum dan sentuhanmu, wahai perempuanku.
Kita akan pulang. Anak-anak merindukanmu.
Aku termangu. Dan perempuan itu menatapku.
Mari kekasihku, mari kita kembali menata laku … puisi cinta, dari tatapan mata.

Nyaris ucapan tanpa kata itu melarutkan hasratku. Apalagi, kereta angin itu, dalam tatapanku telah berubah menjadi kereta kencana yang seakan-akan hendak menjemput sang pangeran untuk kembali ke istana, usai kembali dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan.

Tetapi, tidak! Aku masih memiliki piutang. Piutang yang memprovokasi seluruh ekstremitas pergerakan dalam tubuhku untuk segera beraksi.

Mari pulang! tanganmu membimbingku.
Aku terdiam. Bibirku terkatup, tapi semburat panas dari mataku, tampaknya terloncat masuk ke matamu, dan masuk ke dalam sanubarimu. Oh, aku melihat parasmu berubah. Kau tahu, apa yang tengah berkelindan di hatiku.
Jangan! Ujarmu. Lewat tatap matamu.

Bagiku, ucapan jangan itu dilambari kekuatan yang membuatku sedikit terhuyung. Aku pun melangkah mundur, perlahan. Tetapi kau yang begitu pintar membaca laku pikirku, tak membiarkan aku lepas begitu saja.

Kita pulang! Kau meraih tanganku, lalu menarik lembut. Dan, seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya, aku melangkah mengikuti langkahnya menuju kereta angin yang kemudian kukayuh dengan gerakan seperti robot.

Tetapi, piutang itu?
Aku masih memiliki piutang. Dan aku ingin menagihnya, meski tak tahu, kapan, di mana dan kepada siapa aku menagihnya.
Kereta angin itu kini melewati sebuah keramaian. Sebuah mall yang baru saja dibuka dan tengah melakukan berbagai atraksi promosi. Sangat ramai. Panggung besar didirikan di halaman. Kanan kiri panggung dipenuhi pengeras suara yang bertumpuk-tumpuk dan berhasil melipatkan volume hingga terdengar berkilo-kilometer. Sebuah drum digebuk dengan penuh semangat, beberapa senar gitar dicabik-cabik dan seorang rocker meloncat-loncat dengan atraktif sembari memegang mikropon. Suaranya lebih mirip seekor macan yang tengah menggerung-gerung kesakitan. Tetapi ratusan penonton berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Parkir kendaraan berjubel hingga ke badan jalan, menimbulkan kemacetan yang cukup parah. Namun karena mobil-mobil yang berjajar itu kebanyakan dari kelas elit, tampaknya tak ada persoalan yang cukup berarti untuk ditindaklanjuti. Maka, gerutuan para pemakai jalan cukup terlontar saat kejadian.

Aku mengayuh sepeda itu dengan perasaan semakin tak keruan.
Aku ingin menagih piutang itu.

Sebuah motor meluncur ke area parkir. Dan, sebuah ujung kabel dengan setrum berkekuatan raksasa, mendadak seperti ditancapkan ke kulitku. Ada getar yang kuat, yang membuatku sontak menurunkan kecepatan kereta anginku. Aku … aku hapal sekali stiker yang tertempel motor itu. Dia lelaki yang membuatku masuk bui hanya karena mencuri jambu-jambunya.

Ketika motor itu berhenti, detak jantungku pun seperti hendak berhenti pula. Mataku terpicing, tubuhku gemetar saat mengamati dengan seksama sosok yang turun dari motor itu.

Kamu menepuk pundakku. Isyarat dari mulutmu kuterjemahkan dengan mudah. Hendak kemana, Kang?
“Menagih piutang.” Aku turun dari sepeda. Lalu tergesa berlari, menuju sosok itu.
Kang, aku mencintaimu! tangan perempuan itu menahanku. Pulanglah, memaafkan lebih baik.

Brak!
Lelaki itu tiba-tiba jatuh terguling. Tangannya mendekap dada. Mulutnya tampak menyeringai. Lalu tak bergerak. Aku berlari ke arahnya. Sungguh, aku tak melakukan apa-apa padanya. Namun kamu menepuk pundakku keras.

Apa yang telah kaulakukan terhadap Pardi? Kamu menatapku, dengan wajah pucat. Suaramu parau, sengau. Orang tak tahu apa yang kamu ucapkan, karena kamu gagu. Tetapi aku tahu, semua kelindan yang berada di otakmu.

Orang-orang berkerumun mendekati pria itu. Mereka mencoba memberi pertolongan. Sejenak kemudian ambulance datang. Lelaki itu diangkat dan dimasukkan ke ambulance tersebut.

“Aku tak jadi menagih piutang,” bisikku. “Tapi dia sudah membayarnya.”

Tatapanmu kini beralih pada ambulance yang telah beranjak pergi. Sesaat kudengar orang-orang mengobrol di belakangnya, mempertanyakan mengapa Pardi mendadak tak sadarkan diri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here