Menulis Itu Gampang adalah sebuah judul buku yang ditulis oleh mendiang Arswendo Atmowiloto. Buku tersebut berisi tentang tanya jawab seputar masalah-masalah kepenulisan. Jadi, di buku itu ada semacam dialog atau tanya jawab antara pembaca dan penulis. Judul buku dengan semangat optimisme tinggi seperti itu mungkin memang baik untuk disebarluaskan kepada khalayak ramai, jadi memang dalam judul itu terkandung sebuah kata yang sangat memotivasi, yaitu ‘Menulis itu Gampang’. Wah, mantap betul. Tapi apakah benar demikian? Apakah menulis itu benar-benar gampang? Sebagaimana yang digembar-gemborkan dalam judul buku itu. Sebentar dulu, ini adalah hal yang masih bisa kita perdebatkan.
Menulis bagi penulis profesional sekalipun tidak pernah mudah, menulis itu, kalau kata Ernest Hemingway, si penulis The Old Man and the Sea, adalah suatu kegiatan diam di depan mesin ketik (kalau sekarang laptop) sambil berdarah. Lihatlah, dari kata-kata ini kita sudah melihat, bukan, betapa luar biasanya kegiatan menulis itu. Agus Noor, yang penulis kondang itu pun, pernah mengalami writer’s block dalam menulis. Ia mengalami semacam lamunan panjang di depan layar laptop. Jadi menurut Agus Noor, seorang penulis adalah seorang yang bertahan diam selama berjam-jam di depan laptop sambil memandang layar kosong.
Menulis Itu Tidak Mudah
Dari sini saja kita sudah bisa meraba-raba bahwa menulis itu tidaklah mudah, ia memerlukan suatu keseriusan dan kekeraskepalaan, ada tekad yang kuat di sana. Selain itu, penulis juga mesti memiliki perbendaharaan kata yang kaya, dan untuk mendapatkan bahan tulisan itu, ya, salah satunya adalah dengan membaca. Seperti yang sudah saya jelaskan berkali-kali, membaca dan menulis itu memiliki keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lain. Sehingga kita seharusnya memang harus pandai membaca dan gemar membaca terlebih dahulu, sebelum kemudian kita benar-benar terjun ke dalam dunia tulisan dan kepenulisan. Tanpa modal seperti itu, menulis tidak serta-merta menjadi gampang, karena setiap tulisan itu memiliki kesulitannya masing-masing, entah itu tulisan berbentuk fiksi maupun nonfiksi. Maka sebenarnya anggapan bahwa menulis itu gampang mungkin harus kita diskusikan terlebih dahulu.
Menulis itu tak pernah gampang, dan sekaligus tidak terlampau sulit, ketika kita tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum kita terjun ke dunia literasi. Dengan demikian, kita menjadi seseorang yang bisa mewujudkan bahwa menulis itu gampang. Tapi kembali lagi, tidak selalu dan tidak terus-menerus bagi seorang penulis untuk bisa menulis dengan gampang. Karena terkadang mood dan suasana di sekitarnya juga memengaruhi proses menulis. Ada ritme menulis dan tiap penulis memiliki ritme yang berbeda dalam menuliskan karyanya, menuliskan tulisannya.
Menulis Buruk dan Menulis Cepat
Nah, untuk menciptakan ritme itu, setiap penulis memiliki caranya sendiri-sendiri. Seperti AS Laksana dalam bukunya Creative Writing, ia menyarankan kita untuk menulis buruk dan menulis cepat.
Menulis buruk akan membuat Anda terhindar dari ketegangan yang tidak perlu, membuat Anda terbebas dari beban-beban yang menyumpal di benak Anda. Beban untuk meraih kesempurnaan bisa membuat Anda tersendat-sendat dan tidak menulis apa-apa. Jadi, rileks sajalah. Buatlah diri Anda menjadi lebih enteng untuk menggerakkan pena atau menekan tuts mesin tulis Anda (Creative Writing, AS Laksana 2023, hlm. 17).
Sedangkan menulis cepat dilakukan agar ide-ide yang melesat dan bertebaran di dalam pikiran kita bisa segera tercatat dan tak lepas lagi. Ide diibaratkan sebagai kuda liar, dan menuliskannya berarti mengikatnya dengan benar. Jadi, menulislah cepat.
Menulislah tanpa menyensor diri, menulislah seperti Anda berbicara dengan teman dekat Anda. Kenapa terlalu lama untuk menuliskan draf pertama? Anda toh, masih punya kesempatan berikutnya untuk memperbaiki draf tersebut. Jangan habiskan waktu Anda untuk bertarung alot pada draf pertama. Anda akan cepat kelelahan. Sebaliknya, dengan menulis cepat. Anda akan menyelamatkan dua hal sekaligus: mood dan waktu Anda (hlm. 25).
Berani dan Jujur
Tapi memang tidak setiap penulis awalnya berani dan jujur dalam menuliskan perasaannya atau pengalamannya sendiri. Nah, di sinilah kemudian permasalahan itu muncul: menulis tidak pernah mudah, meskipun bahan-bahan telah kita sediakan, data-data sudah didapatkan, dan referensi sudah dijajarkan. Keberanian dan kejujuran juga ternyata sangat diperlukan untuk mengawali dan mengakhiri sebuah tulisan.
Jadi, yang harus dilakukan pertama adalah menuliskannya terlebih dahulu, entah itu racauan atau perasaan dari diri kita sendiri, atau satu kejadian yang tak bisa dilupakan begitu saja di benak kita, atau ada ide atau semacam pemikiran yang mengendap di kepala kita, dituliskan saja terlebih dulu. Jangan takut, dan cobalah mulai jujur pada diri sendiri. Yah, mungkin itulah yang membuat menulis menjadi kegiatan enteng dan gampang untuk dilakukan, sebelum kemudian menjadi sangat menyenangkan dan kita perlahan-lahan akan mencintainya.































