Kurban Perasaan

0
48

Bukan, fokus tulisan ini bukan mengenai cinta yang bertepuk sebelah tangan atau si dia yang tak kunjung datang, tulisan ini mengenai hikmah dari syariat kurban. Penulis mendapati hikmah mendalam pada catatan Pak Bachtiar A. Fatah, seorang penghuni Lapas Sukamiskin, mengenai kurban. Allah punya cara tersendiri untuk mengajarkan hikmah pada hamba-Nya. Untuk seorang Bachtiar A. Fatah, caranya adalah dengan tersandung kasus bioremediasi dan mendekam di Sukamiskin. Izinkan penulis parafrasakan sedikit dari sebagian tulisan beliau.

—-

Awalnya seorang sahabat yang berkunjung itu bercerita biasa, sama seperti sahabat-sahabat yang lain. Apalagi yang diangkat hanyalah kisah Nabi Ibrahim a.s. yang sejak kecil sudah kita dengar bahkan sudah hafal akhir kisahnya. Namun hari itu kisah Nabi Ibrahim disampaikan dengan berbeda. Disampaikan dengan sudut pandang yang benar-benar membuat jiwa ini ingin melompat, karena menemukan pencariannya.

Sahabat saya ini berkisah, Nabi Allah, Ibrahim sudah semakin renta. Istrinya pun mandul, namun tidak pernah berhenti berharap untuk mendapatkan keturunan yang akan meneruskan kenabiannya. Di ujung kegundahannya untuk mendapatkan anak, berdoa namun belum juga dikabulkan oleh Allah. Maka lahirlah anak yang diharapkan, setelah meminta berpuluh tahun.

Setelah punya anak, Nabi Ibrahim a.s. mendapatkan ujian yang begitu berat. Anak yang diharapkan bertahun-tahun dan sangat dicintainya tiba-tiba harus disembelih. Sahabat itu menuturkan kisahnya. Dari segi keimanan, Nabi Ibrahim tidak perlu diragukan keyakinannya. Dibakar hidup-hidup yang mengancam jiwa tidak pernah membuatnya mundur selangkah pun. Apalagi menggeser keyakinannya. Tapi mengapa Allah masih juga mengujinya, dengan ujian yang aneh, yaitu harus menyembelih anaknya.

Sahabat itu memberikan nasihatnya, “Ibrahim, setelah kelahiran anaknya, benar-benar mencintai anaknya. Cinta kepada anaknya telah sedikit menggeser cintanya kepada Allah, sehingga Allah mengingatkannya, Allah sangat pencemburu, Allah tidak pernah mau dinomorduakan karena Allah adalah satu-satunya zat yang tidak ada tandingannya untuk dicintai. Allah tidak butuh dicintai, tetapi hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang meletakkan cintanya hanya kepada-Nya di atas cinta yang lainnya.

Sahabat itu mengingatkan dengan nada nan begitu halus.

“Mungkin kita berlebihan mencintai harta yang telah susah payah dikumpulkan. Mungkin kita mencintai anak-anak dan istri melebihi segalanya, hingga kita diingatkan untuk sementara jauh darinya.”

Kalimat tersebut masih dirangkai dengan kalimat, “Karena jika tidak dipisahkan mungkin akan melupakan Tuhan yang telah memberikan segalanya. Ataukah kita mencintai pekerjaan kita, sehingga menggeser prioritas, yang seharusnya datang saat azan berkumandang.” Cerita kawan ini merampas semua keheningan jiwa saya.

—–

Di titik ini penulis terhenyak. Bisakah kita mengurbankan perasaan kita untuk Allah? Mengurbankan cinta kita kepada kekasih hati, mengurbankan cinta kita kepada orangtua, mengurbankan cinta kita kepada buah hati, mengurbankan cinta kita terhadap harta benda, mengurbankan cinta kita kepada pangkat jabatan dan pencapaian. Mengurbankan seluruhnya untuk Allah. Karena cinta kita sebagai manusia adalah terbatas, tidak cukup untuk dibagi-bagi antara Allah dan orang-orang terkasih, antara Allah dengan harta benda duniawi. Maka di momentum haji, kita tanggalkan semuanya, kita tinggalkan semuanya untuk Allah.

Cinta yang utuh, cinta yang tak terbagi kepada sang Khalik, Allah azza wa jalla. Cinta yang tak terbagi untuk Allah inilah yang cukup untuk dibagi-bagikan ke seluruh langit dan bumi. Tumpah ruah cinta itu kepada pasangan kita, kepada orangtua kita, kepada buah hati kita, kepada sahabat, tetangga, rekan kerja, harta benda, kedudukan, hewan-hewan dan lingkungan tetumbuhan semuanya. Hingga sampai pada satu keinsafan bahwa apa-apa yang kita cintai di dunia ini sejatinya bersumber dari Allah, Ar-Rahman Ar-Rahim.

Dari kisah Ibrahim dan keluarganya, kita dapati sang ayah berkurban, si anak mempersilakan kurban itu, sang ibu mendukung kurban itu. Semuanya turut andil. Rasanya tidak banyak keluarga semacam ini. Akan merepotkan jika hanya salah satu pihak yang mantap berkurban, dalam Bahasa Indonesia menyebutnya dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Cobalah sekarang bertepuk tangan, sebelah kanan saja. Tangan kanan bergerak panjang dan lebar untuk menepuk tangan kiri yang diam saja, tidak responsif, pemandangan yang sangat nahas. Begitulah manusia, tetapi tidak demikian dengan Allah.

Allah berfirman pada hadis Qudsi, ”Apabila seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari. Apabila ia mendekati-Ku satu jengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kalaulah di tahun ini belum utuh cinta kita kepada Allah, tak mengapa. Masih ada waktu, mulailah dengan berjalan, tidak perlu berlari. Mulailah dengan sejengkal, tidak perlu sehasta. Jika dimulai dengan niat yang tulus, Allah yang akan menghampiri kita. Harapannya, ketika tahun berganti, kita sudah siap dengan momentum hijrah kita masing-masing. Berhijrah semampu kita, berhijrah menjadi lebih baik, berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya.

Insya Allah dalam perjalanan hijrah itu akan dijumpai rintangan dan halangan, tetapi dijumpai pula teman perjalanan dan pertolongan. Di penghujung hijrah itu semoga Allah kuatkan kita untuk bisa berkurban, bahkan mungkin Allah kuatkan apa-apa yang kita cintai untuk turut berkurban. Sehingga cinta bertepuk sebelah tangan berubah menjadi meriahnya tepuk tangan. Karena semuanya berkurban, maka tidak perlu ada seorang pun yang dikorbankan.

‘Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatorosshamawati wal ardho khanifammuslimau wamaaa anna minal musyrikin, inna sholati wa nusuki, wamahyahya wamamati lillahirabbilalamiin, laasyarikalahu wabidhalika umirtu wa’annaminal muslimin’

“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan mengikuti agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku termasuk bagian dari orang-orang muslim.”

NB: Tulisan utuh Pak Bachtiar A. Fatah berjudul “Menggeser Cinta” dihimpun dalam buku berjudul “Sukamiskin’s Springboard: Kumpulan Catatan Renungan Kala Diri Berjarak dengan Kemerdekaan” terbitan Progressio.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here