Dijemput Bidadari

4
187

Tangan kanan bocah yang sudah tertidur hampir 24 jam itu bergerak, menunjuk ke atas langit-langit rumah. Sabiya yang sejak kemarin tidak beranjak dari samping si bocah, melihat arah telunjuk itu.

“Apa yang kau lihat? Mengapa kau tersenyum, Zaid?” Ia memandang heran tubuh bocah yang terbaring di sampingnya. Mata bulat Zaid menatap lurus ke langit-langit rumah yang dipenuhi jaring laba-laba, tanpa berkedip. Sementara bibirnya, merekah tersenyum.

“Aku melihat bidadari, Ummi,” ujarnya. Sabiya semakin heran.

“Kamu yakin? Memangnya pernah bertemu?” Sabiya berusaha meredakan rasa cemasnya.

“Aku yakin, Ummi. Mereka memakai gamis putih dengan kerudung putih yang melambai-lambai ditiup angin. Satu lagi, Ummi, mereka semua cantik-cantik, lebih cantik dari Ummi.” Mau tak mau Sabiya terkekeh mendengar perkataan anak 10 tahun itu.

“Zaid, kamu tidak bermimpi kan? Sekarang lihat ke sini, coba tatap mata Ummi.”

“Ummi di mana? Mengapa aku tak melihat Ummi? Mengapa yang ada hanya bidadari-bidadari itu?”
Jantung Sabiya seakan berhenti berdetak. Mungkinkah?

“Zaid, tunggu sebentar, Ummi mau menjemput Dokter Ahmed, tidak akan lama.” Tidak menunggu jawaban dari Zaid, Sabiya bergegas ke luar rumah.

Kemarin, Zaid sedang berjalan-jalan di pasar Ramallah. Ia ingin membeli hummus, makanan paling legendaris di bumi Palestina. Itu adalah makanan favoritnya, apalagi jika disajikan dengan cocolan roti, bola ayam ataupun daging. Saat itulah, segerombolan tentara Israel yang sedang mabuk lewat dan menabrak Zaid. Zaid jatuh tapi dengan sigap segera meraih ‘sebelah kakinya’ yang terlempar. Tentara itu marah, menuduh Zaid menghalangi jalannya. Tentara itu memukul Zaid sehingga Zaid kembali jatuh. Begitu Zaid bangkit temannya yang lain mendorong Zaid, dan Zaid kembali jatuh. Berpasang-pasang mata penjual dan pembeli hanya menatap iba pada Zaid. Jangankan dalam keadaan mabuk, di saat sadar saja tentara Israel tak mau diajak kompromi.

Kesabaran Zaid hilang. Sekuat tenaga ia mengayunkan tongkat penyangganya ke arah tentara-tentara itu. Terdengar jeritan, juga tetesan darah dari pelipis salah seorang tentara Israel. Tak ayal lagi, Zaid jadi bulan-bulanan. Bagai bola, mereka mengoper-oper tubuh Zaid. Setelah puas, tentara yang tadi pelipisnya berdarah mengambil tongkat Zaid dan sekuat tenaga memukulkannya ke kepala Zaid. Terdengar suara berderak. Bukan kepala Zaid, tapi tongkat itu yang patah, sedang Zaid langsung ambruk dengan kepala berdarah.

Hampir 24 jam Zaid tidak sadarkan diri. Sabiya menyangka Zaid akan gegar otak karena peristiwa itu. Tapi… sama sekali Sabiya tak membayangkan akibat ini, mata Zaid tidak lagi berfungsi.

Dulu mereka mengambil sebelah kaki Zaid, dan kini kedua matanya juga mereka rampas. Lalu esok apalagi?
Sebelah kaki Zaid hilang saat dia masih berusia tujuh tahun. Saat itu dia sedang bermain perang-perangan bersama beberapa orang kawannya. Sebagian dari mereka berperan sebagai tentara zionis dan sebagian lagi sebagai pejuang intifadhah, Zaid sendiri bertindak sebagai Syech Ahmad Yasin, mantan orang nomor satu Hamas yang kini sudah tiada.

“Ayo gempur….! Habiskan zionis itu!” Zaid berteriak-teriak sambil memberi semangat anak buahnya.
“Palestina milik kita! Ayo gempur, lemparkan batu-batu di tanganmu, ini tanah leluhur kita, tanah nenek moyang kita, tanahnya para Rasul dan para Anbiya…!” dan terdengarlah suara dor…dor…dor dari mulut bocah-bocah itu.

“Hidup Palestina, hidup Syech Ahmad…” beberapa orang temannya mengangkat-angkat tubuh Zaid.
Tanpa mereka sadari dua orang tentara Israel lewat melintasi lapangan. Mereka masih berteriak-teriak memuji Hamas dan memaki-maki tentara zionis, dan baru terdiam ketika kedua tentara itu benar-benar telah dekat.

Anak-anak itu saling pandang. Ada yang mundur sedikit demi sedikit, ada yang malah menatap tajam tanpa takut. Zaid langsung memegang ketapel, alat pelontar batu, yang dikalungkan di lehernya.

“Jadi kamu pimpinannya? Kamu Ahmad Yasin, ya?” ejek salah seorang tentara.

“Ya!” Zaid menjawab mantap. Kedua tentara itu saling pandang dan kemudian mengangguk, seolah sudah biasa melakukan percakapan hanya lewat mata.

“Baiklah, kami antarkan keinginanmu menjadi si tua yang pincang itu, agar setelah ini kursi roda yang jadi teman setiamu.” Lalu salah seorang menarik sebuah pistol dari pinggangnya dan langsung menembakkan ke lutut kiri Zaid.

Darah mengalir deras dari kaki Zaid. Sebelum pandangannya berubah gelap, Zaid meneriakkan kata ‘serang’ pada teman-temannya. Masing-masing meraih alat pelontar batu di leher masing-masing. Lalu terdengarlah jeritan kedua tentara Israel tadi. Lontaran dan lemparan batu itu segera mereka balas dengan berondongan peluru panas. Akibatnya belasan anak itu roboh, meninggal di tempat, hanya tiga orang yang selamat, termasuk Zaid yang waktu itu telah pingsan.

***

“Ummi …mereka datang lagi.” Sabiya menoleh ke arah putranya. Dokter Ahmed tadi sudah memeriksa keadaan Zaid. Dokter Ahmed menyarankan agar Zaid segera dibawa ke spesialis mata untuk memastikan semuanya. Apakah itu akan permanen atau hanya sementara.

“Mereka siapa?”

“Para bidadari Ummi. Mereka terus melambai-lambai.” Sabiya tersenyum. Mata kasar Zaid memang tak melihatnya, tapi dia percaya mata hati Zaid tidak berbohong. Apakah ini pertanda? Sabiya menyeka air matanya yang tiba-tiba merembes di pipi. Orang-orang yang dicintainya telah diambil satu demi satu. Suaminya diculik dan sampai sekarang tak tahu rimbanya. Haseem, Kakak Zaid juga dibunuh tentara Israel sehari setelah peristiwa lutut Zaid ditembak. Ia mengamuk di markas tentara Israel mencari tentara yang menembak lutut Zaid. Dan kini, apakah kini giliran Zaid yang akan pergi?

“Kau benar-benar ingin bertemu mereka, Zaid ?” Sabiya menyeka air matanya, bertanya pada Zaid.

“Tentu saja, Ummi.”

“Bersabarlah, sebentar lagi, kita akan menemuinya, bersama-sama.”

***

“Tuan, ada surat buat Anda!” ujar tentara itu begitu pintu ruangan yang tadi diketuknya telah dibukakan. Orang yang dipanggil Tuan menyuruhnya masuk. Lalu tanpa bicara dia mengambil surat yang disodorkan. Raut wajahnya berubah saat membaca surat itu.

Surat itu dari Sarah. Kekasihnya yang hilang belasan tahun lalu. Ia yakin Sarah sudah mati, dibunuh orang Palestina. Ia bahkan sudah hampir melupakan nama itu. Tapi kini, Sarah mengirimkannya surat.

“Siapa yang mengantar surat ini?” tanyanya begitu selesai membaca.

“Surat itu ditemukan tergeletak begitu saja di depan pintu gerbang.”
Simon mendengus.

“Sekarang kumpulkan beberapa orang temanmu. Pergi ke alamat ini. Katakan bahwa kau diutus olehku untuk menjemputnya.” Simon memberikan amplop di tangannya kepada tentara itu.
Sebenarnya Simon ingin datang sendiri. Tapi dia masih belum percaya, ini seperti mimpi. Sarah, sudah lebih dari sepuluh tahun dia menghilang. Padahal dulu mereka akan melangsungkan pernikahan.

***

Zaid sedang duduk di depan rumah ketika dua kendaraan roda empat memasuki halaman. Lima orang tentara Israel turun dari mobil pertama dan diikuti tiga orang dari mobil kedua.

Zaid meraih tongkatnya, ia merasakan gelagat yang tidak baik. Siapa mereka? Sabiya muncul dari dalam dan tertegun begitu melihat beberapa orang tentara Israel berkumpul di depan.

Salah seorang tentara Israel maju ke arah Sabiya dan tanpa diduga menarik kerudung penutup kepalanya. Sabiya kaget, tapi sudah terlambat untuk menghindar. Rambut pirangnya tergerai melewati bahunya.

“Maafkan saya Nyoya, saya cuma mau memastikan kalau Anda benar-benar Sarah. Sekali lagi maafkan saya.” Tentara tadi menunduk, sepertinya dia sangat takut kalau-kalau Sabiya marah. Sabiya mendengus, dia masih ingat, tentara yang barusan menarik kerudungnya bernama Abimelech.

“Dari mana kalian tahu kalau aku adalah Sarah?” tanya Sabiya sambil memasang kembali kerudungnya.

“Tuan Simon mendapat surat yang mengatakan Anda berada di alamat ini. Kami diperintahkan menjemput Anda. Tuan Simon sangat merindukan Anda. Juga kami tentunya.” Abimelech tersenyum.

Sabiya juga tersenyum. Babak awal dari rencananya berjalan sempurna. Seperti dugaannya, Simon masih merindukannya.

Ucapan Dokter Ahmed beberapa waktu lalu masih terngiang-ngiang di benak Sabiya. “Ini sama saja dengan misi bunuh diri. Bagaimana jika dokumen itu telah dipindahkan? Kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan?”

Bersama Dokter Ahmed dan dirinya, masih ada beberapa orang lain di dalam ruangan itu. Sabiya berniat masuk ke ruangan tempat dokumen rahasia Israel tersimpan. Sabiya sangat yakin akan keberadaan dokumen itu, ia sendiri pernah diajak Simon melihatnya. Dokumen yang mengungkap rincian pembantaian warga Palestina selama perang 1948. Laporan lengkap tentang Operasi Yoav dan Operasi Hiram yang merupakan dua operasi skala besar yang diluncurkan Israel pada Oktober 1948. Dan masih banyak dokumen rahasia lain terkait pembunuhan, penghancuran, perampasan dan pengusiran rakyat Palestina sejak dulu.

Sabiya hanya butuh satu hal, membuat Simon percaya kepadanya. Simonlah yang menjaga ruangan itu selama ini.

Dan kini, anak buah Simon sudah menjemputnya.

“Zaid, ayo ganti baju.”

“Maaf Nyonya, hanya Anda sendiri yang akan pergi.”

“Tapi dia anakku!”

“Tuan Simon tak ingin ada orang Palestina yang masuk ke markasnya.”

Sabiya tertawa. “Dia anakku, dia sama sepertiku. Dan lihatlah, apakah seorang bocah buta dan pincang juga ditakutinya? Hei… kemana julukan Sang Serigala yang dulu pernah di sandangnya? Sudahlah, aku nanti yang akan menjelaskan pada Simon, kalian tak akan dimarahi.” Sabiya masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian kembali keluar bersama Zaid. Sama sekali tak ada yang memperhatikan kalau Zaid tampak sedikit lebih gemuk dibanding yang tadi.

***

Mendekati malam, kedua mobil itu sampai di pusat kota Yerussalem.

Sepanjang perjalanan tadi Sabiya teringat semua masa lalunya. Dua belas tahun yang lalu dia masih bernama Sarah Adaire, kekasih Simon Theophilus. Mereka sering dijuluki sepasang serigala padang pasir. Hingga suatu hari, saat dalam perjalanan menuju Jalur Gaza, dua orang menyergap dan memperkosanya, di dalam sebuah hutan tak jauh dari Jalur Gaza. Sabiya tahu kedua orang itu adalah tentara bawahan Simon. Saat kedua prajurit itu akan membunuhnya, segerombolan pemuda Palestina menyelamatkannya. Mereka membawanya dan menahannya sebagai sandera.

Selama menjadi tawanan dia diperlakukan istimewa. Sedikit demi sedikit kebenciannya pada rakyat Palestina berubah menjadi cinta. Hingga puncaknya hidayah itu datang, dia menyatakan diri memeluk Islam. Begitulah, Sarah akhirnya benar-benar menghilang dari kehidupan Simon. Dan sejak dinikahi seorang duda tak lama setelah ke-Islamannya, sejak itu dia adalah Sabiya yang hidupnya sering berpindah-pindah.

Sabiya turun dari mobil sambil membimbing Zaid, mereka masuk ke sebuah ruangan. Dalam ruangan itu puluhan orang tentara Israel sedang berpesta pora. Pesta yang juga dulu sering dilakukannya bersama Simon, apalagi setelah siang harinya mereka berhasil membunuh beberapa orang Palestina.

Setelah matanya menyapu seluruh ruangan, akhirnya pandangan Sabiya berhenti pada satu sosok, ya…itu Simon yang juga tengah memandangnya.

“Sarah Adaire, Sarahku yang Cantik…” Simon langsung memeluknya. Dengan sedikit kaku Sabiya membalas pelukan itu. “Sarah, ini benar Kamu, kan?”

Sabiya tersenyum, “Kau tidak salah Theophilus, ini aku, Sarah-mu.”

“Sarah, bisakah kita bicara di tempatku? Maksudku…di tempat kita.”

Sabiya mengangguk. “Bagaimana dengan….”

“Aku yakin dia anakmu. Tapi Sarah, aku hanya ingin kita berdua.”

Sabiya mendekati Zaid dan berkata, “Zaid, kamu tunggu Ummi di sini ya? Hanya lima belas menit.” Tak ada yang cukup jeli untuk mendengarkan bahwa Sabiya menekankan suaranya sewaktu mengatakan lima belas menit. Zaid mengangguk. Sebelum mereka keluar, Simon masih sempat mengatakan pada salah seorang tentara agar melayani Zaid dengan baik.

“Mengapa lima belas menit Sarah, tidakkah itu terlalu sebentar?” ujar Simon begitu mereka telah meninggalkan ruangan aula tempat pesta itu.

“Kalau kubilang lama dia pasti akan merengek minta ikut, Simon.”

Begitu memasuki tempat pribadi kediaman Simon, tak jauh dari aula, Sabiya segera menyapu pandang ke seluruh ruangan. Setelah sepuluh tahun, ruangan ini masih seperti dulu. Bahkan fotonya dengan seragam tentara bersama Simon masih tergantung di dinding.

“Sarah, apa yang terjadi padamu? Kau jauh berubah, juga pakaianmu, Sarah…”

Sabiya menarik napasnya, “Ceritanya panjang Simon, sangat panjang.”

“Aku rela malam ini tidak tidur, Sarah.”

Sekali lagi Sabiya menarik napas. Lalu mengalirlah cerita itu dari mulutnya. Sesekali berhenti, mencerna ulang kalimat yang baru diutarakannya, berharap tak ada kejanggalan atas apa yang telah diucapkannya.

Di luar sana, Zaid duduk sambil terus menghitung detik demi detik. Sepuluh menit telah berlalu. Sabiya telah berpesan, jika dalam lima belas menit ia masih berada di dalam ruangan, itu artinya ada masalah. Dan Zaid boleh bertindak.

“Hai, Kalian semua, lihat di sini. Apa kalian mengenalnya?” jantung Zaid berdetak lebih cepat. Ia sangat mengenal suara itu. Tentara yang tempo hari Zaid pukul pelipisnya dengan tongkat penyanggah kakinya. Tidak mungkin. Bagaimana bisa ia harus bertemu mereka saat ini?

Zaid dapat merasakan beberapa orang tentara kini tengah mengelilinginya, persis seperti saat ia berada di Pasar Ramallah beberapa waktu lalu. Sepertinya akan ada perubahan rencana. Sebelum mereka menangkapnya dan mengetahui apa yang ia bawa, ia harus segera bertindak.

Suara ledakan besar itu terdengar tepat disaat Sabiya mengambil gelas yang disodorkan Simon. Guncangannya begitu hebat. Sabiya menarik napas. Simon berlari ke pintu. Dia seakan tak percaya. Aula itu kini hancur berkeping-keping.

“Sarah, anak itu….jangan-jangan….” kata kata simon terhenti.

“Benar Simon Theophilus, kau terlambat menyadarinya. Anak itu telah menjalankan apa yang kuperintahkan.” Usai berkata secepat kilat Sabiya menikamkan belati yang sudah dipegangnya ke jantung Simon. “Ini untuk dua orang anak buahmu yang telah memperkosaku.”

“Ini untuk suamiku yang kalian culik.” Kembali ditikamkannya belati itu.

“Dan ini untuk Palestina.” Tikaman ketiga membuat Simon tumbang, tanpa perlawanan. Sabiya membuang pisau itu ke lantai. Ia bergerak cepat, mengambil sebuah kunci yang tersembunyi di laci meja Simon. Lalu berlari menuju sebuah pintu. Begitu pintu dibuka, ia sangat kaget. Ruangan itu kosong. Tidak ada lemari, tidak ada meja ataupun kursi. Tidak mungkin!

“Kau keliru jika menganggap aku terkecoh, Sarah. Sejak awal aku sudah menduga, Kau bukan Sarahku lagi.” Suara itu. Sabiya menoleh. Simon berdiri terhuyung sambil menodongkan pistol ke arahnya.

Saat itulah terdengar suara sirine panjang. Sirine tanda bahaya. Puluhan tentara Israel berlari ke gedung itu, juga tentara-tentara yang tadi masih berusaha memadamkan api yang masih menjalar ke gedung-gedung di samping aula. Sesampainya di pintu mereka tertegun melihat Simon bermandikan darah dan Sabiya berdiri tak jauh darinya. Saat itulah Sabiya menarik sesuatu dari balik bajunya dan dengan cekatan menyambungkan kabel merah dan kabel biru yang melilit badannya. Simon segera menarik pelatuknya. Tapi sudah terlambat. Sabiya jauh lebih cekatan.

“Zaid, Ummi segera menyusulmu, suruhlah bidadari-bidari itu menjemput.”

***

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here