Jodoh Untuk Glen

0
62

You Raise Me Up-nya Josh Groban mengalun merdu dari audio canggih home theathre paviliun mewah rumah itu. Sejenak menerbangkan angan sosok metal berambut ala Ruud Gullit yang tengah terkapar di atas sofa dengan kepala menghadap layar televisi berukuran 29 inchi di depannya.

Ini tentu bukan mimpi. Bukan pula bentangan karya sineas Hollywood yang memang seringkali mampu mengejawantahkan isi kepalanya dalam karya-karya yang menggiriskan hati. Tidak! Ini bukan film, bukan aksi teathrikal apalagi ludruk, tonil atau ketoprak.

Glen memejamkan matanya. Tumpukan mayat yang tergambar begitu jelas di depannya itu telah sukses menyulap sepiring black forest buatan Mama menjadi seonggok lumpur sawah…  sehingga mana mungkin ia berselera menyantapnya.

Gila! Eh, innalillahi… seratus ribu lebih jiwa telah melayang gara-gara tsunami. Kebangetan betul Allah dalam membuat bencana.

“Allah sedang menguji keimanan rakyat Aceh. Ini adalah tanda kecintaan Allah kepada mereka. Ini bukan azab, tetapi musibah yang diujikan untuk menaikkan peringkat keimanan mereka.” Itu kalimat Haji Rofiq, imam masjid sebelah rumah yang biasanya ia maki habis-habisan karena ocehannya di waktu subuh seringkali membuatnya tak lelap tidur. Padahal seringkali ia baru bisa ambruk di tempat tidur di atas pukul 24.00, biasa… habis ngedugem. Tetapi tak seperti subuh-subuh sebelumnya, pagi tadi Glen mendadak berhasil membuka mata lebar-lebar untuk tidak sekarat di atas spring bed, serta menghela sepasang telinganya untuk menyimak baik-baik ceramah lelaki tua itu.

Ungkapan Bang Irsyad, seniornya di kampus lain lagi. Lelaki yang aktif di masjid kampus itu berkata, “Keimanan akan selalu diuji, salah satunya adalah ujian ketakutan, kekurangan harta, bahkan juga kematian. Bencana memang bisa merupakan sebuah azab, tetapi juga bisa merupakan ujian bagi orang beriman.”

Glen tidak terlalu paham penjelasan Bang Irsyad ataupun Haji Tohir. Terminologi mereka terlalu rumit untuk otak udang dalam hal agama macam punyanya. Tetapi ungkapan mereka terdengar lebih enak dibanding celotehan teman-temannya. “Pantesan Aceh diazab! Orangnya perang melulu! Susyeh diatur… mana perkebunan ganja di mana-mana. Orang Aceh itu keras kepala!”

Entah mengapa, ada bagian yang koyak dalam hati Glen ketika mendengarkan kalimat itu meluncur dari bibir Jacklyn, cewek kece yang telah dua bulan lebih menjadi gebetannya.

“Lo ngerti apa tentang Aceh, Lyn!” bentaknya. “Kalau nggak tahu masalahnya, mending jangan asal menggonggong, Lo!”

Tentu saja Jacklyn terlongong mendengar kalimatnya yang supergahar itu.

“Eeh … kok Lo jadi kasar gitu. Emang betul, kok kata-kata gue. Makanya kalau nonton Teve jangan cuma sinetron aja yang dipelototin. Itu berita juga dimangsa, gih! Orang Aceh memang sulit diatur. Gubernurnya aja korupsi. Walikota Banda Aceh divonis 10 tahun, gimana tuh! Pantes aja jika dihancurin sama tsunami….”

“Lo juga brengsek. Suka boongin bokap Lo, suka ngedugem sampai pagi, mabuk, nyontek kalau pas ujian, ngebowat… kenapa Lo nggak kena azab?” semprot Glen. “Kenapa mobil lo nggak nabrak batu atau ngusruk ke jurang, heh?!”

“Eh, ngapain Lo jadi senewen kayak gitu?” Jacklyn melotot marah. “Kamu lagi mabuk, ya?!”

Mabuk? Tentu saja tidak. Tetapi kenapa ia mendadak jadi senewen? Betul juga! Kenapa ia jadi aneh seperti itu?

Ah, Jacklyn… sekeras apapun hati seorang ‘bajingan’ macam dia, masak sih sampai tidak terketuk melihat tragedi yang menimpa bumi serambi Mekah itu?

Suara Josh Groban telah berganti suara Sherina. Ia menyenandungkan sebuah lagu yang membuatnya semakin resah.

Tuhan marahkah Kau padaku… Sungguh deras curah murkamu…

Jika tuhan memang marah, kenapa justru ditujukan kepada… Cut Aisyah? Gadis cemerlang yang pernah ia ‘lamar’ menjadi salah satu pacarnya namun ditolak mentah-mentah beberapa tahun silam itu jelas-jelas sosok yang ‘tak berdosa.’ Jika rumahnya kemudian hancur, kedua orang tuanya meninggal dan ia menjadi sebatang kara karena tsunami telah merengut kehidupannya, apakah itu menandakan bahwa Allah marah kepadanya? Karena telah menolak dia menjadi pacar padahal ia telah bertekad, seratus persen akan taubat jika cewek itu menerimanya sebagai pendamping?

Ah, konyol! Apa arti seorang Glen yang pethakilan di mata Allah?

Glen menggelebak. Tungkai kanannya tak sengaja menendang toples kosong di atas meja hingga melompat dan nyungsep di sudut ruang. Suaranya bergelontang, ribut. Namun Glen tak peduli, termasuk untuk menyelamatkan belasan potong kue kering yang berhamburan mengotori karpet.

Aisyah … Aisyah!

Jujur, sudah lama Glen tidak sudi mengingat-ingat nama itu. Sumpah, ia benar-benar telah lupa sama sekali meski ia memang pernah kesengsem berat kepada teman sekelasnya waktu ia masih SMU di Banda Aceh itu. Saat Papa masih bertugas sebagai salah satu orang penting di provinsi tersebut. Namun kabar tentang bencana itu telah menyentakkannya.

Banda Aceh, kota yang pernah membesarkannya itu luluh lantak. Secara tak sengaja ia melihat sosok Cut Aisyah diwawancarai reporter sebuah TV swasta. Ia sebatang kara, ayah, ibu dan kedua saudaranya meninggal. Glen terpukul. Berhari-hari ia mengurung diri, mempelototi layar televisi, berharap Aisyah muncul kembali … namun harapnya tak menuai hasil.

Glen menghela napas, menghimpunnya dalam dada dan menghempaskan kuat-kuat. Bayangan Cut Aisyah, sosok manis yang idealis itu kembali bermain di screen mayanya, mata batin. Terakhir bertemu adalah ketika gadis itu diundang oleh sebuah unit kegiatan mahasiswa di kampusnya sebagai pembicara di sebuah seminar tentang keperempuanan. Ketika melihat pengumuman di pamflet, ia tak percaya bahwa Cut Aisyah yang disandingkan dengan nama seorang profesor—mewakili pembicara dari kalangan akademisi itu adalah sosok mungil yang dulu ia kejar mati-matian … lima tahun silam.

“Cut, Cut Ais!” panggilnya saat itu. “Lo Ais kan? Inget nggak sama gue?”

Aisyah memberi respon negatif. Ia memang menghentikan langkahnya dan menatapnya sekilas, namun ia tak nampak mengenalinya.

“Eh, jangan somse ya. Mentang-mentang udah jadi orang gedean. Gue Glen, teman Lo saat di SMU satu Banda Aceh, masak lupa?”

Sebenarnnya wajar saja jika Aisyah tak mengenalinya. Tampangnya saat itu—juga saat ini, benar-benar tak ada bedanya dengan preman. Dengan rambut gondrong bin jabrik ala Ruud Guulit, anting di kedua kuping, beberapa tatto, jeans belel plus jaket levis kumal … penampilannya benar-benar berantakan. Dulu ia memang juga telah brengsek, namun ia masih punya mood untuk merapikan penampilannya. Ia bahkan sempat nangkring di jajaran cowok yang mboys alias bertampang kiyut.

“Glen? Oh, mantan anak band di sekolah dulu, kan?”

Glen kecewa, ternyata hanya sebatas itu kenangan Aisyah tentang dia. Tentu ia lebih senang jika Aisyah mengingat beberapa romansa yang pernah sempat hendak mereka lalui. Setidaknya, jika Ais berkata, “Oh, Glen yang pernah kusemprot habis-habisan” atau “Glen yang pernah naksir aku tapi aku tolak” tentu lebih membuatnya merasa telah masuk dalam memorinya.

Aisyah… Aisyah! Malang nian nasibmu.

Keacuhan gadis Aceh yang ngetop di kalangan aktivis kampusnya itu terus terang membuatnya sedikit tersinggung. Namun take it easy wae-lah… apalah arti seorang gadis berkerudung yang sok macam dia. Toh ia tak pernah kesepian dengan cewek-cewek yang antri ia ajak berkencan. Salah satunya adalah yang kini resmi menjadi ceweknya, Jacklyn. Mereka kece-kece, jelita dan tentu saja… enak diajak jalan bareng. Nama Cut Aisyah pun seperti kapur barus yang menyublim menjadi gas yang segera saja lenyap dari hatinya.

Tetapi Aisyah kini muncul kembali, bersama sebuah tragedi dahsyat yang membuat siapa saja terpana dibuatnya. Musibah gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan dan menghancurkan sebuah generasi….

Sebuah pikiran tiba-tiba menyergapnya, membuat ia seketika terhentak dari kestatisannya. Ia pun meloncat dari sofa, meraih kemeja dan beranjak keluar.

####

“Apa?!” Papa terhenyak mendengar ucapan anak sulungnya barusan. “Kau serius, Glen?”

Glen mengangkat bahu. “Tentu saja!”

“Ah, mana Papa percaya sama ucapanmu. Anak seperti kau, yang ngatur diri sendiri saja belum bisa, yang kalau tidur saja masih ngompol, mau menikah? Haha…,” Papa tertawa keras. “Jangan beri Papa lelucon semacam itu, Glen. Kuliah saja belum kelar-kelar, duit masih nodong ortu … sudah pengin nikah? Mau kau kasih makan apa istrimu kelak?”

Nah, harga diri Glen menjadi terusik jika ada orang yang meragukan keseriusannya, meski orang itu adalah Papanya sendiri.

“Glen nggak main-main, Pa!”

“Apa kamu sudah bikin cewek bunting?” Sergap Papa, kasar. Membuat Glen terpaksa harus mengatupkan rahangnya kuat-kuat.

“Enggak, Pa!”

“Lalu?”

“Yeaah… Glen serius mau nikah! Bukan sekadar pengin, tapi memang sudah punya niat untuk itu. Niatan yang sangat kuat. Glen minta doa restu Papa….”

Pak Angga Saputra menatap sosok metal di depannya itu lekat-lekat. Suaranya berubah menjadi lunak. “Kalau kau memang serius, apa sudah kau pikirkan baik-baik segala sesuatunya? Misalnya soal nafkah….”

Glen agak tergeragap mendengar pertanyaan itu. “Glen memang belum kerja, Pa… tapi setelah ini, Glen akan berusaha mencari pekerjaan. Apa saja akan Glen lakukan demi mendapatkan sesuap nasi.”

Tawa Papa kembali meledak mendengar jawaban si sulung. “Gleen… Glen, siapa sih, cewek yang mau kau nikahi, kok kamu kelihatannya semangat sekali. Apa ia mau nikah sama orang berantakan sama kamu?”

“Papa kenal Cut Aisyah? Anaknya Tengku Burhanudin, teman Glen saat sekolah di SMU 1 Banda Aceh dulu?”

Wajah Papa spontan berubah. “Maksudmu… dia….”

“Belum tentu ia mau menerima lamaranku. Tetapi aku sungguh-sungguh serius ingin menjadikan dia sebagai istri. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menolongnya. Dia sebatangkara….”

“Dan pacar-pacarmu yang seabrek itu?”

“Masa bodoh… mereka bisanya hanya merengek dan merajuk. Aku tak akan memikirkannya.” Glen mengangkat wajahnya, mencoba menentang pandangan tajam sang Papa, “sekarang Glen mohon doa restu, besok Glen akan terbang ke Aceh, mencari bidadari Glen….”

Pak Angga Saputra hanya bisa termangu.

#####

Gadis itu… begitu menawan hatinya. Bukan, bukan karena kecantikan fisiknya, karena ia justru terlihat kumal dan letih. Bajunya yang menutup seluruh aurat berlepotan lumpur dan pasti bau keringat karena wajahnya juga tampak dikucuri cairan itu. Kulitnya juga terlihat lebih kelam, karena matahari ia biarkan memanggangnya tanpa katalisator. Beberapa jerawat yang muncul menandakan bahwa ia tak sempat merawat dirinya. Namun di balik kekusutan itu, terlukis sebuah optimisme yang luar biasa terpancar dari bening bola matanya.

Cut Aisyah, ia begitu bersemangat mengajari anak-anak Aceh yang sudah kehilangan segalanya itu. Ia bernyanyi, mengajak bergembira, melupakan sejenak kepedihan yang barusan meluluhlantakkan kehidupan mereka.

Betapa ia bangga memiliki calon istri seperti dia….

“Mencari Cut Aisyah?” tanya seorang lelaki berseragam relawan sebuah lembaga sosial. Glen mengangguk kuat-kuat.

“Betul! Itu kan dia?”

“Seorang perempuan muda yang penuh semangat. Ia kehilangan segalanya, kecuali semangat dan asanya. Dia berada di lokasi pengungsian ini nyaris tiap hari, padahal familinya di Jakarta hampir setiap hari pula membujuknya untuk meninggalkan daerah ini.”

Termasuk Papa, sahabat dekat ayah Aisyah. Ia pernah mengontak Aisyah, mengajaknya tinggal bersama keluarganya.

“Namun dengan tegas ia menolak! Ia mengatakan, tak akan meninggalkan buminya terluka begitu saja. Ia ingin menyembuhkan luka itu. Ia ingin membangkitkan harapan di hati penghuni Bumi Serambi Mekah ini. Ia ingin binar mata mereka kembali berseri-seri.” Ujar lelaki itu lagi.

Glen meraba rambutnya yang kini telah rapi. Dia memutuskan mengubah penampilan. Dia lepas antingnya. Memang ada bekas tindik di telinga, tapi pasti nanti akan hilang. Kini dia memakai baju rapi, kemeja dan jeans, untuk yang satu ini dia belum bisa menanggalkan, tapi dia kira tak mengapa bercelana jeans. Dia sering melihat aktivis Rohis juga bercelana jeans. Pelan Glen mendekati perempuan itu.

“Aisyah!”

Perempuan itu menoleh. Tampak terkejut melihat kehadiran Glen.

“Boleh aku membantumu menghibur anak-anak itu?”

Cut Aisyah masih terpana. Namun dia diam saja, termasuk saat Glen meraih gitar yang tergeletak di tenda, dan memetik senar-senarnya dengan semangat.

Allah hai do do da idang/ Panglima prang ka troh geureka

Aleh talo aleh pie meunang/ Ta jak berijang tasawe kanda

Doa sabe ke Rabbana/ Meunang beuna syahid mulia

Ureo malam Allah yang jaga/ bek syampoe syak keu po donya

panglima prang deuh panglima prang katroh geuwo

ngon raja nanggroe ngon raja nanggroe hate lam suka

Anak-anak pengungsi tertegun mendengar suara merdu Glen. Pelan-pelan mereka mengikuti syair lagu yang terenyaa telah mereka hafal itu. Tenda menjadi penuh kegembiraan. Sekilas, Glen melihat wajah Aisyah tampak cerah. Ketika Glen melempar senyum, perempuan itu membalas senyumnya.

Meski tak ada kata-kata terucap, dia yakin, Aisyah tidak akan menolak lamarannya. Dia akan memberikan salah satu mahar terbaik untuknya: mendampinginya di tenda pengungsian dan totalitas menjadi relawan.

Aisyah adalah bidadari untuknya.

Mengenang peristiwa Tsunami Aceh, 26 Desember 2004.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here